Nasionalisme mulai langka rupanya. Itu topik karya ilmiah remaja yang dibuat kelompok gw sebagai tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Nasionalisme.
Gw pun heran melihat reaksi beberapa anak lain yang serba bingung mengetahui topik yang terkesan “planet lain” bagi mereka itu. Aneh-aneh saja. Mosok warga negara aneh kalo membahas nasionalisme?
Pertama, gw mengambil topik ini karena masalah krisis nasionalisme sedang menjadi perhatian gw dan mendapat keprihatinan dari gw. Panas rasanya hati ini saat mengetahui betapa orang-orang Indonesia lebih membanggakan negara-negara lain dibanding negaranya sendiri. Indonesia terus-terusan dihina dan dirusak oleh warganya sendiri. Bener deh, bukan orang asing aja yang suka menghina Indonesia. Kita semua tau itu. Lalu, kenapa merusak? Gini, kita sebagai warga negara Indonesia harus sadar kekurangan negara kita. Kita semua sadar. Gw tau, karena jauh lebih mudah bagi kita untuk mencari kejelekan Indonesia daripada kebaikannya. Ya toh? Lalu, kalo kita udah tau kejelekan-kejelekan Indonesia, seharusnya (sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab) kita berusaha memperbaiki Indonesia. Namun, yang kita lakukan justru memaki-maki Indonesia dengan segala kejelekannya itu dan membuat Indonesia makin terpuruk dengan makin membuat Indonesia jelek. Membuat Indonesia makin jelek dengan tidak saling menghargai, dengan tidak mendukung kebijakan pemerintah (yang dibuat untuk memperbaiki Indonesia), dan menambah dosa yang “meskipun kecil namun tetap berarti” (buang sampah sembarangan adalah contoh yang sempurna).
Kedua, gw makin gemes dengan hal ini setelah menyadari bahwa di ruang lingkup sekolah pun, kelihatan betapa “benci”nya para penerus bangsa Indonesia yang tengah diberi bekal ini terhadap bangsanya sendiri. Dari anti produk Indonesia sampai anti musisi Indonesia, semua ada! Generalisasinya mantap banget! Belum juga tau bagaimana mutu produk, hasil karya, seniman, dll-nya Indonesia, sudah langsung diberi
cap “tidak bermutu”, “jelek”, “cupu”, “murahan”, dsb. Lalu, dengan bangganya pamer kalo abis beli produk luar negeri, denger musik karya musisi luar negeri, semua serba luar negeri. Gak ada yang salah dengan membanggakan sesuatu yang kita suka dan memang bagus, tapi generalisasi bahwa semua bikinan sendiri adalah jelek itulah yang salah besar (ini sudah berkali-kali-kali-kali gw bicarakan).
Terus, semakin gw cari-cari referensi, semakin gw garuk-garuk kepala. Entah karena ketombenya bikin gatel atau karena makin gemes (apa hubungannya?). Gw bukan bingung. Gw gak bingung. Gw ngerti apa yang gw baca, gw ngerti masalah yang dipaparkan dalam bacaan di hadapan gw, gw pun tau solusinya (juga dari bacaan). Sayangnya, kebebalan masyarakat bikin semua solusi itu gak berarti. Abstrak yeh? Gini kongkretnya, masalah kebobrokan Indonesia sampai penyakit mental krisis indentitas itu punya salah satu jalan keluar, yaitu kesadaran. Sadar akan kebangsaan, sadar kewajiban sebagai warga negara, dan sadar bahwa negara ini butuh kasih sayang (maksud gw, cintailah Indonesia!). Dengan kesadaran itu, kita akan mencintai Indonesia, lalu mulai berpartisipasi sebagai warga negara yang baik, mulai memberi segala sumbangsih yang kita bisa beri untuk negara, mulai mengabdi untuk negara, mulai mendukung pembangunan Indonesia. Ujungnya, borok-borok Indonesia mulai terobati. Sayang sekali, kita gak menyadari semua itu. Kalo pun sadar, itu cuman sekedar tau, tapi gak jalan. Dengan pikiran bahwa banyak orang lain yang akan melakukan hal itu, sehingga kita tidak perlu. Kita cukup memikirkan perut sendiri. Karena mayoritas orang mikir begitu, maka yang jalan cuman secuil. Apakah secuil mampu membangun negara guedek begini? Pikirlah sendiri!
Makanya, bertobatlah! Kiamat sudah dekat! Jangan tunggu sampai negara ini kiamat, baru tobat. Telat! Tobatlah sejak dini dari ketidakpedulian dan dosa-dosa yang merusak negara ini!
Biarpun lo dianggap aneh karena insaf sendiri, tapi itulah salah satu pengorbanan untuk negara. “Kecil. Namun, tetap sangat berarti.” Jangan pikir, “semua orang juga begitu”, sehingga lo ikut-ikutan orang fasik nambah-nambah dosa karena takut dianggap gila. Justru, perubahan dimulai dari diri sendiri. Perubahan yang besar-besar itu juga dimulai dari perubahan yang kecil-kecil (seperti tidak membuang sampah sembarangan). Kalo perubahan itu gak langsung memperlihatkan hasil, bukan berarti perbuatan baik kita gak berpengaruh. Inget, perubahan butuh proses dan proses butuh waktu.
Berubah! (gaya Power Ranger).
Jeklin, lo banyak menyumbang inspirasi dengan tulisanmu. Makasi.