Kira-kira setahun lalu, saat pergelaran Fifa World Cup 2006 dimulai, gw jatuh cinta tiba-tiba pada suatu permainan 11 lawan 11 memperebutkan sebuah bola bundar di lapangan rumput hijau. Bener kata pribahasa football is the most beautiful game (setidaknya bagi gw sendiri). Sejak saat itu, gw mulai mengikuti perkembangan sepakbola internasional, bahkan dari yang jadul. Dalam sekejap, gw langsung menyerap semua informasi, skor, nama, klub, dan pertandingan, sehingga temen-temen gw yang udah jadi penggemar sepakbola sejak SD gak nyangka bahwa gw baru ngikutin secara serius sepakbola sejak SMA.
English Premier League adalah salah satu liga sepakbola paling top dan atraktif seantero dunia. Gw pun tergoda buat ngikutin. Ternyata tayangan ini dapat menemani weekend gw dan menghibur gw. Gw pun bisa mengikuti pesatnya perkembangan Christiano Ronaldo, kerennya gigs, Cech pingsan, musim terakhir Henry, gak konsistennya Liverpool dan Arsenal, dan masih banyak kejadian gak biasa lainnya yang menambah warna-warni dunia sepakbola.
Gw berharapan dapat nonton lagi musim depan. Menunggu aksi Nani, Anderson, Hargreaves (yang dibeli dengan harga mahal), Liverpool (yang mendatangkan ikon Ateltico Madrid), Fernando Torres (pencatat rekor pembelian termahal Liverpool), kebijakan Chelsea (yang mendatangkan pemain gratisan alias free transfer -kecuali Malouda dan Belletti), nasib Carlos Tevez, dan tentunya masih banyak kejadian-kejadian menarik lain.
Itulah mengapa hati gw sesak saat membaca sebuah topik di forum bola Kaskus dengan judul “Nonton EPL uda ga gratis lagi musim depan??”. Lalu mencuatlah nama Astro sebagai biang keladi sengsaranya penggemar EPL seluruh Indonesia. Dari gratis jadi bayar 200ribu/bulan only for EPL. Kita berharap itu cuma kabar burung. Ternyata burungnya berubah jadi betulan. Kita terpaksa dengan berat hati menerima kenyataan kalo kita harus mengeluarkan uang 200ribu/bulan untuk menonton aksi pesebakbola favorit kita. Bagaimana teman-teman kita yang berlangganan Indovision atau Kabelvision? Naas pula nasibnya. Mereka tetep gak bisa nonton karena siaran live-nya EPL diacak jadi (jangan kaget) Inul Daratista atau Trio Macan.
Debat pun semakin memanas, sampai-sampai berita tentang transfer atau pra musim kurang terdengar gaungnya. Di Kaskus aja, bisa 5 thread yang ngebahas Astro. Dari yang udah gw sebutin di atas, nada-nada kekecewaan, gak percaya, sampe kata-kata anarkis, semua ada! Reply pun macam-macam. Ada yang sebel, pasrah (campur sebel –kayak gw), maklum, mengutuk, mengecam, mengutuk, dll.
Hal ini sangat disesalkan sepakbola mania di Indonesia khususnya dari kalangan bawah yang makan aja pas-pasan (apalagi bayar kabel TV cuma buat nonton bola).Berbagai tindakan pun dilakukan untuk menanggapi penjajahan Astro terhadap kebebasan ber-EPL ria di Indonesia. Mulai dari bikin petisi, ngirim surat, mohon-mohon TV7 buat nayangin EPL, sampe ngajak demo di gedung MPR/DPR. Yang terakhir disebut, dikira cuma gertak sambal. Ternyata bener-bener dipraktekkan. Tanggapan para menteri rata-rata cuma mengecam tindakan monopoli Astro. Sayangnya, hal ini tidak ditindaklanjuti sampai sekarang. Jadi ngapain donk kita? Nunggu Sport 7, Lensor, Metro Sport, Livescore, browse internet, baca bola? Cuma itu?
Bersambung…
0 Responses to “astro (by: Jeklin)”
Leave a Reply