Archive for May, 2007

31
May

orang tua

Mengapa kau boleh membenciku, tapi aku harus mengasihimu?

Mengapa kau boleh diamkan aku, tapi aku harus menyapamu?

Mengapa kau boleh tindas aku, tapi aku harus menghormatimu?

Mengapa kau boleh buat aku sedih, tapi aku harus tetap menyenangkanmu?

Mengapa kau boleh sakit hati terhadapku, tapi aku harus menelan segala kemarahanmu?

Karena kau orang tuaku, tentu saja.

Di sana kau makan mengenyangkan ragamu

Dan entah apa batinmu juga terpuaskan

Tapi kau biarkan aku lapar dan haus lahir dan batin demi harga diri

Aku manusia yang belum jadi orang

Dan kau manusia yang telah hidup jauh lebih lama

Abad-abad hidupmu adalah senjata yang selalu memojokkanku

Bahwa aku anak kecil yang tidak tahu-menahu tentang kehidupan

Aku tahu kehidupan

Setidaknya kehidupanku sendiri

Di sana ada kau

Yang kukasihi

Yang kuhormati

Yang kuteladani

Yang menenggelamkanku dalam kesedihan

Karena kau orang tuaku, tentu saja

17
May

(tak terlupa)

aku tidak melupakanmu

hanya tidak memikirkanmu

aku tidak melepaskanmu

hanya tidak menarikmu

aku tidak menjauhimu

hanya tidak mengejarmu

aku menyimpanmu

tersembunyi dalam palung tersempit hatiku

aku menguburmu

sedalam alam bawah sadar terdalamku

aku menyembunyikanmu

di ujung syaraf terjauh

namun kau tetap bagianku

tak tersingkir

tak termusnah

tak terlupa

15
May

(tak terkata)

selalu ada butir-butir harapan kusisakan bagimu

sekalipun di setiap sudut jalan yang terjangkau mataku, hanya ada kegelapan dan manusia-manusia lain

tanpa dirimu

aku manusia gagal yang bersalah padamu

dendamilah aku, tapi jangan bersembunyi dariku

biarlah retinaku menangkap bayanganmu

bencilah aku, tapi jangan jauhi aku

dekati aku, bunuh aku

hisaplah habis aliran rindu dalam tiap tetes darahku

aku rela menukar nyawaku demi waktu singkat bersamamu

hangat air mata mengalir di pipiku

menandakan dingin hatiku yang merindukanmu

14
May

oma, temen, mal

Sekitar pertengahan bulan April, saya dan seorang teman saya merencanakan untuk bertemu pada tanggal 12 Mei 2007.

Rincian recana kami adalah sebagai berikut :

Pada tanggal 12 Mei 2007, jam 9 pagi saya sudah stand by di masjid di seberang Mal Kelapa Gading. Dia akan datang menjemput saya, lalu kami berangkat bersama ke Jakarta Selatan. Kami menghabiskan sebagian hari di sana, lalu dia akan mengantar saya pulang sebelum terlalu sore agar saya tidak sampai ke rumah terlalu larut.

Saya telah merencanakan kebohongan untuk ayah dan ibu saya dengan bantuan seorang teman baik yang bersedia bila namanya saya pakai sebagai alibi.

Rincian kebohongan saya adalah sebagai berikut :

Pada tanggal 12 Mei 2007, saya akan pergi ke apartemen seorang teman saya di Kemayoran. Saya akan pergi pagi agar tidak pulang larut malam seperti terakhir kali saya ke sana.

Rasanya segala sesuatunya sudah rapi.

***

Tanggal 3 Mei 2007, ibu saya memberitahu saya bahwa nenek saya akan datang ke Jakarta pada tanggal 6 Mei 2007. Saya sangat senang karena saya suka nenek saya. Lalu saya bertanya, dalam rangka apa. Ibu menjawab, ia akan pergi ke Yerusalem.

***

Pagi hari pada tanggal 11 Mei 2007, ayah saya marah karena saya lupa mematikan komputer yang telah menyala sejak malam sebelumnya.

Malam hari pada tanggal 11 Mei 2007, saya telah mempersiapkan diri untuk berbohong. Berbohong tidaklah mudah karena saya harus menjaga raut wajah dan sikap saya agar tampak meyakinkan. Sasaran pertama adalah nenek saya karena ayah saya berlum pulang kerja.

Ternyata, saya tidak mampu berbohong pada nenek saya. Dia adalah orang yang saya sayangi lebih dari kedua orang tua saya. Saya gagal. Saya menceritakan sejujur-jujurnya dan serinci-rincinya perihal rencana saya dan teman saya. Nenek saya tampak tak rela dan khawatir akan hal buruk yang mungkin menimpa saya. Nenek saya memperbolehkan saya pergi dengan syarat, saya mendapat izin dari ayah saya untuk pergi setelah saya bercerita jujur kepada ayah saya. Padahal, untuk berbicara pada ayah saya saja, saya masih belum berani.

Saya menceritakan masalah ini kepada teman saya. Kami berpikir bersama demi sebuah solusi. Ternyata kami tidak menemukan solusi, tapi recana tanggal 12 Mei 2007 belum dibatalkan. Teman saya berencana untuk datang ke Mal Kelapa Gading pada hari itu.

***

Pagi hari pada tanggal 12 Mei 2007, saya telah bangun lebih awal dari hari Sabtu biasanya demi mempersiapkan diri untuk bertemu dengan teman saya. Ternyata, ia mendapat musibah. Ia bangun tidur dengan salah satu matanya sakit dan bengkak besar. Berbahaya baginya untuk mengendarai motor dari Jakarta Selatan sampai Jakarta Utara dengan mata seperti itu. Saya memutuskan untuk membatalkan rencana itu, tapi dia belum menyerah. Ia mencari kapas berbentuk persegi, yang biasa dipakai wanita untuk membersihkan wajah, dan plester untuk matanya. Ia berusaha tampil sebagai orang yang matanya baru selesai dioperasi, meskipun ia malu. Sayangnya, begitu ia menemukan benda-benda yang dicarinya, hujan lebat turun. Akhirnya kami menunda rencana itu untuk tanggal 13 Mei 2007.

Malam hari pada tanggal 12 Mei 2007, saya sedang makan malam bersama nenek saya. Nenek saya memperingatkan saya perihal teman saya. Nenek saya telah berdoa agar Tuhan menjaga saya dan menjauhkan saya dari segala rencana jahat, sehingga jika teman saya itu terus mendapat halangan, ada kemungkinan bahwa ia merencanakan sesuatu yang tidak baik. Saya menceritakan pada nenek saya tentang rencana kami esok harinya. Nenek saya memperingatkan bahwa jika pada tanggal 13 Mei 2007 kami tetap mendapatkan halangan untuk bertemu, maka kami tidak boleh bertemu lagi sebab itu adalah petanda dari Tuhan bahwa teman saya itu tidak baik.

***

Siang hari pada tanggal 13 Mei 2007, saya baru usai menjalani sebuah kebaktian di gereja saya satu-satunya sejak orok. Saya menyerberang dari gereja saya ke masjid dan dari masjid ke Mal Kelapa Gading. Di sana saya menunggu detik-detik yang akan membuktikan bahwa teman saya tidak berniat tidak baik, tapi hanya bernasib tidak baik.

Manusia yang saya tunggu belum tiba. Saya memutuskan untuk mencari toilet yang agak sepi di dalam mal agar saya dapat mengganti celana panjang yang saya pakai dengan celana pendek yang telah saya bawa dari rumah dalam tas saya. Tas saya yang adalah tas balita berwarna dasar merah dengan gantungan kunci berupa boneka Sadako buatan tangan seorang teman yang baik.

Seusai saya menukar celana, saya memutuskan untuk berkaca dan menyisir sebentar. Saat itulah ayah saya menelepon ke selular saya, menyatakan ketidakpercayaannya kepada saya.

Ia bertanya saya di mana. Saya menjawab di Mal Kelapa Gading.

Ia tidak percaya. Saya meyakinkan.

Ia membentak saya untuk tidak pergi ke tempat lain. Saya mengiya.

Ia bertanya dengan siapa saya pergi. Saya jawab dengan seorang teman.

Ia bertanya teman yang mana. Saya gugup. Saya menjawab teman sekolah.

Ia bertanya siapa namanya. Saya gagap. Saya memberi nama seorang teman.

Ia meminta saya untuk tidak berbohong. Saya mengiya.

Ia menyuruh saya untuk tidak pulang terlalu sore. Saya mengiya.

Ia terus menunjukan nada kemarahan dan ketidakpercayaan. Saya menahan takut.

Setelah itu, saya mengirim SMS kepada seorang teman baik, yang telah saya libatkan dalam kebohongan saya dengan memberikan namanya kepada ayah saya, untuk meminta maaf. Ia memaafkan saya.

Saya keluar dari toilet dan memutuskan untuk menelepon teman saya. Rupanya ia sudah sampai. Ia sedang memarkirkan motornya di masjid. Menuju ke sanalah saya pergi untuk menghampirinya. Saya menemukan manusia yang saya tunggu. Ia mengenakan kupluk hitam pada kepalanya. Kupluk yang menutupi setengah kupingnya yang menghadap ke depan dan sedikit menunduk. Kuping yang mirip kerupuk udang. Ia mengenakan kaos hitam yang baru selesai disablonnya. Ia mengenakan celana jeans panjang dan sepatu berwarna dasar putih. Di sebelah tangannya ada gelang, di tangannya yang lain ada jam tangan. Di salah satu pundaknya tertenteng tas kecil berwajah Marilyn Manson.

Dialah manusia yang saya tunggu. Manusia yang terbukti tak berniat buruk, tapi bernasib buruk. Kami menghabiskan waktu sebentar di Mal Kelapa Gading sebelum akhirnya ia mengantar saya pulang ke rumah saya.

13
May

oma, temen, pasar

Seorang yang kucintai membenci orang lain karena mencintaiku

Salahkah si orang lain karena dia asing?

Atau salahku karena membela orang asing?

Seorang yang kucintai berperang dalam diam denganku karena mencintaiku

Salahkah dia karena tidak mengerti aku?

Atau salahku karena tidak mengerti dia?

Aku membela orang lain saat dicelanya

Aku pun membelanya saat orang lain salah bicara

Salahkah aku bila aku membela kebenaran bagi diriku sendiri?

Lebih baikkah jika aku menjelekan yang satu di depan yang lain?

Pengalaman memang guru terbaik untuk mengasah kewaspadaan

Tapi pengalaman telah menumpulkan rasa percaya dan toleransi

Aku bahkan tak sanggup membela kebenaran bagi diriku sendiri

***

“Kamu jadi ikut ke pasar gak hari ini?”

Aku menggeliat di atas ranjang empuk di antara bantal-bantal lembut yang sejuk oleh pendingin ruangan.

“Iya, jadi. Mau pergi jam berapa?”

“Bareng sama Rani ke sekolah. Sekalian.”

“Iya.”

Aku berjalan dalam kantuk menuju kamar mandi demi mengosongkan kandung kemih yang telah semalaman menampung sampah penyaringan darah. Aku mencuci wajahku agar bersih dan jerawatnya tidak bertambah. Aku menyikat gigi dan lidahku, membersihkan segala jejak jigong dan kuman.

Kami berangkat bersama. Aku, adikku, dan nenekku. Sopirku mengantar adikku ke sekolah, lalu aku dan nenek ke pasar. Ia menunggu di tempat parkir di pasar.

Aku senang karena nenek tidak mengingat-ingat masalah kemarin, bahwa aku telah berbicara agak keras padanya karena ia terus menaruh curiga pada seorang temanku. Aku menyesal. Aku tahu ia begitu karena sayang padaku dan khawatir hal buruk terjadi padaku. Aku mengerti. Maka, lain kali akan kubiarkan saja ia bicara. Aku cukup mengangguk atau mengiya, tanpa membantah atau membela.

Aku mengekor nenekku di pasar. Aku belum pernah ke pasar sembelumnya. Aku memang terlalu manja, meskipun orang tuaku tidak memanjakanku. Aku menyaksikannya melakukan tawar-menawar dan transaksi dengan para pedagang. Ia berusaha menurunkan harga dan pedagang berusaha menaikkan harga. Mereka menemukan titik tengah, lalu sepakat. Saat membuat grafik dalam pelajaran ekonomi di sekolah, aku menandai titik tengah itu dengan huruf E, sesuai instruksi dari guruku. Setelah nenek mendapatkan barangnya, ia akan memberikan belanjaan dalam plastik itu kepadaku. Aku adalah tukang angkat barangnya.

Kami belanja banyak. Pepaya, pisang mas, sawi, kembang kol, brokoli, jamur putih, ayam, daging sapi, ikan entah apa, bawang merah, dan lain lain. Saat belanja ayam, aku menyaksikan pedagang ayam mengorek isi perut ayam lalu memotongnya agar terpisah dari tubuh si ayam. Lalu pedagang itu memasukan bangkai ayam itu ke kantong plastik dua lapis. Saat diberikannya padaku, tangan penuh jeroannya membuat plastik itu kotor. Saat kutenteng, jeroan itu mengenai betisku, menempel, dan menjadi kerak karena kubiarkan.

Sepulang dari pasar, aku mandi lalu sarapan, lalu mengetik.