Archive for September, 2007

28
Sep

jiplak

Tadinya gue memaki-maki kerjaan-kerjaan Punjabi-punjabi menjiplak-jiplak cerita-cerita orang-orang luar buat dijadiin sinetron gara-gara perbuatannya itu memperkuat budaya menjiplak yang udah mendarah daging di Indonesia. Akan tetapi, setelah gue lihat keasikan pembantu gue nonton sinetron Candy meskipun sambil motong-motong buah (gak takut tangannya kepotong yeh!), gue menyadari suatu keuntungan dari penjiplakan itu. Sama seperti barang-barang jiplakan lainnya, sinetron jiplakan ini terjangkau banget. Kalo gak dijiplak, cerita-cerita itu cuman bisa dinikmati ama gak banyak orang. Kalo dalam kasus Candy, paling ama anak-anak berduit yang suka komik-komik produk Jepang. Dengan jiplakan ini, masyarakat kelas bawah pun jadi tau bahwa ada cerita semacam itu dan mereka bisa nikmati.

27
Sep

kata orang

Bener kata orang, cewek yang lagi dateng bulan tuh sensi banget!

Kagak ada apa-apa ajah, bisa sewot sendiri, bete sendiri, sebel sendiri. Mending sewot-bete-sebel-nya disimpen dalam hati ajah… Ini malah bikin orang lain ikut sebel! Haiyah!

Sori banget yah, o0m…

27
Sep

jalan di tempat

Di sekolah hari ini, ada Bu Guru yang cerita-cerita. Dia cerita bahwa zaman dia masih kuliah dulu, banyak orang Malaysia yang kuliah ke Indonesia untuk belajar ilmu pertanian.

Sekitar 20 tahun kemudian (zaman sekarang), pertanian Malaysia malah lebih maju daripada Indonesia. Padahal, pada zaman dahulu kala, mereka lah yang nyamperin kita buat nimba ilmu. Jadi kita tuh kayak “jalan di tempat”.

Setelah mereka-mereka itu dapet ilmu, mereka mempraktekkan dan mengembangkan ilmu yang mereka punya untuk ngebangun tempat mereka. Sementara, kita-kita malah jarang begitu. Ilmu jadi sekedar teori yang gak terwujud prakteknya.

Yang bikin sebel juga, banyak orang kita yang setelah nimba ilmu di luar, bukannya balik ke asal buat ngebangun tanah air sendiri, malah jadi perahan di negeri orang.

Mumet ah!

23
Sep

puasa?

Liat di tipi, FPI ngobrak-ngabrik tempat-tempat yang mereka curigai sebagai tempat jual minuman keras (miras). Tujuannya mulia, tapi caranya sangat gak menyenangkan (merugikan). Paling nggak, sebelum menemukan barang bukti (miras) di tempat itu, jangan langsung berantakin tempat orang donk! Periksa dulu lah baik-baik! Kasihan banget orang yang punya tempat. Tempatnya dirusakin. Padahal gak ada miras di sana. Emang sih, ada empat yang ketahuan jual miras (dikit buanget), tapi sisanya? Pemiliknya bisa apa? Orang FPI banyak banget (dan kampungan banget). Yang gw heran, apa sih kriteria mereka untuk tempat yang mencurigakan sebagai tempat jual miras? Banyak amat yang meleset…

Ada lagi, tempat jual makanan yang buka pas bulan puasa juga diganggu. Apa salahnya jual makanan di bulan puasa? Yang puasa kan cuman Muslim. Sedangkan di Indonesia ada 5 (lima) agama resmi (termasuk Islam). Mosok selama Muslim puasa, 4 (empat) agama lain terpaksa ikut puasa (karena gak ada yang jual makanan)? Lagian, apa pahala lo puasa kalo puasanya terpaksa? Ya iya lah, terpaksa! Mau makan pun gak ada yang jual. Terus, lo menjalani kewajiban agama lo tanpa godaan karena gak ada yang jual makanan dan gak ada yang makan atau minum di depan lo. Lalu, apa pula pahalamu?

Terakhir, kalo lo menganut suatu agama, lo juga mau orang lain yang belum menganut agama itu atau penganut agama lain untuk jadi pengikut agama lo. Ya gak? Kalo iya, gimana orang lain mau jadi pengikut agama lo kalo dia ngeliat bahwa pengikut agama lo itu sangar bin beringas, kasar, dan menakutkan? In my opinion, uneducated.

Oke, memang gak semua Muslim begitu. Anak kecil juga tau! Cuman, yang sebagian kecil itu menentukan imej keseluruhan (terutama untuk orang awam). Jadi, jaga sikap baik-baik! Jangan bikin malu!

23
Sep

astro (by: Jeklin)

Kira-kira setahun lalu, saat pergelaran Fifa World Cup 2006 dimulai, gw jatuh cinta tiba-tiba pada suatu permainan 11 lawan 11 memperebutkan sebuah bola bundar di lapangan rumput hijau. Bener kata pribahasa football is the most beautiful game (setidaknya bagi gw sendiri). Sejak saat itu, gw mulai mengikuti perkembangan sepakbola internasional, bahkan dari yang jadul. Dalam sekejap, gw langsung menyerap semua informasi, skor, nama, klub, dan pertandingan, sehingga temen-temen gw yang udah jadi penggemar sepakbola sejak SD gak nyangka bahwa gw baru ngikutin secara serius sepakbola sejak SMA.

English Premier League adalah salah satu liga sepakbola paling top dan atraktif seantero dunia. Gw pun tergoda buat ngikutin. Ternyata tayangan ini dapat menemani weekend gw dan menghibur gw. Gw pun bisa mengikuti pesatnya perkembangan Christiano Ronaldo, kerennya gigs, Cech pingsan, musim terakhir Henry, gak konsistennya Liverpool dan Arsenal, dan masih banyak kejadian gak biasa lainnya yang menambah warna-warni dunia sepakbola.

Gw berharapan dapat nonton lagi musim depan. Menunggu aksi Nani, Anderson, Hargreaves (yang dibeli dengan harga mahal), Liverpool (yang mendatangkan ikon Ateltico Madrid), Fernando Torres (pencatat rekor pembelian termahal Liverpool), kebijakan Chelsea (yang mendatangkan pemain gratisan alias free transfer -kecuali Malouda dan Belletti), nasib Carlos Tevez, dan tentunya masih banyak kejadian-kejadian menarik lain.

Itulah mengapa hati gw sesak saat membaca sebuah topik di forum bola Kaskus dengan judul “Nonton EPL uda ga gratis lagi musim depan??”. Lalu mencuatlah nama Astro sebagai biang keladi sengsaranya penggemar EPL seluruh Indonesia. Dari gratis jadi bayar 200ribu/bulan only for EPL. Kita berharap itu cuma kabar burung. Ternyata burungnya berubah jadi betulan. Kita terpaksa dengan berat hati menerima kenyataan kalo kita harus mengeluarkan uang 200ribu/bulan untuk menonton aksi pesebakbola favorit kita. Bagaimana teman-teman kita yang berlangganan Indovision atau Kabelvision? Naas pula nasibnya. Mereka tetep gak bisa nonton karena siaran live-nya EPL diacak jadi (jangan kaget) Inul Daratista atau Trio Macan.

Debat pun semakin memanas, sampai-sampai berita tentang transfer atau pra musim kurang terdengar gaungnya. Di Kaskus aja, bisa 5 thread yang ngebahas Astro. Dari yang udah gw sebutin di atas, nada-nada kekecewaan, gak percaya, sampe kata-kata anarkis, semua ada! Reply pun macam-macam. Ada yang sebel, pasrah (campur sebel –kayak gw), maklum, mengutuk, mengecam, mengutuk, dll.

Hal ini sangat disesalkan sepakbola mania di Indonesia khususnya dari kalangan bawah yang makan aja pas-pasan (apalagi bayar kabel TV cuma buat nonton bola).Berbagai tindakan pun dilakukan untuk menanggapi penjajahan Astro terhadap kebebasan ber-EPL ria di Indonesia. Mulai dari bikin petisi, ngirim surat, mohon-mohon TV7 buat nayangin EPL, sampe ngajak demo di gedung MPR/DPR. Yang terakhir disebut, dikira cuma gertak sambal. Ternyata bener-bener dipraktekkan. Tanggapan para menteri rata-rata cuma mengecam tindakan monopoli Astro. Sayangnya, hal ini tidak ditindaklanjuti sampai sekarang. Jadi ngapain donk kita? Nunggu Sport 7, Lensor, Metro Sport, Livescore, browse internet, baca bola? Cuma itu?

Bersambung…