Kalau kesempatan sekolah diumpamakan sebagai emas, berarti
banyak dari kita yang memegang emas di tangan kita, tapi menyangka emas itu
adalah batu, sehingga kita lemparkan emas itu untuk menimpuk anjing. Mengapan
demikian? Sebab kebanyakan dari kita mempunyai kesempatan untuk menimba ilmu di
sekolah, tapi kita menyianyiakan kesempatan itu untuk entah apa. Kita mempunyai
orang tua yang mampu dan mempunyai pekerjaan yang baik, kita hidup serba
berkecukupan, dan kita disekolahkan di sekolah terbaik karena orang tua kita
sanggup membayar. Namun, yang kita lakukan adalah bermain-main dengan waktu, waktu
itu menjadi terbuang. Waktu yang terbuang tidak dapat dipungut kembali. Yang
terjadi adalah kita telah menyia-nyiakan kesempatan kita dengan bermalas-malasan.
Mengerjakan hal-hal tidak berguna seperti melakukan hal-hal buruk kepada teman
dan guru. Apa yang kita dapat dari semua itu selain tawa di atas penderitaan
orang lain yang akhirnya merusak masa depan kita sendiri?
Tentu saja itu merusak masa depan. Paling tidak, masa
depan kita akan somplak sedikit karena waktu yang terbuang itu. Kita yang
sebenarnya dapat sampai ke puncak gunung hanya mencapai puncak bukit karena
masa muda untuk mendaki kita gunakan untuk tidur. Lalu, apakah masa muda kita
tidak lebih dari sebuah masa jahiliyah dalam riwayat hidup kita yang tersia-siakan tanpa hasil yang berarti? Itu
renungan masing-masing.
Kita telah banyak membicarakan diri sendiri. Mari
membicarakan orang lain. Orang-orang yang haus akan pendidikan, tetapi tidak
mempunyai kesempatan untuk mengecapnya. Pendidikan bukan milik orang miskin. Mereka
yang bahkan kesusahan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di antara mereka, terdapat
otak-otak cermelang yang akhirnya berkarat karena tak pernah terasah. Mereka
yang sedikit lebih beruntung dapat mencicipi bangku sekolah, tapi sayang, mereka
terlalu terpencil. Mereka terkucil di daerah-daerah yang hanya mempunyai
sekolah seadanya. Sekolah yang mutunya tak seberapa dibanding kapasitas
intelejensi murid-muridnya. Lagi-lagi, otak-otak cermelang tersia-siakan.
Sia-sia.
Sia-sia.
Sia-sia.