17
Mar

sehat dengan doa dan usaha

Teman-teman, Areta mau berbagi sedikit perbincangan via pesan singkat dengan seorang teman. Menurut saya, ini adalah sesuatu yang layak dibagikan agar semua pembaca mau merenungkan dan mengerti hal ini.

Temen : Panas banget. Gak ada tukang es nih.

Areta : Hehe… Tungguin aja. Gw sih gak suka es begituan. Banyak zat kimianya. Jadi gw minum madu yang udah masuk kulkas.

Temen : Es cuma ilangin dahaga. Kalo madu bisa menyehatkan badan.

Areta : Gak sehat. Emang ilang dahaganya, tapi bikin berat kerja ginjal.

Temen : Ginjal tuh harus dikasih kerja berat. Jangan dibiarkan malas-malasan. Kan jadi gak sehat.

Areta : Kalo menurut lu gitu, lu aja yang kayak gitu. Makan makanan yang pake pewarna, pengawet, perisa, pengental, pengembang, mecin, banyak-banyak. Terus liat aja apa yang terjadi pada lu waktu lu udah tua. Apakah lu sehat walafiat atau kanker ini itu, gagal ginjal, kolestrol tinggi, jantungan, stroke, bla bla bla…

Temen : Semua tu Tuhan yang menentukan. Kalo gw rajin ibadah dan dekat kepada-Nya, nantinya akan dijauhi dari penyakit yang lu absen tadi.

Areta : Apakah Tuhan memberi sesuatu kepadamu hanya dengan kamu meminta? Apakah kamu pantas mendapatkan sesuatu tanpa usaha? Apakah Tuhan adalah allah yang mengajarkan untuk bermalas-malasan dan untuk tidak berusaha karena segala sesuatu akan Ia beri asal kita meminta? Apakah itu adil?

Temen : Doa tu harus diiringi dengan usaha dan juga usaha harus baik dan bermanfaat.

Areta : Jadi, kenapa lu bilang lu bisa terus sehat asal lu berdoa terus? Kalo lu cuman berdoa tanpa berusaha untuk hidup sehat, apakah kesehatan itu pantes buat lu dapetin?

Temen : Tuhan kan Maha Kaya. Jadi kalo kita hidup hanya meminta, itu tidak apa-apa. Sebab kita makhluk yang serba kekurangan. Tapi iringi dengan sesuatu yang diperintahkan dan jauhi dengan sesuatu yag dilarang.

Areta : Menurut lu, merusak tubuh dengan mengonsumsi zat-zat berbahaya tidak dilarang?

Perbincangan putus di sana.

Komentar Areta:
1. Teman saya senang mengonsumsi makanan yang tidak baik bagi kesehatannya. Ia tahu itu salah, tetapi ia berusaha mencari pembenaran atas perbuatannya yang salah.

2. Teman saya tidak tahu bahwa otot polos (seperti otot organ-organ pencernaan, otot jantung, dan otot ginjal) tidak bisa diperlakukan sama dengan otot lurik (contoh: otot bisep dan trisep).

3. Teman saya masih memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan. Dalam kasus ini, ia lebih berpihak kepada agama karena lebih mudah. (FYI, orang-orang dengan pola pikir modern dapat melihat agama dan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang saling berkaitan, berintergrasi, dan bersatu-padu).
Demikian komentar saya. Saya juga mengharapkan komentar dari pembaca. Terima kasih.

06
Mar

esaiku

Inilah esai yang saya tulis berdasarkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dalam rangka memenuhi salah satu nilai pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Pemerataan Pendidikan Ditinjau dari Sarana-Prasarana Pendidikan dan Mutu Pengajar

Beberapa tahun terakhir, terjadi femomena tidak-lulus-massal dalam dunia pendidikan. Setiap tahunnya, ratusan ribu anak di tanah air tidak lulus Ujian Nasional. Setiap tahun, beberapa sekolah, bahkan beberapa daerah, mengalami tingkat kelulusan nol persen.

Menurut Media Indonesia, Senin, 9 Juni 2008, “Angka ketidaklulusan ujian nasional (UN) pada jenjang sekolah lanjutan atas (SMA, MA, SMK) pada tahun ini mencapai sekitar 11% -12% atau sekitar 250 ribu siswa dari 2.260.148 peserta Persentase ketidaklulusan tersebut lebih tinggi daripada tahun lalu yang mencapai sekitar 10%.”

Hal ini, di setiap pergantian tahun ajaran, dapat kita temukan di media-media massa, terutama televisi. Dalam satu hari, sebuah stasiun televisi bisa berkali-kali menayangkan berita serupa: ketidaklulusan para pelajar dari Ujian Nasional. Dalam berita-berita tersebut, dapat kita lihat bahwa masalah ketidaklulusan tersebut terjadi di banyak tempat, di banyak sekolah. Sebab, di setiap berita serupa, sekolah dan daerah yang diberitakan berbeda-beda. Berarti, stasiun televisi tidak mengulang apa yang telah diberitakan sebelumnya, tetapi melengkapi pemberitaan sebuah fenomena dalam dunia pendidikan dengan meliput dan memberitakan selengkap-lengkapnya kejadian tersebut.

Kendati demikian, ketika kita melirik ke kota-kota besar dan, terutama, ke sekolah-sekolah elit, tingkat kelulusan selalu berada di atas sembilan puluh persen. Bahkan, kelulusan dengan nilai tinggi pun sudah menjadi hal lumrah. Bahkan, tingkat kelulusan seratus persen dengan nilai mendekati sempurna selalu menjadi target di setiap tahun pelajaran. Justru, ketika didapati satu atau dua anak yang tidak lulus, hal ini menjadi masalah yang heboh dan besar. Sangat tidak lumrah.

Mengapakah kesenjangan yang demikian kentara bisa terjadi di Indonesia? Tidak lain karena pemerataan pendidikan di Indonesia masih belum berhasil. Memang, pemerintah telah mencanangkan berbagai cara, seperti transmigrasi (dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia di pelosok-pelosok tanah air), perbaikan sarana dan prasarana transportasi dan distribusi, dan guru perintis. Namun, kesadaran masyarakat dalam mendukung program pemerintah masih sangat memrihatinkan. Ini pula salah satu halangan bagi pemerintah untuk menyukseskan suatu kebijakan.

Tidak ratanya pendidikan di Indonesia terjadi dalam beberapa aspek. Pertama, mutu pengajar dan mutu pendidikan. Mutu pengajar dan mutu pendidikan ini saling berkaitan. Masalah ini bisa terjadi karena langkanya guru yang bersedia atau mampu mengajar di daerah-daerah terpencil di tanah air. Dari sedikit guru yang bersedia dan mampu mengajar di daerah-daerah terpencil tersebut, hanya sebagian kecil dari mereka yang memenuhi standar mutu pengajar yang cukup. Sebabnya, guru-guru yang bermutu lebih memilih untuk mengajar di kota karena gaji yang lebih besar dan tingkat kesulitan yang lebih kecil. Sementara, guru-guru yang mengajar di pelosok-pelosok kebanyakan adalah sukarelawan yang mayoritas tidak berpendidikan tinggi, sehingga yang materi-materi yang mereka sampaikan kepada murid-murid mereka pun hanya sedikit dan kurang mendalam.

Tidak itu saja, rendahnya mutu pendidikan di beberapa daerah juga terjadi karena pengangguran-pengangguran terselubung terselip di antara para pengajar. Artinya, banyak pengajar yang mengajar tidak sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Misalnya, seorang Sarjana Ekonomi terpaksa mengajar Olahraga karena hanya itu lapangan kerja yang tersedia baginya. Misalnya juga, seorang Sarjana Hukum harus mengajar Matematika karena tidak ada tenaga pengajar untuk pelajaran Matematika di lembaga pendidikan tersebut. Hal ini juga menyebabkan minimnya materi yang dapat disampaikan para pengajar kepada anak-anak didiknya.

Selain itu, ada pula masalah kekurangan tenaga pengajar menjadi penyebab tidak ratanya mutu pendidikan di Indonesia. Di beberapa daerah, terutama yang terpencil, lembaga pendidikan selalu kesulitan mencari pengajar. Selain karena tidak banyak guru yang bersedia tinggal dan mengajar di daerah terpencil, juga karena masyarakat sekitar pun tidak bisa membantu mengajar karena mereka sendiri minim pendidikan. Hal yang sama juga terjadi di Belitong, pulau yang menjadi latar tempat kisah Laskar Pelangi. Dalam cerita Laskar Pelangi, sebuah sekolah kampung, Muhammadiyah, hanya mempunyai dua orang pengajar yang salah satunya merangkap kepala sekolah.

Bahkan, di daerah seperti pelosok Pulau Kalimantan, terdapat Sekolah Dasar yang hanya memiliki satu tenaga pengajar yang mengajar kelas satu sampai enam Sekolah Dasar dan merangkap pula sebagai kepala sekolah. Kendati demikian, semangat mengajar guru tersebut, sama halnya dengan semangat mengajar Bu Mus dalam Laskar Pelangi, sungguh luar biasa. Dengan semangatnya itulah, sekolah yang begitu serba kekurangan pun bisa terus berjalan.

Selain mutu pendidikan dan mutu pengajar, tidak ratanya pendidikan di Indonesia juga terjadi pada sarana dan prasarana pendidikan. Dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, terdapat beberapa bab yang menjabarkan kesenjangan antara sekolah elit atau sekolah Gedong dan sekolah Muhammadiyah, sekolah kampung yang miskin, di Pulau Belitong. Padahal, kedua sekolah tersebut terdapat di daerah yang sama, tetapi kesenjangan di antara dua sekolah tersebut sungguh kentara.

Dalam novel Laskar Pelangi, dijelaskan secara khusus kesenjangan yang terjadi di Bab 8 Center of Excellence (halaman 55-58).

Hal serupa juga terjadi di beberapa daerah pelosok tanah air. Sekolah doyong yang atapnya berlubang, sekolah yang sudah miring dan sewaktu-waktu bisa ambruk, bahkan sekolah yang benar-benar ambruk dan menewaskan banyak siswa (beberapa kali, berita seperti ini muncul di televisi).

Tidak jarang, terdapat sekolah-sekolah di daerah terpencil yang gedungnya merupakan gedung bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Adapula sekolah-sekolah “liar” yang bahkan tidak punya gedung ataupun tempat khusus untuk melangsungkan kegiatan belajar-mengajar. Sekolah-sekolah seperti ini tidak diakui untuk mengikuti ujian-ujian formal yang diadakan pemerintah.

Umumnya, sekolah-sekolah di desa-desa mengalami kekurangan fasilitas seperti ini karena kesulitan ekonomi. Padahal, sarana-prasarana pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar dan penting untuk menjadi wadah untuk menampung daya kreativitas pelajar.

Dengan kekurangan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah-sekolah yang kurang mampu, kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah tersebut menjadi terhambat atau sulit dilangsungkan dengan maksimal. Hal ini menyebabkan pelajar-pelajar di sekolah-sekolah tersebut sulit melaksanakan kegiatan belajar yang kondusif, tidak tertampung daya kreativitasnya, dan terbatas dalam mengembangkan diri. Karena itulah, sekolah-sekolah yang kesulitan ekonomi tidak mampu menyeratakan diri, apalagi bersaing, dengan sekolah-sekolah elit, terutama yang berada di kota-kota besar.

Di sisi lain, di belahan tanah air di mana kita berpijak, kita dapat dengan jelas melihat sekolah-sekolah besar, elit, penuh fasilitas, dan didukung pengajar-pengajar profesional. Di sekolah-sekolah seperti ini, para pelajar diberi kesempatan untuk berkembang dalam berbagai bidang yang diminatinya. Para pelajar diberi kesempatan untuk mengembangkan ide, kreativitas, dan segala potensi diri yang dimilikinya. Juga, diberi kesempatan untuk memelajari berbagai bidang ilmu secara meluas dan mendalam dari pengajar-pengajar yang benar-benar ahli di bidangnya. Sungguh perbedaan yang sangat kentara jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang kekurangan biaya.

Padahal, dengan ketidakrataan mutu pendidikan di Indonesia, daerah-daerah tertentu menjadi lebih terbelakang dibanding daerah lain yang sudah modern. Selain menimbulkan kesenjangan dalam berbagai aspek, hal tersebut juga menyebabkan sulitnya pembangunan di daerah-daerah tertentu. Ini adalah salah satu alasan perlunya dilakukan pemerataan mutu pendidikan di Indonesia.

Jika hal seperti ini terus berlanjut, kelak pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang terbelakang akan sulit sekali bersaing maupun bekerja bersama dengan pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang mampu dan elit. Selain karena kapasitas keahlian, keterampilan, kepandaian, dan bekal pendidikan yang berbeda, juga karena pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang tidak terkenal dan terpencil akan mendapatkan perlakuan berbeda dari lembaga-lembaga yang menampung tenaga kerja karena lembaga-lembaga tersebut juga menilai kemampuan kerja seseorang berdasarkan mutu lembaga pendidikan yang pernah dimasukinya.

Dampak negatif permasalahan ini sesungguhnya sangat besar jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu, lagi-lagi, pembangunan Indonesia. Ketika sumber daya manusia-sumber daya manusia yang ada tidak dapat saling bekerja sama, berarti pembangunan yang tengah berjalan tidak akan mencapai titik maksimalnya. Maka, selain pembangunan menjadi lambat, juga hasilnya tidak mencukupi kebutuhan masyarakat.

Hal ini tentunya dapat menghambat Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara lain di dunia, serta membuat Indonesia semakin terbelakang jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Padahal, Indonesia, yang saat ini masih tergolong negara berkembang, juga sedang berusaha untuk mencapai tahap negara maju. Jika berbagai masalah pendidikan di Indonesia tidak segera diselesaikan, tentu menjadi negara maju masih akan tetap menjadi cita-cita muluk untuk jangka waktu yang sangat panjang ke depan.

Lalu, adakah yang dapat masyarakat lakukan dalam menghadapi masalah ini? Tentu ada. Cara yang paling mudah adalah dengan taat membayar pajak. Dengan demikian, masyarakat telah membantu meningkatkan pendapatan pemerintah, yang kemudian jug digunakan untuk menunjang pembangungan subsidi pemerintah. Selain itu, partisipasi aktif dalam beramal dan menyediakan diri sebagai sukarelawan juga akan sangat membantu.

Di SMAK 5 BPK Penabur, telah tersedia wadah untuk menampung bantuan bagi mereka yang membutuhkan biaya lebih untuk menunjang pendidikannya, yaitu program Sahabat Masa Depan. Secara rutin, pelajar SMAK 5 BPK Penabur bisa menyisihkan sebagian kecil uang jajannya untuk disumbangkan melalui Sahabat Masa Depan agar kemudian uang itu disumbangkan bagi sekolah yang membutuhkan biaya untuk menunjang kelangsungan kegiatan pendidikannya. Program ini, meskipun kelihatan kecil sekali partisipasinya jika dilihat dengan skala nasional, tetap telah turut membantu meratakan tingkat pendidikan di Indonesia.

Jadi, pemerataan pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih diperjuangkan. Keberhasilan usaha ini sangat tergantung pada kesadaran dan partisipasi masyarakat Indonesia. Jika usaha ini membuahkan hasil yang baik, niscaya pembangunan Indonesia di masa depan akan lebih tertunjang. Maka, sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus turut membantu pemerintah menyukseskan pemerataan pendidikan di Indonesia, bahkan dengan partisipasi terkecil sekalipun.

26
Feb

benci guru?

Guru, bukan pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mendapat gaji sebagai bayaran dari jasa mereka dan beberapa dari mereka menerima penghargaan karena keteladanan mereka. Cukup untuk membuat mereka tidak lagi disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, sesungguhnya, memang ada guru-guru yang sungguh-sungguh pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka adalah para sukarelawan yang mengajar tanpa mengharapkan upah. Jika Anda pernah membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Anda tentu tahu Ibu Muslimah. Ia adalah salah satu contoh yang tepat.

Akan tetapi, dalam tulisan ini, hal tersebut tidak menjadi topik. Bahkan, paragraf di atas adalah paragraf pembuka yang melenceng dari topik. Hampir tidak relevan. Mohon maaf atas kesalahan ini.

Saat ini, saya hendak membahas sebagian kecil sikap tidak hormat para pelajar kepada guru-gurunya. Hal ini lebih banyak terjadi di kota-kota besar. Entah karena para pelajar kurang menghargai kesempatan pendidikan atau karena pola asuh orang kota yang terlalu membebaskan anak.

Hal ini baru belakangan ini saya sadari terjadi di sekitar saya. Mungkin karena dulu saya sendiri adalah siswa yang tiada menaruh hormat kepada guru-gurunya. Setelah saya lebih mengenal mereka dan setelah bertobat dari kejahiliyahan, barulah saya sadar betapa mereka baik dan memang pantas dihormati (mohon maaf, bapak/ibu guruku). Setelah melepas peran pelaku antagonis, kini saya menjadi seorang pengamat. Sang pihak ketiga maha tahu.

Kalau kamu perhatikan, (mengutip kata-kata khas seorang guru Kimia) para pelajar biasa melancarkan kata-kata yang penuh kebencian kepada gurunya (dilakukan tanpa sepengetahuan sang guru) ketika sang guru memberi tugas, menghukum si pelajar, atau bahkan sekadar menasihati si pelajar. Bagi sang guru, hal tersebut tentu dilakukannya demi kebaikan si pelajar sendiri. Namun, bagi si pelajar, apa yang dilakukan guru tersebut adalah sesuatu yang menyebalkan dan menyusahkan. Beberapa guru yang tegas bahkan akan menjadi “musuh” murid-muridnya.

Sementara, beberapa guru (biasanya guru-guru muda) yang memberi toleransi tinggi, berbiacara dengan manis dan baik, serta akrab dengan siswa-siswi (mungkin karena jarak usia yang tidak jauh), akan menjadi guru kesayangan siswa-siswinya.

Masalah seperti ini, entah karena ketidaksadaran pelajar akan maksud sang guru atau karena kemampuan guru untuk berkomunikasi dengan murid-muridnya yang terbatas. Entahlah.

Dalam kasus-kasus tertentu, ada pula pelajar yang membenci semua guru. Kemungkinan karena cap negatif terhadap guru-guru yang telah tertanam pada dirinya sejak lama. Misalnya, jika seorang anak dicap “nakal” oleh gurunya sejak kecil dan sering mendapat hukuman, maka anak tersebut akan mengecap guru sebagai sosok “algojo”, sehingga anak tersebut menjadi sangat tidak menyukai figur guru.

Ada pula kasus-kasus tertentu di mana guru, secara berlebihan, menunjukkan sikap anti terhadap siswa-siswinya. Entah marah karena hal-hal kecil, selalu ketus tanpa alasan yang jelas, dan sebagainya. Hal ini membuat sang guru semakin dibenci murid-muridnya dan semakin diberontaki. Sungguh hubungan timbal-balik yang negatif.

Masalah ini dapat diselesaikan apabila murid dan guru bersama memperbaiki pola komunikasi mereka. Apabila sejak dini guru-guru mau memakai cara kendali sosial yang bisa diterima dengan baik oleh murid-muridnya, maka murid-murid tidak akan membenci guru-gurunya. Juga, apabila murid-murid mau mendengarkan (benar-benar mendengarkan) guru-gurunya, murid-murid akan menyadari betapa guru-guru mempunyai maksud yang sangat baik bagi mereka (bukan sekadar cerewet).

Jadi, begitulah.

22
Jan

bersiaplah

Pesan moral: bersiaplah menjadi kaya ketika miskin dan bersiaplah menjadi miskin ketika kaya.

Astaga, belum apa-apa sudah berpesan moral.

Teman, kembali lagi saya menulis di blog saya yang senantiasa berbahasa baku ini. Setelah sekian kali menulis di Facebook yang penuh bahasa gaul. Untung saya tidak lantas jadi kagok berbahasa baku.

Oh iya, asal usul pesan moral tersebut adalah begini…

Belakangan ini, saya sedang mengalami krisis keuangan. Uang jajan saya menurun 30% minggu lalu, kemudian menurun 50% lagi minggu ini dibanding minggu lalu. Penyebabnya banyak. Nenek dari pihak ayah selesai menjalani operasi kanker usus di Penang, Malaysia, bulan lalu dan kini sedang dalam masa kemoterapi, sehingga tiap tiga minggu sekali ia harus menginap sekitar satu minggu di Penang. Sementara, ayah sendiri sedang bergumul dengan kolestrol tinggi dan darah tinggi. Menyusul nenek dari pihak ibu yang dua bulan terakhir menjalani terapi untuk memulihkan dirinya dari rematik yang membuatnya tidak bisa berjalan dan dementia atau penurunan daya ingat (istilah seramnya, alzeimer). Saat ini, ibunya ibu sudah bisa berjalan agak cepat dan daya ingatnya sudah jauh lebih baik, tetapi terapinya belum tuntas. Tidak ketinggalan, adik saya telah diterima masuk ke SMAK 5 BPK Penabur dengan grade B dan harus membayar uang pangkal berkepala dua berdigit tujuh. Tidak lupa, negara kita sedang mengalami inflasi.

Agaknya, semua keperluan kesehatan ini memberatkan kas keluarga.

Kemudian, sejenak muncul rentetan kejadian tidak mengenakan mengenai masalah keuangan yang agaknya kurang baik disebutkan di sini.

Karenanya, baying-bayang akan menjadi “miskin” dan hidup susah berputar-putar dalam kepala. Sebentar, saya takut. Namun, cepat saya teringat akan Tuhan yang selalu mencukupkan segala kebutuhan. Teringat bahwa segala harta adalah titipan darinya untuk dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Jadi, takut apa?

Lalu, saya merenung lagi. Dalam hidup saya, saya sudah pernah melewati tahap kritis. Saat-saat di mana saya harus bersekolah di Medan, tinggal dengan nenek dan kakek dari pihak ayah karena orang tua saya pontang-panting menafkai keluarga sampai tidak ada waktu untuk mengurus saya. Kemudian, saat krisis moneter. Ayah di-PHK, lalu berjualan beras. Sebagai anak kecil, sungguh susah macam apa pun tak terasa. Yang ada dalam ingatan saya justru asiknya duduk di atas tumpukan-tumpukan beras. Tidak lupa, mobil butut yang mogok kala hujan dan wiper-nya patah. Astaga. Semuanya malah membuat saya tersenyum-senyum kecil.

Orang tua saya tentu jauh lebih “baja”. Harus bekerja sejak kecil, makan nasi putih dengan sebutir telur goreng dibagi untuk delapan orang, tinggal di rumah beratap dan bertembok seng, dan banyak lagi. Mereka sering tertawa saat menceritakan semua itu.

Mengingat semua itu, saya jadi berani. Saya melihat betapa Tuhan benar-benar memelihara kita, dalam keadaan apapun. Semua Ia cukupkan.

Pesan moral yang saya pampangkan di atas lebih bersifat duniawi. Saya akan jelaskan.

Hidup kita beralur naik dan turun. Kata orang, berputar. Kata saya, membentuk kurva trigonometri. Maka, segala keadaan kita sekarang tidaklah tetap. Suatu saat akan berubah. Maka, ketika kita sedang di bawah, kita harus ingat bahwa akan ada saatnya kita naik (dan ini haruslah menyemangati kita) dan ketika kita sedang di atas, kita harus ingat bahwa suatu saat kita juga akan jatuh (maka, rendah hatilah).

Dengan demikian, orang kaya harus mempersiapkan dirinya untuk jatuh miskin. Menjadi bijak mengatur waktu dan uang, tidak memanjakan diri secara berlebihan, membantu orang lain selagi masih ada kesempatan, mempersiapkan mentalnya. Maka, ketika ia harus jatuh, ia telah siap dan tidak akan merasa terlalu sakit. Percaya atau tidak, ayah saya melakukan hal yang sama. Ia menjauhkan anak-anaknya dari gaya hidup anak kota yang manja. Ia ingin anak-anaknya mampu beradaptasi dalam keadaan paling susah sekalipun.

Di lain pihak, orang miskin pun perlu menyiapkan dirinya untuk menanjak menjadi kaya. Ia harus memupuk kepercayaan dirinya. Apalagi kemiskinan bukan dosa, sehingga tidak perlu malu karenanya. Juga, ia harus melatih sikap dan cara bicaranya. Dengan demikian, ketika ia telah naik, ia tidak tampak udik. Ia pun harus belajar banyak agar tetap bijak di kala sedang naik. Begitu jauh lebih baik daripada beranggapan bahwa nasib sudah menetapkannya sebagai orang miskin, sehingga tiada jalan baginya untuk maju, sehingga ia menyia-nyiakan waktu untuk berpangku tangan.

Jadi, demikianlah. Keren ya, pesan moral dari saya. Patut dijadikan kutipan.

29
Dec

berbeda tidak sama

Teman, akhir-akhir ini, dikarenakan sebuah diskusi kecil via SMS dengan seorang teman, saya merenung-renungkan sesuatu.

Saat itu, saya mengirimkan kepadanya ucapan selamat Natal. Sebenarnya, saya mengirimkannya kepada semua kontak saya. Kristen maupun non-Kristen. Sebab, yang ada dalam pikiran saya adalah imej Natal sebagai hari raya yang universal. Orang Kristen merayakannya sebagai peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, sementara yang non-Kristen merayakannya sebagai hari libur, hari berbelanja (karena SALE di mana-mana), dan hari tukar kado.

Dikarenakan pikiran saya yang begitu rupa, saya mengucapkan selamat Natal kepada semua orang yang saya kenal. Rupanya, di antara mereka semua, salah satu mendamprat saya dengan kalimat “emangnya gue orang Kristiani?!”. Awalnya, otak tulalit saya tersasar ke bayangan wajah seorang teman saya yang bernama Christiani, tetapi ia cepat sadar bahwa yang dimaksud orang itu adalah bahwa dirinya bukan orang beragama Kristen.

Dengan congkak, saya membela diri bahwa orang-orang berpola pikir modern mengerti tenggang rasa dan ikut berselamat-selamatan di segala hari raya. Bahwa hari raya tertentu tidak menjadi HANYA milik golongan tertentu (ini pandangan yang sangat basi). Bahwa orang Kristen boleh mengucapkan selamat Lebaran kepada Muslim dan turut merayakannya dengan makan ketupat bersama teman-teman Muslimnya (saya benar-benar melakukannya), sebaliknya Muslim boleh menyampaikan selamat Natal bagi orang Kristen meskipun masih haram bagi mereka untuk turut merayakannya. Sampai di situ, kontak kita putus karena ia tidak pernah membalas argumen saya.

Esok harinya, saya ber-SMS ria dengan seorang teman Muslim. Saya dengan penuh kesadaran menanyakan “lu natalan gak?”. Jawabnya “gak. Gue kan muslim”. Setelahnya, kami jadi berdiskusi kecil tentang tenggang rasa. Di tengah diskusi, ia menyatakan bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan karena kita sama saja. Jelas, pernyataan ini saya tentang sepenuh hati.

Ingatan saya kemudian terlempar ke tahun lalu, ketika sekolah saya memberi tugas kepada murid-muridnya untuk membentuk kelompok dan kemudian menulis sebuah buku biografi tentang seseorang dari golongan marjinal. Sebelum mendapatkan Mbak Laela, seorang cleaner di Mal Artha Gading, kami sempat mencoba dengan Pak Ujang, seorang pengamen yang sering mangkal di tugu timur Kelapa Gading.

Ketika itu, Pak Ujang agak bingung dengan kedatangan dan keramahan kami, sementara kami pun canggung menghadapinya. Saat itu, salah seorang teman kami yang duduk tepat di sebelah Pak Ujang ditanyai oleh Pak Ujang “kalian Cina ya?”. Dengan gaya santai yang dibuat-buat, teman saya menyatakan jawaban yang tidak relevan, “Ah, nggak. Kita semua sama aja kok. Sama-sama makan nasi.” Saya harus sekuat tenaga menahan tawa ketika diceritakan hal tersebut (sebab saat hal tersebut sedang berlangsung, saya tidak mendengarnya).

Teman, Tuhan menciptakan kita semua berbeda adanya. Ia Maha Kreatif. Jika memang Ia menciptakan kita semua unik dan berbeda, mengapa kita saling membandingkan dan mempersamakan diri?

Teman, Bhineka Tunggal Ika berarti BERBEDA-BEDA tetapi satu.

Apa artinya? Artinya, tidak ada alasan bagi kita untuk menyangkal perbedaan untuk dapat bersatu. Tanpa menyangkal perbedaan, kita dapat bersatu. Dengan menghargai perbedaan, menghormati yang berbeda, bertenggang rasa, kita bersatu tanpa menyangkal perbedaan.

Persatuan dengan menyangkal perbedaan itu salah adanya dan tidak awet, sebab jika begitu yang kira praktikkan, maka kita sedang menyangkal kebenaran, membohongi diri sendiri. Kenyataannya, kita semua memang berbeda adanya. Ketika akal kita telah bosan dibohongi, bukankah kita akan kembali memusuhi yang berbeda?

Maka, haruslah perbedaan itu kita terima dan kita cintai. Paling tidak, agar kita dapat jujur terhadap diri sendiri. Jujur bahwa kita semua berbeda adanya, bahwa perbedaan itu kita terima dan kita cintai, bahwa perbedaan itu membuat kita saling membutuhkan dan saling melengkapi, bahwa perbedaan itu mendukung kita untuk bersatu.

Indonesia bersatu!

29
Dec

koma

Wah, sudah lama tidak meng-update blog! Jadi bau busuk blog basi ini!

Sebelum mengepos cerita-cerita baru, saya akan terlebih dahulu mengungkit-ungkit cerita basi yang belum sempat termuat di sini.

Salah satunya terjadi pasca ujian sekolah. Saat itu, saya sedang dikejar-kejar deadline majalah gereja. Majalah komisi remaja yang diberi julukan KOMA (singkatan dari Komisi Remaja) dengan subtitle Media Komunikasi Remaja AGAPE.

Saat itu, saya tengah dilanda kepanikan karena setelah tiga minggu merenungkan cover untuk tema “Buah Roh” dan “Keselamatan” (tema bulan November dan Desember), saya belum juga menemukan suatu gambaran atas dua tema abstrak tersebut.

Akhirnya, cover-nya hanya putih. Namun, putih itu mewakili dua tema di atas. Berikut penjelasan yang juga saya muat dalam KOMA sebagai cover story.

Dear KOMAners,

Gue tau, cover KOMA kali ini agak abnormal. Makanya, gue merasa perlu membela diri kalo dituduh “males bikin cover”.

Sebenarnya, ngerjain cover tuh penuh perjuangan, eh, pergumulan banget. Salah-salah, bisa dituduh sesat, trus dirajam massa.

Nah, untuk cover edisi ini, pergumulannya paling berat. Liat aja temanya: Buah Roh dan Keselamatan! Gak mungkin kan gambar buah-buahan? Trus, gambarnya keselamatan tuh kayak gimana? Ilustrasinya pun gak kepikiran kayak apa!

Akhirnya, setelah perjalanan putar-putar di labirin otak, gue memutuskan untuk bikin cover putih doank. Ingat, bukan karna males!

Putih tuh lambang dari kesucian. Untuk diselamatkan, Yesus telah berkorban menebus dosa kita biar kita putih bersih lagi. Dengan begitu, kita dilayakkan menghuni sorga.

Tapi, dari generasi ke generasi, edisi ke edisi, cover KOMA kan selalu pake maskot DOMBA?! Tenang saja… Cover yang ini juga pake domba. Cuman, di-zoom terlalu deket. Jadi keliatan bulunya doank: putih.

Jadi, begitu ceritanya, KOMAners…

Mohon maaf lahir dan batin yah kalo mengecewakan.

Dengan pembelaan konyol semacam itu, saya merasa cover putih polos telah sah dan baik adanya.

Kendala kembali terjadi saat proses percetakan. Waktu menunjukkan jam lima sore ketika saya telah sampai di tempat penyedia jasa fotokopi yang merangkap tempat percetakan. Saat itu hujan, sehingga saya harus naik mobil untuk sampai ke sana. Di dalam mobil, turut serta oma dan pembantu saya yang bertujuan lain.

Setelah menyerahkan tugas percetakan kepada salah satu staf di sana, saya pun berangkat menuju tempat tujuan oma dan pembantu saya. Sebuah mal di mana di dalamnya ada sebuah tempat yang menyediakan fasilitas dan jasa terapi listrik. Hal tersebut diperlukan oleh oma saya yang sakit rematik di kakinya.

Sambil belanja, saya menunggu oma saya. Setelah belanja, jam menunjukkan pukul enam petang hari. Saya teringat hasil percetakan yang harus saya ambil. Maka, saya tanyakan kepada pembantu saya yang saat itu saya kira lebih tahu, “pho-pho (bahasa Cina: oma dari pihak ibu) masih lama gak?”. “Bentar lagi,” jawabnya. Maka, saya memutuskan untuk menunggu sambil baca buku.

Tak terasa, satu bab sudah terbaca sambil menunggu. Saya melirik jam dan terkejut. Pukul tujuh malam! Sementara tempat fotokopi dan percetakan itu tutup enam tiga puluh!

Setelah segala kepanikan dan proses rumit, saya sampai di tempat fotokopian itu. Memang sudah tutup. Saya meminta sopir saya untuk mengantar pulang dahulu oma dan pembantu saya pulang, kemudian ia harus kembali lagi ke sana untuk menjemput saya.

Saya putus asa, duduk tercenung di teras tempat itu. Tak lama, beberapa perempuan Jawa (saya tahu karena mereka berdialog dalam bahasa Jawa) lewat membawa makanan dan masuk ke tempat itu melalui pintu lain. Sejenak, salah satu dari mereka melirik ke saya. Saya ingat wajahnya, tetapi tidak ingat kapan dan di mana ketemu (ia adalah staf yang saya serahi tugas mencetak KOMA). Maka, saya mengalihkan pandangan saya ke tempat lain. Pengalihan pandangan saya itu rupanya berarti sesuatu bagi perempuan itu. Ia langsung berguman, “kirain mau ngambil majalah.”

Gumamannya tentu membuat duduk saya tertegak dan saya menoleh cepat kepadanya dan berkata “emang”. Matanya membulat besar dan mulutnya menganga. Tak lama, ia merespon, “tak kira gak dateng! ‘Kan tadi adek bilang mau diambil jam setengah tujuh!”. Saya tersenyum lebar, menemukan harapan.

Dengan cepat, ia menjelaskan bahwa toko (maksudnya tempat fotokopi dan mencetak itu) telah dikunci, sehingga kami tidak dapat mengakses ke dalam. Dengan repot-repot, ia dan seorang temannya mengantarkan saya ke rumah pemilik toko yang tidak jauh dari toko tersebut.

Sayangnya, sang pemilik toko telah beranjak untuk berakhir pekan. Meskipun demikian, staf toko memberikan kepada saya nomor telepon genggam pemilik toko tersebut untuk saya hubungi. Setelah saya hubungi, kami sepakat bahwa esok paginya, ia akan mengambilkan majalah-majalah KOMA untuk saya ambil. Dengan demikian, selesai sudah masalah ini.

Masalah lain datang ketika KOMA terbit. Para pembaca memprotes keadaan cover yang putih polos. Namun, mereka bisa menerima setelah membaca cover story.

Namun, malam harinya, saya mendapat pesan singkat dari pemimpin redaksi bahwa redaktur pendahulu menyatakan bahwa cover KOMA tidak diperbolehkan tanpa gambar. Diikuti dengan saran bahwa apabila saya tidak mendapat ide, saya boleh mendiskusikannya dengan para redaktur lain. Dengan perasaan tersinggung karena merasa diremehkan begitu, saya meminta nomor telepon genggam si pendahulu.

Setelah saya hubungi, rupanya ia tidak menyatakan pelecehan semacam yang di atas itu. Ia menyatakan bahwa cover kontroversial tersebut menimbulkan masalah karena tidak semua redaktur tahu maksud dari cover tersebut, sehingga ketika jemaat lain menanyakannya, mereka hanya bisa bertidak tahu dan hal tersebut dari berbagai sudut dipandang tidak baik adanya.

Lihatlah betapa jauh informasi bisa berubah jika telah melewati terlalu banyak perantara.

Ah, demikian saja.

29
Dec

tinggal dalam

Prolog

Live In secara harafiah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “tinggal di dalam”. Live In dalam konteks tulisan ini tidak lagi berperan sebagai semacam kata asing, sehingga bisa ditulis tanpa cetak miring menjadi Live In. Dalam tulisan ini, Live In adalah kegiatan rutin SMAK 5 BPK Penabur yang diadakan tiap tahun selama enam tahun terakhir.

Live In adalah kegiatan di mana siswa-siswi kelas XII SMAK 5 BPK Penabur bersama-sama tinggal selama beberapa hari di desa-desa terpilih untuk mempelajari semua yang bisa dipelajari dari dan dalam kegiatan tersebut. Desa-desa terpilih tersebut adalah desa Cuntel dan desa Ngaduman. Keduanya terletak di cela-cela kecil provinsi Jawa Tengah. Sementara, pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan tersebut sungguh banyak tak terbatas. Kesederhanaan, persatuan, tenggang rasa, kebersamaan, dan banyak lagi.

Kegiatan Live In pada tahun pelajaran 2008-2009 diselenggarakan sejak tanggal 10-23 November 2008 dengan judul Live, Laugh, Love: Susah Senang Sama-sama.

Berikut adalah catatan harian saya selama mengikuti kegiatan Live In.

I. Persiapan

Beberapa bulan sebelum Live In dilaksanakan, warga kelas XII S-1 dan XII A-3, yang terpilih sebagai panitia Live In, telah terlebih dahulu kalang-kabut mempersiapkan kegiatan ini. Berbagai rapat panitia inti dan panitia-panitia kecil dilaksanakan. Berbagai hal yang harus dibicarakan, diungkapkan, dan dipersiapkan, telah diaspirasikan dalam rapat-rapat tersebut. Beberapa guru bahkan menjadi tidak senang karena di jam pelajarannya kelas menjadi begitu sepi sebagian besar warganya sedang mengikuti rapat.

Tahap persiapan ini menyenangkan dan tidak menyenangkan secara tidak merata. Maksudnya, dalam tahap ini, tidak semua anak dapat terlibat dan tidak semua anak tertampung aspirasinya. Juga, tidak semua anak mendapatkan pekerjaan yang cukup, sementara beberapa anak mendominasi segala pekerjaan, bahkan sampai pekerjaan-pekerjaan terkecil. Namun, kelak semua akan ikut hanyut dalam kenikmatan bekerja ketika hari Live In itu tiba.

Semakin dekat tanggal main, seluruh panitia semakin sibuk. Kelas-kelas non-panitia pun turut sibuk. Dari sibuk mempersiapkan diri sampai sibuk menggerecoki panitia. Di tengah hingar-bingar kesibukan tersebut, datang beberapa kabar sulit. Semuanya berhubungan dengan bentroknya kegiatan Live In dengan hal-hal lain yang penting dan harus diselenggarakan. Pertama, tes saringan masuk beberapa universitas. Kedua, ujian try-out pemerintah.

Yang pertama, tes saringan masuk beberapa universitas, berhasil diselesaikan dengan diskusi dan kompromi dengan universitas-universitas yang bersangkutan. Universitas-universitas tersebut bersedia memberikan berbagai kompensasi bagi murid-murid SMAK 5 BPK Penabur yang harus mengikuti kegiatan Live In. Namun, ada pula universitas yang tidak demikian. Untuk itu, sekolah berinisiatif memberikan kompensasi tersebut dengan mengizinkan siswa-siswi yang berkepentingan untuk pulang lebih awal.

Yang kedua, ujian try-out pemerintah. Sebelum menjabarkan solusinya, perlu diketahui bahwa kelas-kelas IPA dan IPS tidak berangkat bersamaan untuk Live In. Kelas-kelas IPS menjadi prionir sejak tanggal 10 -16 November 2008. Sementara, kelas-kelas IPA menyusul tanggal 16-23 November 2008. Maka, try-out bagi kelas-kelas IPS dan IPA dilaksanakan di waktu yang berbeda. Kelas-kelas IPS mengikuti try-out tanggal 18-20 November 2008, sedangkan kelas-kelas IPA mengikutinya tanggal 24-26 November 2008 (kalau tidak salah).

Demikian, segalanya telah beres, kami mempersiapkan keberangkatan. Kami, para panitia, mempersiapkan dan mempelajari bersama yel-yel dan lagu-lagu yang akan digunakan selama Live In. Tidak lupa, kami juga mengatur warna baju yang akan kami kenakan setiap harinya selama mengikuti kegiatan Live In.

Antara tidak sabar dan gugup, kami menanti-nantikan hari dilaksanakannya Live In.

II. Keberangkatan

Seangkatan XII IPS SMAK 5 BPK Penabur berkumpul di lobi SMAK 5 BPK Penabur. Briefing. Sebagai panitia seksi (publikasi)/dokumentasi yang baik, adegan semembosankan ini pun harus saya rekam dengan penuh kesabaran.

Tak lama, siswa-siswi telah beranjak dari lobi dan memenuhi 3 bis yang disediakan sebagai alat transportasi kami. 3 bis untuk 3 kelas. Bis 1 untuk XII S-1 (panitia), bis 2 untuk XII S-2, dan bis 3 untuk XII S-3.

Setelah segala basa-basi (absen, briefing tambahan), bus pun mengeluarkan nafas berat-berat, lalu mulai melaju.

Berjam-jam di dalam bus, kaki pegal ditekuk, bahu dan leher pun pegal. Tidak lupa, kami kedinginan karena bis full AC yang benar-benar full of AC, sehingga mirip kulkas berjalan. Berkali-kali berhenti di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) demi toiletnya. Dua kali berhenti untuk makan. Kemudian, sampai di sebuah wisma bernama Sabda Mulia. Beristirahat, membersihkan diri, makan, mendengarkan kata sambutan dari seorang pria paruh baya, kemudian berangkat lagi.

Dari sana, kami berangkat ke pasar Kopeng untuk transit. Dari Kopeng, dengan angkutan umum setempat, kami berangkat ke desa masing-masing. Di sini, kami yang berdesa di Cuntel berpisah dengan yang berdesa di Ngaduman. Saya sendiri akan menjadi calon penghuni desa Ngaduman.

Rupanya, di Ngaduman sedang terjadi pembangunan jalan yang menyebabkan angkutan umum kami tidak dapat masuk lebih jauh ke tempat di mana kami harusnya diturunkan. Maka, di tengah jalan, kami turun, berjalan beberapa langkah, bertemu mobil pick-up yang akhirnya turut andil menjadi alat transportasi bagi kami. Naik mobil pick-up beramai-ramai di jalan yang terus-menerus menanjak sungguh menyenangkan. Seru.

Di sepanjang jalan, kami ditatapi oleh penduduk setempat. Awalnya, kami merasa aneh karenanya. Namun, kemudian saya berinisiatif untuk melambai-lambaikan tangan kepada penduduk. Rupanya, penduduk menyambut lambaian tangan tersebut dengan baik. Mereka melambai balik dengan senyum ramah. Karenanya, seisi mobil menjadi turut melambai-lambai setiap berpapasan dengan penduduk setempat.

Kami diantarkan sampai pusat kota Ngaduman; sebuah gereja. Di sana, kami turun, mengungsikan barang-barang bawaan kami ke dalam gereja, lalu minum teh dan makan cemilan di rumah penduduk yang berada tepat di sebelah gereja. Rupanya, rumah tersebut adalah milik arsitek gereja tersebut. Kami menunggu mobil-mobil pick-up berikutnya yang mengangkut teman-teman kami. Seluruhnya ada empat mobil.

Setelah benar-benar menginjakkan kaki di sana, saya baru merasakan apa yang telah disampaikan kakak-kakak pembimbing sebelumnya: suhu rata-rata 14 derajat Celcius, tidak ada sinyal untuk ponsel saya, dan kabut di mana-mana. Yah, desa tersebut terletak di ketinggian 1600-1800 meter di atas permukaan laut. Secara vertikal dan horizontal sangat jauh dari Jakarta.

III. Tinggal

Ngaduman, 11 November 2008.

Setelah seluruh siswa calon penghuni baru Ngaduman tiba dan berkumpul di gereja dan penduduk setempat pun berkumpul di sana, acara pertama pun dimulai. Sambutan, pembukaan, dan pembagian rumah.

Saya serumah dengan teman saya yang bernama Melisa Lestari. Selama empat hari tiga malam, kami akan tinggal bersama keluarga angkat kami yang terdiri dari Bapak Sutrisno, Ibu Lasmini, dan anak mereka, Yoga, yang baru menginjak kelas 2 SD.

Rumah kami sangat sedehana. Berdinding kayu dan berlantai tanah. Sangat alami. Tanpa bau kimia. Perabotan sederhana seadanya, tetapi bernilai guna tinggi karena segala yang ada di sana dimanfaatkan secara maksimal. Mereka tidak membeli barang-barang yang tidak akan dipakai seperti orang-orang kota yang berbelanja karena kegatalan mata.

Sampai di rumah, kami disambut dengan sangat ramah. Empat toples makanan ringan berjejer di atas meja tamu, diperuntukkan untuk kami berdua. Dua gelas teh manis hangat langsung tersedia bagi kami.

Selanjutnya, Ayah dan Ibu angkat kami memberitahu di mana kamar kami, di mana kamar mandi (yang ternyata ada di luar rumah), di mana dapur, di mana mengambil makanan dan minuman, dan bahwa kami boleh menyedu teh sendiri.

*

Di jalanan, ayam-ayam berkeliaran, mematuki apapun yang bisa dimakan dan muat dalam paruh mereka. Di kandang dalam rumah, dua sapi berumur dua bulan dengan ukuran yang mengejutkan (bayangkan ukurannya ketika dewasa nanti) mengunyahi bubur rumput lezat buatan Ibu Lasmini. Menurut Ibu Lasmini, ketika sapi-sapi tersebut sudah dewasa, berat daging nettonya mencapai tiga kwintal per ekor. Seekor kambing tak mau kalah, melompat-lompat meminta perhatian dalam kandangnya. Ia baru berhenti ketika sejumput besar rumput kering tersaji di depannya. Dari berbagai jenis tumbuhan yang disebut-sebut Ibu Lasmini sebagai makanan ternak, hanya alang-alang yang bisa saya ingat.

Usai dari kandang, kami menuju ke dapur bersama-sama. Di sana, kami bercengkrama dengan orang tua baru kami. Di tengah kami, sebuah tungku batu yang mulutnya berisi kayu bakar yang menyala-nyala oleh api. Api menjilati pantat kuali besar yang berisi makanan ternak. Sambil mengakrabkan diri, kami menghangatkan diri.

*

Malam hari, kami tidur dengan nyenyak meskipun kedinginan. Resep anti dingin saya adalah: segelas sari jahe (saya dapatkan dari K-Mart di kilometer 57 tempat bis kami pertama kali berhenti untuk kepentingan perut keroncongan-dangdutan kami), baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki tebal, sarung tangan tebal, sarung, selimut tebal (disediakan oleh tuan rumah yang baik). Yah, semua itu masih kurang manjur.

Pesan moral: tengoklah keluar sangkarmu, lihatlah bentuk kehidupan lain, terkagum dan bersyukurlah.

***

Ngaduman, 12 November 2008.

Hari ini, saya mendapatkan giliran mengajar di SDN 01 Kamel bersama teman-teman sukarelawan lain. Saya dan seorang teman saya, Kevin, kebagian mengajar kelas 4 SD. Kami semua mengajar bahasa Inggris. Karena mengajar, saya kehilangan kesempatan satu kali meladang bersama Ayah dan Ibu. Namun, mengajar juga merupakan sebuah kesempatan yang tidak mungkin saya lewatkan.

Bagaimana tidak? Anak-anak sungguh antusias. Rupanya, banyak juga kosakata yang telah mereka kuasai sebelum kami mengajarkannya, Semangat belajar mereka luar biasa. Dua jam penuh untuk satu mata pelajaran dan mereka antusias secara statis sampai akhir. Mereka pun tidak nakal, tidak menyeletuk tidak pantas, dan mereka mendengarkan kami dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya, jumlah mereka sangat minim. Hanya 6-10 anak dalam satu kelas. Di kelas 4 SD, dari 10 anak hanya ada 1 perempuan. Padahal, sekolah tersebut dibuka bagi tiga desa.

Selain itu, saya juga menyesali diri saya yang belum cukup menguasai bahasa Inggris. Rupanya, Kevin pun sama-sama minim kosakata. Maka, ketika anak-anak menanyakan bahasa Inggris dari ubi jalar, kami belum bisa menjawab “sweet potato”. Juga banyak kosakata lain yang sampai sekarang masih belum saya ketahui.

Pesan moral: Pelajarilah materi baik-baik sebelum mengajarkannya kepada orang lain.

*

Di sore hari, ketika bosan menganggur di kamar yang kurang penerangan untuk membaca buku, saya beranjak ke dapur bersama Melisa. Di sana, kami dapati Ibu sedang mengupas bawang. Tanpa basa-basi, saya langsung meraih sebutir bawang merah dan mengupasnya. Tak lama, Ibu memberikan sebilah pisau bagi saya untuk menjadi alat bantu.

Setelahnya, kami bersama-sama merenungi kompor batu berkayu bakar yang tengah menyala garang. Di atasnya, kuali ceper kecil memuat sup ayam yang kuning karena berbumbu kunyit.

Tak lama, Melisa bangkit dan berjalan ke arah pintu belakang yang memang berada di dapur. Pintu tersebut terdiri dari dua bagian, atas dan bawah, masing-masing separuh. Saat itu, bagian ataslah yang terbuka.

Rupanya, di antara kami bertiga, hanya Melisa yang menyadari rerintik hujan halus di luar. Mungkin karena saya dan Ibu lebih terfokus pada gemerutuk kayu bakar. Kami berdua bangkit menyusul Melisa. Kami melihat pemandangan tertutup kabut, tetapi masih samar-samar terlihat.

“Itu di sana rumah kentang,” kata Ibu sambil menunjuk sebuah bangunan kayu-anyaman kecil. Ia bercerita bahwa akhir tahun lalu, saat musim hujan, pernah ada bagai yang merobohkan rumah itu, sehingga rumah itu harus dibangun lagi dari awal. Ia membalut cerita susah itu dalam tawa. Saya bahkan tak sanggup untuk sekedar tertawa palsu untuk membalas tawanya. Saya hanya sanggup bergelengan kepala sambil berdecak-decak sambil menahan miris dalam hati.

*

Malam hari, ketika sedang tidur-tiduran di kamar, saya meraba-raba perut saya. Saya terkejut. Perut saya membesar. Perkiraan saya, lingkar perut saya bertambah 3-4 cm. Setelah merenung-renung, saya menyadari betapa saya makan terlalu banyak dan menganggur terlalu sering. Pasti karena Ibu pandai memasak dan rajin bekerja. Tidak ada pekerjaan yang tersisa bagi saya. Yang ada hanya makanan enak berlimpah. Saya kemudian mengingat-ingat apa saja yang telah saya makan hari ini.

Pagi: nasi goreng, telor ceplok, tempe goreng, kerupuk. Pagi menjelang siang: perkedel, ubi manis super enak digoreng nikmat. Siang: sekotak besar nasi, sayur, perkedel, ayam goreng, sambal tomat, kerupuk (piknik). Sore menjelang malam: semangkuk besar kolak labu besar (yang membuat saya dan Melisa tidak sanggup memuat makan malam). Sampai menjelang tidur pun, pencernaan saya belum selesai memproses makanan-makanan tersebut. Akibatnya, pencernaan saya harus kerja lembur.

*

Pesan moral: Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang (kutipan). (Tambahan) Akan tetapi, jangan tolak makanan dari orang desa.

***

Ngaduman, 13 November 2008.

Akhirnya, kesempatan meladang tersedia untuk saya. Pagi-pagi, saya, Melisa, dan Ayah pergi meladang bersama. Mendaki gunung samapi kaki gemetaran. Terpeleset berkali-kali, untung tidak sampai jatuh. Ayah sampai memberikan saya sebilah kayu panjang berdiameter segenggaman tangan untuk dijadikan tongkat.

Kami bertiga berjalan beriringan sampai di kebun wortel milik Ayah nun jauh di atas desa. Di sana, saya dan Melisa membantu Ayah mencabuti wortel-wortel yang sudah matang. Ciri-cirinya adalah batangnya besar dan daunnya merunduk. Sayanganya, berkali-kali kami mencabut wortel yang belum cukup besar karena kami kurang pandai menganalisa daun dan batang wortel.

Setelah dari kebun wortel, kami turun agak jauh, lalu bertemu kebun kentang yang telah menunggu dipanen. Kami menggali-gali kentang yang pohonnya telah layu. Rupanya, di bawah pohon-pohon itu, tempat kentang-kentang bersemayam, ada semacam ulat kentang yang mengganggu. Namanya uret. Si hama uret ini memakani kentang. Uret ini sangat lemah. Sangat mudah mati. Ia mati jika kepanasan dan jika dibanting ke tanah. Bentuknya bulat panjang, setebal telunjuk pria dewasa pada umumnya sepanjang ibu jari pria dewasa pada umumnya, dan lembek.

Dengan hasil sekeranjang wortel dan sekarung kentang, kami pun pulang. Jalan turun pun ternyata melelahkan. Sangat mudah terpeleset. Apalagi, dengan kondisi kaki saya yang gemetaran.

Sampai di rumah, beberapa buah kentang langsung menjelma sepiring keripik kentang asin.

*

Di tengah hari, karena masalah rutin kewanitaan, saya membutuhkan tisu demi menjaga kebersihan diri. Sayangnya, tisu yang saya bawa telah habis. Maka, saya memutuskan untuk berjalan ke sebuah warung di ujung jalan. Hanya berselang beberapa rumah dari rumah saya.

Pemilik warung tersebut adalah Ibu Ningsih. Rupanya, di rumah Ibu Ningsih tidak tersedia tisu. Namun, masih ada harapan karena beberapa saat kemudian suaminya akan berangkat ke kota untuk mengambil persediaan barang. Karenanya, setelah membeli beberapa jenis barang saya kembali lagi di sore hari.

Sore hari, saya kembali ke warung Bu Ningsih.

Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok.

Beberapa ronde, saya lancarkan ketukan kepada pintu. Terdengar suara Bu Ningsih menyahut dari dalam. Tak lama, ia telah membukakan pintu dan mempersilahkan saya masuk. Namun, sayang sekali, tisu yang saya butuhkan itu belum juga ada. Suaminya lupa mengambil stok tisu di kota. Saya panik.

“Duh, gimana dong? Aku butuh nih!”

Beberapa kali saya mengeluh, membuatnya turut bingung.

Dua kali ia masuk kembali ke dalam rumah, mencari tisu, lalu keluar dengan hasil kosong.

Di kali berikutnya, ia kembali dengan separuh bungkus tisu di tangannya. Ia memberikan tisu itu kepada saya secara cuma-cuma. Ia menolak bayaran dari saya. Dengan rasa sungkan dan rasa bersalah, saya menerima tisu tersebut.

Saya berterima kasih sejadi-jadinya, lalu pamit seramah-ramahnya.

Di tengah jalan pulang, saya mendengar suara Bu Ningsih memanggil-manggil saya dari belakang. Saya berhenti, berbalik badan, dan menemukan Bu Ningsih sedang berlari ke arah saya. Di tangannya, segulung tisu. Segulung tisu yang tidak baru itu pun ia paksakan menjadi milik saya secara cuma-cuma. Rupanya, saya tak kuasa menolaknya.

Pesan moral: Berikanlah kepada mereka yang lebih membutuhkan.

***

Ngaduman, 14 November 2008.

Talent show? Pertunjukan talenta? Pertunjukan bakat? Yah, pokoknya hari ini ada acara semacam itu. Keluarga-keluarga membentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari beberapa keluarga. Tiap kelompoknya harus menyajikan drama yang merupakan persilangan cerita dongeng zaman dahulu dengan cerita modern. Hasilnya luar biasa menghibur. Apalagi, penduduk desa sangat antusias.

Kelompok saya sendiri mengadaptasikan cerita Maling Kundang dan Popeye si Pelaut ke dalam sebuah drama komedi.

Diceritakan di desa Ngaduman ada seorang bapak yang stres karena anaknya mempunyai gejala untuk menjadi sampah masyarakat. Sang bapak marah-marah kepada anaknya. Menyuruh anaknya menuntut ilmu ke kota dan menjadi orang yang berguna di kemudian hari. Dituntut demikian, si anak, Malin Kundang, menjadi stres.

Di tengah kegalauan hatinya, datang dua temannya merekomendasikan jasa dukun kepadanya. Dua temannya itu merekomendasikan dua dukun yang berbeda.

Dukun pertama ia datangi. Dukun itu memberikan resep rumit dan membacakan mantra. Ternyata, resep dan mantra dukun itu tidak cocok dengannya, sehingga ia malah menderita gatal-gatal dan iritasi ringan.

Dukun kedua ia datangi. Dukun ini direkomendasikan salah satu temannya sebagai “Sarjana Dukun”. Dukun kedua ini merekomendasikan sebuah tempat di kota, di mana Malin Kundang dapat menemukan bayam ajaib. Bayam ajaib itulah yang akan menolongnya.

Sampai di kota, ia benar-benar menemukan penjual yang memiliki bayam ajaib. Ia membeli bayam ajaib tersebut.

Baru sebentar di kota, Malin telah menambatkan hatinya kepada seorang wanita cantik, Olive Oil. Minyak Zaitun? Yah, pokoknya, Olive Oil. Ternyata, perjalanan cintanya mengahadapi kesulitan ketika datang orang ketiga di antara mereka, Brutus. Brutus yang tergila-gila kepada Olive ini tidak rela Olive bersama dengan Malin. Maka, Brutus menculik Olive.

Dengan kekuatan bayam, Malin menyelamatkan Olive. Kemudian, mereka menikah. Setelah menikah, mertua Malin dan Olive ingin bertemu dengan keluarga Malin di desa.

Rupanya, sesampai di desa, Olive tidak lagi menyukai Malin karena mengetahui ia hanya anak orang miskin. Olive pergi meninggalkannya. Sementara, Malin mati-matian menyangkal orang tuanya. Karena itu, Malin dikutuk menjadi kambing.

Tamat.

Demikianlah cerita drama kelompok saya.

Setelah pengumuman pemenang lomba pertunjukan bakat, acara dilanjutkan dengan sharing. Berbagi. Berbagi isi hati.

Tiap keluarga membentuk kelompok kecil yang duduk membentuk lingkaran kecil di atas tikar yang digelar di tengah-tengah aula gereja. Dengan lilin kecil pendramatisir suasana di tengah lingkaran kecil, kami memulai sesi berbagi ini.

Ketika sesi dimulai, saya hendak mengambil inisiatif untuk berbicara duluan. Namun, saya diserobot oleh isak tangis Ibu. Sangking tersedu-sedan ia menangis, ia sampai tidak sanggup berkata-kata. Sebagai orang yang duduk tepat di sebelahnya, saya mengelus-elus tangan dan pundaknya untuk menenangkannya. Saya melihat di sebelahnya, Yoga ikut menangis karena melihat ibunya sedih.

Setelah lebih tenang, Ibu berusaha berbicara meskipun putus-putus oleh isakannya. Dari kalimatnya yang putus-putus, saya menyadari bahwa ia sedih karena saya. Ia sedih karena kasihan melihat saya puasa tiga ronde. Puasa makan malam kemarin, puasa makan pagi dan siang hari ini. Ia takut saya sakit. Padahal saya takut bertambah buncit (saya selalu merasa mirip kucing bunting jika buncit. Kurus dan perutnya besar).

Ternyata, meskipun tidak turut menangis, Ayah pun sedih. Terdengar dari nada bicaranya. Ia sedih juga karena saya. Juga karena kasihan kepada saya. Ia kasihan ketika melihat saya bersusah payah naik-turun gunung saat berladang.

Saya jadi turut menangis karenanya. Pertama, karena saya merasa bersalah telah membuat mereka bersedih. Kedua, karena terharu akan kepedulian mereka. Sungguh, luar biasa. Anehnya, dalam tangis saya, saya masih memasang wajah tersenyum lebar. Tersenyum lebar sambil berurai air mata. Andaikata saat itu saya membaca cermin.

Bagai tidak cukup segala isak tangis itu, kami harus membicarakan perpisahan. Esok hari, kami memang akan berpisah. Namun, rasanya tidak perlu dibahas. Membuat makin sedih saja.

Pesan moral: Budayakan kepedulian terhadap sesama.

***

Ngaduman, 15 November 2008.

Pagi hari, saya dan Melisa merapikan barang-barang kami. Kemudian, merapikan kamar yang telah menjadi super berantakan karena kami gunakan selama empat hari tiga malam. Keluar dari kamar, kami mendapati Ayah sedang membungkuskan oleh-oleh untuk kami. Oleh-oleh itu sekardus besar dan berat tanpa kami ketahui isinya.

Setelah segalanya rapi dan beres, kami sekeluarga berangkat ke gereja. Sebelumnya, saya dan Melisa meminta alamat rumah Ayah dan Ibu agar sewaktu-waktu kami dapat mengirim paket atau surat untuk mereka. Ayah dan Ibu membantu kami membawa barang-barang kami.

Sampai di gereja, kami mengetahui bahwa mobil pick-up, yang tempo hari mengantar kami, kali ini berhalangan, sehingga kami harus turun dengan berjalan kaki sampai tempat kami bisa mendapatkan angkutan umum setempat. Ayah dan Ibu membantu kami membawakan barang-barang kami sampai ke tempat tersebut.

Rupanya, anak-anak dari SDN 01 Kamel turut mengantar kepergian kami. Mereka tidak berkumpul di sekolah, melainkan berkeliaran di sekitar gereja. Melempar senyum dan salam kepada kami, tidak terkecuali Yoga. Yoga yang saat di rumah tampak kurang akrab dengan saya dan Melisa tersenyum dan berjalan di samping kami. Saya pun mendapat kesempatan untuk mengelusi kepala dan pundaknya. Sayangnya, karena terlalu terharu, saya tidak sanggup memberikan kata-kata motivasi kepadanya karena energi saya saat itu saya pusatkan untuk menahan tangis. Sesuatu yang sangat saya sesalkan.

***

IV. Pulang atau Pergi?

Sampai di tempat di mana kami menemukan angkutan umum, Ayah dan Ibu memasukkan barang-barang kami ke dalam angkutan yang kami tempati. Kami menyalami Ayah dan berpelukan dengan Ibu. Saya masih sempat melihat Ibu menangis ketika berpisah dengan kami. Saya pun dengan susah payah menahan tangis.

*Karena saya terus-menerus menahan tangis, maka perlu saya sampaikan bahwa saya bukan menahan tangis karena sok kuat dan sebagainya, melainkan karena tidak mau concealer mata yang menutupi kantong mata saya, yang hitam-tebal-besar, luntur.

Sepanjang perjalanan di dalam angkutan umum yang senantiasa berguncang, saya banyak merenung. Saat itu, saya sama sekali tidak merasa seperti seorang kota hendak yang pulang ke kota asalnya. Saya justru merasa sebagai warga desa Ngaduman yang hendak merantau mengadu nasib di Jakarta. Sementara kebanyakan teman tampak senang akan bertemu kembali dengan keluarga mereka di kota (kebanyakan mereka menderita home-sick), saya justru sedih karena meninggalkan keluarga saya di desa.

Dengan angkutan umum tersebut, kami kembali ke pasar Kopeng. Di sana, kami berjumpa kembali dengan teman-teman yang terpisah ke desa Cuntel.

Dari pasar Kopeng, kami naik ke bis-bis kami, yang menyerupai kulkas berjalan, lagi. Dari sana, kami menuju sebuah hotel di Yogyakarta. Hotel Ruba Graha. Di hotel tersebut, terpelihara berbagai jenis hewan langka. Kebanyakan adalah reptil dan amfibi. Di hotel itu juga, kami siswa-siswi kelas IPS bertemu dengan siswa-siswi kelas IPA.

Malam harinya, kami semua bersama-sama menghadiri sendratari (mungkin ini adalah singkatan dari “seni drama tari”) Ramayana. Cerita tradisional asal India yang cukup populer di Indonesia. Rupanya, sendratari Ramayana di sekitar Candi Prambanan tersebut adalah penampilan pertama dalam rangka menjadikan Yogyakarta kota pariwisata. Sendratari tersebut dilakonkan oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas Gajah Mada.

Selain siswa-siswi SMAK 5 BPK Penabur, beberapa menteri dari negara-negara tetangga dan beberapa menteri dari Indonesia juga menjadi penonton perdana pertunjukan tersebut. Yang sangat disayangkan adalah sikap sebagian besar menteri Indonesia yang datang terlambat, mengobrol selama pertunjukan, dan bermain telepon genggam selama pertunjukkan. Sangat tidak berkelas. Teladan buruk.

*

Setelah semalam menginap di sana Ruba Graha, siswa-siswi kelas IPA harus menempuh perjalanan ke desa. Sementara, siswa-siswi IPS berbelanja ria di Bakpia Pathok XX (bukan sensor, tapi lupa) dan Malioboro.

Di Malioboro, rombongan saya yang anggota intinya terdiri dari Pak Chris, saya, Melisa, dan Anastasia berbelanja banyak dengan Pak Chris sebagai juru tawar. Alhasil, bawaan kami bertambah dan dompet kami menipis.

Yang sangat disayangkan adalah keramaian yang terlalu padat di Malioboro memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa siswi SMAK 5 BPK Penabur.

***

Epilog

Dari Malioboro, kami kembali ke Jakarta. Kembali ke Kelapa Gading. Kembali ke sekolah. Dari sekolah, pulang ke rumah masing-masing.

Sebentar saja saya menunggu di sekolah sebelum Ayah kandung saya menjemput saya. Setelah itu, kami mendatangi sebuah rumah makan untuk memesan lontong sayur dan lauk-pauk sebagai sarapan kami. Kami minta makanan itu dibungkus untuk dimakan di rumah.

Sampai di rumah, rasanya rindu sekali. Yang saya rindukan dari rumah adalah baunya, kehangatannya, dan toiletnya yang berada di dalam.

Setelah menghayati segala keberadaan rumah saya, saya membuka kardus besar berisi oleh-oleh dari orang tua di Ngaduman. Rupanya, isinya banyak sekali. Kentang, wortel, kembang kol, ubi jalar enak-manis-apalagi-kalau-digoreng.

Beberapa hari kemudian, kentang dan wortel menjelma sup, kembang kol menjelma sayur tumis, dan ubi jalar menjelma kolak.

01
Dec

natal?

Teman-teman, sebentar lagi, kita akan kembali merayakan Natal. Di berbagai tempat, mulai muncul dekorasi merah-hijau, kristal salju, kado-kado, dan sebagainya. Tidak terkecuali di sekolah. Anak-anak panitia acara Natal sekolah sudah menyiapkan berbagai dekorasi. Pohon Natal, kapas-kapas sebagai salju, kotak-kotak kado, gantungan-gantungan besar berbentuk kristal es, dan banyak lagi.

Semua itu menimbulkan sepasang pertanyaan di kepala saya.

What is Christmas?

Where is Jesus?

01
Dec

tidak menang

Hari ini adalah hari pertama saya masuk sekolah setelah berjuang dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat DKI Jakarta di Bogor. Rupanya, hari ini cukup membingungkan. Setiap saya bertemu teman atau guru yang tahu mengenai lomba tersebut, saya akan mendapatkan pertanyaan “gimana lombanya?”. Bagi saya, jawaban yang tepat bagi pertanyaan tersebut adalah “lombanya baik-baik saja” dan itulah jawaban saya atau saya malah bertanya kembali “gimana gimana?”. Karena “gimana” yang dimaksud orang-orang adalah menang atau tidak, mereka bertanya lagi, “menang gak?”. Jawabanya adalah “gak”. Bagi yang bertanya “menang atau kalah?”, saya menjawab “gak menang” sebab “tidak menang” tidak selalu berarti “kalah” bagi saya. Yah, memang tampak wajar.

Yang membingungkan adalah pertanyaan “kenapa” setelahnya. Maksud saya, setelah saya menjawab “gak” bagi pertanyaan “menang gak?” atau setelah saya mengeluarkan pernyataan “gak menang”, saya akan mendapatkan pertanyaan “kenapa?”. Sungguh, sulit dijawab. Jawaban spontan dan asal saya bervariasi dari “yah, karena gak menang”, “karena orang lain yang menang”, “karena jurinya memutuskan begitu”, sampai pertanyaan balik “menurut lo?”. “menurut lo?” di sini bukan idiom yang berarti “harusnya lo udah tau” atau “lo tau sendiri lah!”, melainkan benar-benar pertanyaan saya yang kebingungan “menurut kamu, mengapa saya tidak menang?”.

Jadi, begitulah teman-teman. Jika saya berkata “saya menang”, saya dapat “selamat”, tetapi jika saya berkata “saya kalah”, saya dapat “kenapa?”. Padahal, lebih menyenangkan menjawab “saya menang karena…” karena pernyataan yang akan keluar adalah hal-hal positif dibanding “saya kalah karena…”. Ya, ‘kan?

30
Nov

lomba KIR

Kawan, hari Jumat tanggal 28 November 2008 sampai hari Sabtu tanggal 29 November 2008, saya mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) tingkat Provinsi DKI Jakarta. Dengan segala pesimisme, saya dan Jaqualine Lukman selaku utusan SMAK 5 BPK Penabur berangkat ke Gelanggang Remaja Jakarta Utara (GRJU) untuk berkumpul dengan wakil-wakil Jakarta Utara lainnya untuk kemudian berangkat ke Cipayung, Bogor.

Ditemani seorang pembimbing dari GRJU, Ibu Ade, difasilitasi dua buah mobil dari GRJU lengkap dengan dua orang sopirnya (salah satunya Mas Sugeng), kami sampai di sebuah hotel (yang sepertinya kelas melati) di Bogor. Di hotel itu, segala wakil dari segala penjuru Jakarta berkumpul untuk berkompetisi. Namun, suasana yang terjadi bukan benar-benar suasana kompetisi. Justru, di sana, kami mendapat banyak teman baru dari belahan-belahan Jakarta lain.

Fahra, Nida, dan Chiko dari Madrasah Aliyah Negeri 3 Jakarta Pusat adalah yang paling supel dan rendah hati. Kami sangat senang ketika di akhir acara mereka diumumkan sebagai Juara I lomba KIR bidang IPS kategori kelompok. Selain mereka, kami juga mendapat teman baru yang fasih berbahasa Jepang dan Jawa, Sayo –entah dari Jakarta mana (maaf ya…). Tidak lupa, Chiko yang bernama asli Mursofi adalah seorang ahli Matematika yang lebih nyaman menggunakan rumus-rumus temuannya sendiri ketimbang rumus-rumus yang diajarkan di sekolah.

Sementara, dari Jakarta Utara sendiri, ada Ade, Maimunah, dan Putri dari SMAN 75, Gibran dari Al-Azhar Kelapa Gading, Tahyatul, Inayatillah, dan Die Genetika (ini nama asli lho!), dan Sandi dari SMAN 13, dan Anita dari SMKN 12 yang mengambil jurusan Akuntansi, tetapi membuat KIR di bidang Teknologi.

Adapun pihak yang mengeksklusifkan diri dan menolak bersosialisasi dengan wakil-wakil dari daerah lain adalah utusan-utusan dari Jakarta Selatan yang selalu mengenakan jaket hijau tentara bertulisan KIRJAS (Karya Ilmiah Remaja Jakarta Selatan) di belakangnya.

Selama dua hari satu malam, kami semua sibuk mempersiapkan presentasi kami, sibuk menerka-nerka hasil lomba, dan bersama-sama menikmati momen-momen menyenangkan bersama teman-teman baru di sana. Di sana juga, berbagai pengalaman dan pelajaran baru kami dapatkan. Tidak menang pun sungguh tidak rugi. Justru, rugi jika hanya memikirkan kemenangan.

Akhir cerita, Jakarta Utara mendapatkan tiga piala. Juara Harapan II bidang Teknologi kategori kelompok oleh Tahyatul, Inayatillah, dan Sandi dari SMAN 13, Juara III bidang IPA kategori kelompok oleh Maimunah, Ade, dan Putri dari SMAN 75, dan Juara II bidang Teknologi kategori perorangan oleh Anita dari SMKN 12. Ah, senangnya!

17
Nov

tali sepatuku merah

Pagi ini, pagi yang cerah, segar, dan bahagia. Pagi pertama saya memulai aktivitas di Jakarta setelah seminggu berkeliaran di sekitar Semarang dan Jogjakarta. Kembali ke aktivitas rutin saya, saya bangun pagi-pagi, mandi, lalu buru-buru ke sekolah. Rupanya, hari ini hari terakhir untuk hukuman apel saya. Ah, senang!

45 menit pertama, jam kosong. Saya mendengarkan keluh kesah teman sebangku saya. Rupanya, ada seorang teman lain yang tidak menyukainya dan terkesan berusaha membangun citra buruk teman saya di publik.

Setelah jam kosong, jam olahraga. Tema-teman sebangku saya hendak jajan karena jam olahraga tidak dipakai untuk belajar. Maka, dengan senang hati, saya menemani mereka.

Rupanya, di tengah perjalanan saya ke tempat perjajanan, saya berpapasan dengan seorang guru, Ibu Budi. Ibu Budi ini, ketika saya senyumi, bukannya melihat ke wajah saya yang sumringah, malah ke sepatu saya yang cantik mencolok.

“Tali sepatu kamu kok warna merah?” tanyanya.

“Saya ganti, Bu.”

“Kenapa diganti?”

“Biar bagus.”

Alhasil, saya diajak ikut ke ruang guru. Sayangnya, jawaban yang dengan cepat meluncur dari mulut saya adalah “nggak mau.” Yah, saya memang tidak mau ke ruang guru karena saya mau menemani teman-teman saya jajan makanan. Jawaban jujur gamblang itu membuat Ibu Budi menghentikan langkahnya, membalik badannya, dan melototi saya.

“Siapa nama kamu?” tanyanya dengan nada dasar ditransmus naik tiga not.

“Areta,” jawab saya dengan nada dasar tidak beranjak dan senyum semi permanen di wajah.

“Ikut saya ke ruang guru!” ketusnya.

Dengan berat hati, saya pun ikut ke ruang guru. Tentunya, setelah berlambai-lambai tangan ria dengan teman-teman.

Sampai di ruang guru, Ibu Budi mengadu kepada beberapa rekan guru lain, Ibu Sherly dan Ibu Dwi. Saya jadi merasa dikeroyok. Untungnya, hari itu, hati saya sedang bernuansa bahagia. Jadi, saya bisa tertawa cerita menanggapi semua omelan ketimbang menangis sakit hati.

Kira-kira begini ringkasannya.

Pertama, guru-guru berusaha menjelaskan kepada saya bahwa peraturan sekolah mewajibkan murid-murid mengenakan sepatu hitam polos penuh. Agaknya, tali sepatu yang saya anggap aksesori sepatu itu dianggap bagian penting dari sepatu yang membuat sepatu tidak bisa dibilang sepatu jika tidak ada talinya.

Kedua, pengadilan.

Awalnya, hukuman yang diputuskan bagi saya adalah melepaskan tali sepatu saya. Bagi saya, ini sangat merepotkan. Pertama, sepanjang hari saya harus menyeret-nyeret sepatu saya ketika berjalan karena sepatu tanpa tali tentu tidak memungkinkan kaki saya mengangkat tinggi-tinggi ketika berjalan. Atau, saya punya pilihan lain: mencari tali rafia (ini sempat terlintas di kepala saya). Kedua, sepulang sekolah, saya harus mendaki gunung lewati lembah dari Kelapa Gading ke Rawamangun. Sesuatu yang tidak mungkin terlaksana tanpa tali sepatu terpasang di sepatu saya. Resikonya fatal. Misalnya, jika saya harus menyeberang jalan, saya harus berjalan pelan-pelan sambil menyeret-nyeret sepatu, lalu tiba-tiba sebuah truk besar berkecepatan tinggi melaju menabrak saya sampai tak berbentuk. Rugi nyawa.

Karena itu, hukuman penggantinya adalah memberikan sepatu saya sebagai barang sitaan. Ini juga tidak mungkin. Apa mungkin saya ke Rawamangun tanpa sepatu? Selain itu, saya sedang tidak ingin berkotor-kotor.

“Gak mau. Ntar kaki saya kotor,” saya jujur kepada guru-guru.

“Ya udah, kaos kakinya gak usah dilepas,” kata salah satu guru.

“Gak mau. Ntar kaos kaki saya yang kotor.” Bayangkan jika saya harus memakai kaos kaki yang bagian bawahnya telah ternodai air entah apa yang tumpah di lantai, lalu tertempel kotoran-kotoran kering yang kemudian bercampur dengan air yang telah terserap kaos kaki. Lalu, ketika sepatu saya telah kembali, semua kejijikan itu harus saya jejalkan ke dalam sepatu saya. Kemungkinan besar, kaki saya akan busuk.

Hukuman pengganti terakhir adalah saya dipulangkan. Baiklah, saya pulang. Ini adalah hukuman yang paling mudah dan menguntungkan.

Pertama, saya untung waktu. Hari ini, dikarenakan banyak guru dan murid yang tidak masuk, saya akan banyak menganggur di sekolah karena terlalu banyak jam kosong. Bukankah lebih baik waktu menganggur itu saya gunakan untuk hal lain? Selain itu, saya bisa pergi ke Rawamangun lebih awal, sehingga sore harinya saya bisa belajar lebih awal untuk ujian di hari esok. Ketiga, saya tidak perlu menyumbangkan tali sepatu maupun sepatu saya untuk menjadi barang sitaan.

Maka, itulah pilihan saya.

Kejadian setelahnya tidak terlalu penting.

Beberapa jam kemudian, saya kembali ke sekolah dengan tali sepatu baru yang berwarna hitam yang saya beli di Mal Arion. Saya memamerkan tali sepatu baru saya kepada guru-guru yang tadi pagi memprotes si merah.

Oh ya, hukuman saya berlanjut. Besok, saya akan mengikuti ujian di ruang isolasi alias saya diskors saat ujian try out. Jadi, ujian yang membosankan itu tidak lagi membosankan karena saya diberikan kesempatan untuk mengikutinya dengan suasana berbeda.

*Tulisan ini netral dan moderat. Tidak mengantagoniskan atau memprotagoniskan pihak manapun.

25
Oct

binatang

Teman-teman, saya ingin menceritakan sesuatu. Hal ini terjadi beberapa hari yang lalu. Kebanyakan perempuan mungkin akan menyimpan “aib” semacam ini seumur hidupnya. Tidak dengan saya, sebab saya bahkan tidak malu karenanya. Saya diajarkan untuk malu HANYA jika saya berbuat dosa. Kejadian ini bukan salah saya dan dalam kasus ini, saya yakin saya tidak berbuat dosa. Jadi, saya tidak punya alasan untuk malu.

Begini, teman-teman. Beberapa hari yang lalu, saya mengalami pelecehan seksual tingkat sedang. Saya tidak akan menceritakan detailnya. Mengingatnya saja ogah! Hal itu terjadi ketika saya sedang antri ala zakat di kantin pada jam istirahat di sekolah. Saat itu, saya sangat lapar dan kantin sangat ramai. Benar-benar “zakat”. Di tengah keramaian yang mendesak-desak dan menggencet-gencet itu, ada “manusia” (nanti kau akan tahu mengapa ia diberi tanda kutip) yang memanfaatkan situasi tersebut untuk hal yang rendah dan kurang ajar.

Ya sudahlah. Membicarakannya pun tidak akan mengubah masa lalu. Mengutuknya pun tidak membuat saya merasa lebih baik. Marah-marah pun tak bernilai guna. Jadi, teman-teman, saya mohon doa kalian untuk saya agar dapat memaafkan orang tersebut dan agar saya cepat pulih dari perasaan tidak menyenangkan ini. Juga berdoalah untuk si bocah (SMP) cabul itu agar bertobat.

Teman-teman, dalam tulisan saya kali ini, saya ingin lebih membahas sesuatu yang lebih bernilai guna dan berbobot ketimbang perasaan saya terhadap si pelaku percabulan itu atau terhadap kejadian itu.

Saya ingin menyerukan bahwa PELECEHAN SEKSUAL ADALAH PERBUATAN YANG MERENDAHKAN HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA SEBAGAI MANUSIA! Duh, jangan ribet-ribet dong bahasanya! Oke deh, saya jelaskan.

Teman-teman, manusia tercipta sepaket dengan akal budi dan nurani. Akal budi dan nurani ini jugalah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk mamalia lain (yang kita sebut sebagai binatang). Ketika manusia melakukan pelecehan seksual, bukankah ia telah menyalahi akal budi dan nuraninya? Atau, lebih buruk lagi, akal budi dan nuraninya telah mati! Jika demikian, apa lagi yang membedakan manusia dari binatang selain bentuk fisik dan volum otaknya?

Dalam keadaan seperti itu, orang cabul (seperti binatang) bermodal naluri alami makhluk-makhluk mamalia, yaitu naluri seksual. Pada dasarnya, naluri yang haus kenikmatan ini ada demi mempertahankan suatu jenis makhluk hidup agar tidak punah. Binatang mempunyai libido hanya untuk itu dan mereka tidak dapat mengendalikannya. Maka, lihatlah manusia ketika ia tidak bisa mengendalikan libidonya. Lihatlah manusia ketika ia tidak bisa mengatur nalurinya (yang hanya boleh dipakai ketika ia telah berada di bawah pernikahan dan hanya boleh dipakai dengan pasangan nikahnya). Lihatlah, bukankah ia jadi begitu mirip dengan binatang?

Ya, itulah mengapa mereka dikutuki sebagai “binatang!” (dengan nada marah dan kasar) oleh sebagian kita yang marah.

Dengan mengingat sepotong khotbah oleh seorang penginjil yang saya kenal, saya menyampaikan kepada teman-teman pembaca bahwa manusia seperti itu adalah manusia yang membunuh kemanusiaan dalam dirinya dan membinatangkan dirinya. Manusia yang membinatangkan manusia.

Demikianlah, teman. Janganlah kita menjadi manusia semacam itu.

Lalu, setelah saya pikir-pikir, apakah patut saya marah kepada anjing jika anjing itu menggigit saya? Bukankah ia hanya binatang yang tak berakal tak berbudi tak bernurani? Bukankah ia tidak akan mengerti kemarahan saya?

Ah, sudahlah.

20
Oct

si penting lagi

Teman-teman, saya sedang kesal karena Si Penting yang beberapa waktu lalu juga pernah saya “gosip”kan di sini. Kali ini, ia melakukan sesuatu (atau justru tidak melakukan sesuatu), sehingga menyulitkan seorang teman dekat saya.

Ceritanya, Ibu Guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas praktek untuk pengambilan nilai psikomotorik. Sebagian anak harus mempresentasikan sebuah produk (termasuk saya), sebagian berpidato, sebagian menanggapi berita, dan sebagian lagi membacakan cerita pendek.

Teman dekat saya ini adalah salah satu yang kebagian membacakan cerpen. Ibu Guru menyerahkan sebundel naskah cerpen untuk kelas kami. Si Penting ini berinisiatif menerima budelan itu untuk diperbanyak dan dibagikan kepada anak-anak yang kebagian tugas membacakan cerpen.

Sayangnya, teman saya ini (entah bagaimana) tidak kebagian fotokopian naskah tersebut (padahal seharusnya naskah diperbanyak sesuai jumlah anak yang mendapatkan tugas ini). Ia telah bertanya dan meminta ke sana kemari, hasilnya nihil. Si Penting (si pihak bertanggung jawab) malah mengambinghitamkan anak lain (perbuatan tanpa nilai guna).

Teman, kita tidak bisa menghakimi siapapun karena kita pun bukan manusia sempurna. Kita pun tidak tahu apa yang Si Penting bersikap demikian. Saya pun berusaha tidak membencinya.

Lantas, apa kegunaan posting “gosip” ini? Nyaris tidak ada. Untungnya, saya selalu siap memberikan “pesan moral” dalam setiap tulisan saya.

Pertama, jika kita telah dipercayakan untuk suatu tugas atau memberikan diri menjalankan suatu tugas, kerjakanlah sepenuh kapasitas diri. (berkaca lebih baik daripada menunding)

Lalu, ketika -sengaja/tidak- kita melakukan kesalahan, janganlah kesalahan itu terlempar dari tangan kita ke orang lain.

Terakhir, jika kita memang salah, meminta maaflah. Demi kesopansantunan, paling tidak.

Teman-teman, maafkan saya telah menyeret kalian ke dalam dosa bergosip ini.

Teman dekatku yang sejak tadi kusebut-sebut, bersukacitalah senantiasa (1 Tesalonika 5: 16).