Ceritanya,
hari ini gw nongkrong di Sekolah Minggu. Belakangan ini, tiap minggu juga
begitu sih… Sekolah Minggu itu dibagi jadi dua kelas. Kelas Besar untuk
anak-anak kelas 4 SD sampai kelas 6 SD dan Kelas Kecil untuk anak-anak kelas 3
SD ke bawah. Setelah kebaktian, Kelas Besar dan Kecil itu dibagi lagi ke
kelompok yang lebih spesifik untuk belajar Firman Tuhan. Setiap jenjang (Taman
Kanak-kanak, 1 SD, 2 SD, dst) punya ruangan sendiri untuk jadi kelas mereka dan
anak-anak balita digabung dalam satu ruangan.
Gw
sendiri hobi nongkrong di kelas balita. Alesan gw cukup logis dan egois, yaitu anak-anak
balita jauh lebih “jinak” dibandingkan dengan anak-anak yang umurnya lebih
gede. Mereka memang nakal, tapi nggak liar. Nakalnya mereka itu bikin ketawa,
bukan bikin sewot. Jadi, bahagia banget nongkrong bersama mereka meskipun gak
ngerti mereka ngomong apa.
Di
antara makhluk-mahluk kecil mungil imut-imut yang gw gak mengerti bahasanya
itu, ada yang humoris, ada yang manis, ada yang baik hati, ada yang suka kuda
hitam, ada yang perfeksionis (ini langka banget), ada yang pinter nyanyi, ada
yang ringan tangan, ada yang sering nangis, ada yang suka kejar-kejaran dengan
susternya, ada yang suka ngumpet, ada yang sering ngiler, beberapa seneng
jalan-jalan sambil dorong-dorong kursi, ada yang suka stiker, duh macem-macem!
Mereka
bikin gw terkenang-kenang tentang masa belasan tahun lalu, saat gw hidup dalam
dunia itu. Dunia yang egois, tapi tanpa beban. Bagaimanapun juga, waktu
berjalan dan gw bertumbuh.
Paling
nggak, kita masih punya masa depan untuk diperjuangkan. Berbekalkan pengalaman
dan hikmat dari masa lalu, kita merantaui waktu yang gak mau berhenti berjalan
untuk mengukir masa depan kita.
Pernah
denger gak, “kita gak bisa mengubah masa lalu kita, tapi kita bisa mengubah
masa depan kita”? Itu buat selingan aja karena gw gak tau artinya.