Archive for November, 2007

30
Nov

sales

Gw
jadi sales gagal…

Jadi
gini lho ceritanya, di tahun yang sudah mau tamat ini, gw terpilih jadi salah
satu panitia KKR (Kebaktian Kebangkitan Rohani) Natal gereja tercintaku, Agape.
Jabatan gw sekertaris/bendahara. Tugasnya gak berat. Cuman bikin notulen rapat,
megang dana, ngumpulin bon. Yah, gw akui, gw sering bikin kacau. Untungnya,
panitia-panitia lain sangat baik hati dan pemaaf.

Nah,
sekarang hari H udah mau tiba donk… Udah akhir Nopember neh… Jadi, anak-anak
publikasi/dokumentasi udah mulai beraksi. Mereka udah nyetak-nyetak poster dan
brosur. Tentunya, sebagai salah satu panitia, gw dapet jatah beberapa lembar
brosur untuk gw sebarin di sekolah gw. Ini nih masalah babonnya!

Pada
awalnya, gw seneng dan bersemangat karena dikasih kesempatan buat membantu dan
jadi media untuk menyampaikan kabar gembira. Akan tetapiiiii… setelah gw sampe
di rumah dan merenung-renung sambil menatap segepok brosur di tangan gw,
barulah gw sadar bahwa misi ini agak mustahil gw laksanakan.

Teringatlah
gw akan betapa buruknya reputasi alias imej gw di sekolah. Bahkan setelah gw
berusaha buat jadi orang yang jauh lebih baik, gw tetap merasa diperlakukan
sebagai mantan narapidana oleh mayoritas penduduk sekolah (guru-guru juga suka
bikin sakit ati). Akhirnya, gw nyerah dan kembali jadi narapidana. Nah,
mungkinkah narapidana ngajak orang kebaktian di gereja ato tobat?? Pernah
denger ato liat gak??

Akhirnya,
gw memutuskan untuk menyebar brosur itu ke temen-temen terdekat gw aja.
Sayangnya, setelah gw hitung-hitung, jumlah temen deket gw gak sebanyak brosur
yang gw pegang. Berarti, temen yang agak deket juga harus kebagian. Oke,
laksanakan!

Setelah
dilaksanakan, gondoklah gw karena alesan mereka buanyak banget untuk gak
dateng! Sejauh ini, baru satu orang yang menampakan gejala-gejala untuk dateng.
Satu lagi mau liburan. Sisanya gak jelas alasannya dan keliatan sangat gak
berminat. Gw merasa kayak sales kosmetik merek murahan. Padahal gw ngundang
buat kebaktian ke gereja, bukan buat jenguk gw di penjara.

Sekarang
gw akan selalu berempati terhadap sales-sales, tapi terbatas untuk sales yang
kerjanya bener. Bukan sales yang maksa, jutek, ogah-ogahan, dan underemployment
lainnya.

30
Nov

my december

Wah, sudah lama sekali gak update blog ini. Sudah basi sekali yah? Entah karena sibuk atau kurang bisa manfaatin waktu.
Setelah sekian lama diem, sekarang gw mau berkeluh kesah sedikit.
Bulan Desember depan itu tuh bener-bener bulan yang berat buat gw (buat anak-anak sekolah lain juga). Pertama, tanggal 2, ada percakapan penggembalaan. Itu… semacam ujiannya katekisasi. Lalu, tanggal 3 sampe 7 UJIAN AKHIR SEMESTER! Tanggal 10 sampe 14 jadwal remedial ujian akhir semester (biasanya gw langganan). Minggu ketiga, tentunya sibuk dengan ujian katekisasi, baik lisan maupun tulisan. Tidak lupa, KKR Natal. Minggu keempat, siap-siap liburan… akhirnya bisa bernapas lega!
Semoga bulan mantap itu bisa gw lalui dengan baik. Bantu doa yah, pembaca. Juga jangan lupa doakan anak-anak sekolah yang lagi ujian semester maupun mau ujian semester. Semoga ujian kita sukses! Amin.

19
Nov

langka

Nasionalisme mulai langka rupanya. Itu topik karya ilmiah remaja yang dibuat kelompok gw sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Nasionalisme.

Gw pun heran melihat reaksi beberapa anak lain yang serba bingung mengetahui topik yang terkesan “planet lain” bagi mereka itu. Aneh-aneh saja. Mosok warga negara aneh kalo membahas nasionalisme?

Pertama, gw mengambil topik ini karena masalah krisis nasionalisme sedang menjadi perhatian gw dan mendapat keprihatinan dari gw. Panas rasanya hati ini saat mengetahui betapa orang-orang Indonesia lebih membanggakan negara-negara lain dibanding negaranya sendiri. Indonesia terus-terusan dihina dan dirusak oleh warganya sendiri. Bener deh, bukan orang asing aja yang suka menghina Indonesia. Kita semua tau itu. Lalu, kenapa merusak? Gini, kita sebagai warga negara Indonesia harus sadar kekurangan negara kita. Kita semua sadar. Gw tau, karena jauh lebih mudah bagi kita untuk mencari kejelekan Indonesia daripada kebaikannya. Ya toh? Lalu, kalo kita udah tau kejelekan-kejelekan Indonesia, seharusnya (sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab) kita berusaha memperbaiki Indonesia. Namun, yang kita lakukan justru memaki-maki Indonesia dengan segala kejelekannya itu dan membuat Indonesia makin terpuruk dengan makin membuat Indonesia jelek. Membuat Indonesia makin jelek dengan tidak saling menghargai, dengan tidak mendukung kebijakan pemerintah (yang dibuat untuk memperbaiki Indonesia), dan menambah dosa yang “meskipun kecil namun tetap berarti” (buang sampah sembarangan adalah contoh yang sempurna).

Kedua, gw makin gemes dengan hal ini setelah menyadari bahwa di ruang lingkup sekolah pun, kelihatan betapa “benci”nya para penerus bangsa Indonesia yang tengah diberi bekal ini terhadap bangsanya sendiri. Dari anti produk Indonesia sampai anti musisi Indonesia, semua ada! Generalisasinya mantap banget! Belum juga tau bagaimana mutu produk, hasil karya, seniman, dll-nya Indonesia, sudah langsung diberi

cap “tidak bermutu”, “jelek”, “cupu”, “murahan”, dsb. Lalu, dengan bangganya pamer kalo abis beli produk luar negeri, denger musik karya musisi luar negeri, semua serba luar negeri. Gak ada yang salah dengan membanggakan sesuatu yang kita suka dan memang bagus, tapi generalisasi bahwa semua bikinan sendiri adalah jelek itulah yang salah besar (ini sudah berkali-kali-kali-kali gw bicarakan).

Terus, semakin gw cari-cari referensi, semakin gw garuk-garuk kepala. Entah karena ketombenya bikin gatel atau karena makin gemes (apa hubungannya?). Gw bukan bingung. Gw gak bingung. Gw ngerti apa yang gw baca, gw ngerti masalah yang dipaparkan dalam bacaan di hadapan gw, gw pun tau solusinya (juga dari bacaan). Sayangnya,  kebebalan masyarakat bikin semua solusi itu gak berarti. Abstrak yeh? Gini kongkretnya, masalah kebobrokan Indonesia sampai penyakit mental krisis indentitas itu punya salah satu jalan keluar, yaitu kesadaran. Sadar akan kebangsaan, sadar kewajiban sebagai warga negara, dan sadar bahwa negara ini butuh kasih sayang (maksud gw, cintailah Indonesia!). Dengan kesadaran itu, kita akan mencintai Indonesia, lalu mulai berpartisipasi sebagai warga negara yang baik, mulai memberi segala sumbangsih yang kita bisa beri untuk negara, mulai mengabdi untuk negara, mulai mendukung pembangunan Indonesia. Ujungnya, borok-borok Indonesia mulai terobati. Sayang sekali, kita gak menyadari semua itu. Kalo pun sadar, itu cuman sekedar tau, tapi gak jalan. Dengan pikiran bahwa banyak orang lain yang akan melakukan hal itu, sehingga kita tidak perlu. Kita cukup memikirkan perut sendiri. Karena mayoritas orang mikir begitu, maka yang jalan cuman secuil. Apakah secuil mampu membangun negara guedek begini? Pikirlah sendiri!

Makanya, bertobatlah! Kiamat sudah dekat! Jangan tunggu sampai negara ini kiamat, baru tobat. Telat! Tobatlah sejak dini dari ketidakpedulian dan dosa-dosa yang merusak negara ini!

Biarpun lo dianggap aneh karena insaf sendiri, tapi itulah salah satu pengorbanan untuk negara. “Kecil. Namun, tetap sangat berarti.” Jangan pikir, “semua orang juga begitu”, sehingga lo ikut-ikutan orang fasik nambah-nambah dosa karena takut dianggap gila. Justru, perubahan dimulai dari diri sendiri. Perubahan yang besar-besar itu juga dimulai dari perubahan yang kecil-kecil (seperti tidak membuang sampah sembarangan). Kalo perubahan itu gak langsung memperlihatkan hasil, bukan berarti perbuatan baik kita gak berpengaruh. Inget, perubahan butuh proses dan proses butuh waktu.

Berubah! (gaya Power Ranger).

Jeklin, lo banyak menyumbang inspirasi dengan tulisanmu. Makasi.

18
Nov

tanya?

Apakah gw setan?

Bukan.

Apakah gw utusan setan?

Setan paling goblok sekalipun gak bakal ngutus gw.

Apakah gw pemuja setan?

Bukan. Ada Tuhan, kenapa muja setan?

Apakah gw pengikut setan?

Bukan.

Apakah gw sadis?

Tidak.

Apakah gw gila?

Dengan kadar yang aman.

Apakah gw aneh?

Banyak orang bilang begitu.

Apakah gw introvert?

Gw berusaha terbuka, tapi lingkungan gak mendukung.

Apakah gw cenayang?

Orang bego pun gw yakin cukup pinter untuk gak nuduh gw begitu.

Apakah gw bisa nyantet?

Gak. Gw takut disantet.

Apakah gw lesbian?

No. Tanya cowok gw.

Apakah gw bersikap bermusuhan?

Tergantung sikap lo ke gw.

Apakah gw bego?

Tergantung siapa yang menilai dan dinilai dari sisi mana.

Apakah gw penggila seks?

Tidak.

Apakah gw ateis?

Tidak. Gw percaya eksistensi Tuhan.

Apakah gw benci Tuhan?

Gw cinta Tuhan.

Apakah gw antikristus?

No. I love Jesus.

Apakah Alkitab gw adalah alkitab yang sudah direvisi?

Gak. Alkitab itu cukup. Gak kurang dan gak lebih. Ngapain direvisi?

Apakah gw suka musik keras?

Ya. Musik lembut juga suka.

Apa lagi?

18
Nov

sensi

Gak ngerti deh, guru-guru di sekolah jadi pada sensi sama gw. Maksud gue, bawaannya nyalahin gue, nyari-nyari kesalahan gue.

Gue jabarin. Guru ekonomi, sering nuduh gue ngobrol pas pelajaran sama temen sebangku gue (Jeklin) dan ngadu ke wali kelas. Guru matematika pernah nyita buku bacaan gue dan nganggep gue gak niat belajar. Guru kewarganegaraan alias wali kelas hobinya menyindir dengan humor. Guru agama, mentang-mentang gue ngaku gak punya agama, jadi kena diskriminasi. Guru sosiologi, mentang-mentang dia guru dan gue murid, gue gak dikasih kesempatan bicara dan membela diri pas lagi presentasi (ini yang paling bikin sakit hati).

Maaf yah, kalo ada guru yang baca. Kalo nyadar bagus. Kalo ngerasa dirimu bener, ya sudah.