Archive for January, 2008

27
Jan

sekolah

Kalau kesempatan sekolah diumpamakan sebagai emas, berarti
banyak dari kita yang memegang emas di tangan kita, tapi menyangka emas itu
adalah batu, sehingga kita lemparkan emas itu untuk menimpuk anjing. Mengapan
demikian? Sebab kebanyakan dari kita mempunyai kesempatan untuk menimba ilmu di
sekolah, tapi kita menyianyiakan kesempatan itu untuk entah apa. Kita mempunyai
orang tua yang mampu dan mempunyai pekerjaan yang baik, kita hidup serba
berkecukupan, dan kita disekolahkan di sekolah terbaik karena orang tua kita
sanggup membayar. Namun, yang kita lakukan adalah bermain-main dengan waktu, waktu
itu menjadi terbuang. Waktu yang terbuang tidak dapat dipungut kembali. Yang
terjadi adalah kita telah menyia-nyiakan kesempatan kita dengan bermalas-malasan.
Mengerjakan hal-hal tidak berguna seperti melakukan hal-hal buruk kepada teman
dan guru. Apa yang kita dapat dari semua itu selain tawa di atas penderitaan
orang lain yang akhirnya merusak masa depan kita sendiri?

Tentu saja itu merusak masa depan. Paling tidak, masa
depan kita akan somplak sedikit karena waktu yang terbuang itu. Kita yang
sebenarnya dapat sampai ke puncak gunung hanya mencapai puncak bukit karena
masa muda untuk mendaki kita gunakan untuk tidur. Lalu, apakah masa muda kita
tidak lebih dari sebuah masa jahiliyah dalam riwayat hidup kita yang tersia-siakan tanpa hasil yang berarti? Itu
renungan masing-masing.

Kita telah banyak membicarakan diri sendiri. Mari
membicarakan orang lain. Orang-orang yang haus akan pendidikan, tetapi tidak
mempunyai kesempatan untuk mengecapnya. Pendidikan bukan milik orang miskin. Mereka
yang bahkan kesusahan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Di antara mereka, terdapat
otak-otak cermelang yang akhirnya berkarat karena tak pernah terasah. Mereka
yang sedikit lebih beruntung dapat mencicipi bangku sekolah, tapi sayang, mereka
terlalu terpencil. Mereka terkucil di daerah-daerah yang hanya mempunyai
sekolah seadanya. Sekolah yang mutunya tak seberapa dibanding kapasitas
intelejensi murid-muridnya. Lagi-lagi, otak-otak cermelang tersia-siakan.

Sia-sia.

Sia-sia.

Sia-sia.

22
Jan

sidak

Siang ini di sekolah, seorang guru matematika
sedang menerangkan materi aljabar fungsi (mungkin itu namanya) yang
membingungkan kami, murid-murid yang memang selalu bingung. Ketika kami, murid-murid,
sedang melongo lebar memperhatikan guru kami dan Bu Guru sedang berusaha
menerangkan sesuatu yang dicoret-coretnya di papan tulis kepada kami, masuklah
segerombolan guru. Mereka menyerbu masuk ke kelas kami seperti segerombol
polisi yang berusaha menangkap maling bebuyutan di rumahnya yang penuh barang-barang
ilegal.

"Semua tangan di atas meja!"

"Ayo! Tangan di atas meja!"

"Tangan gak boleh di bawah! Harus di atas meja!"

Itulah sebagian kalimat andalan mereka. Sebagian
murid pun meletakkan tangan mereka di atas meja. Sebagian mengangkat tangan
mereka di atas kepala seperti buronan yang terkepung dan telah diberi tembakan
peringatan. Sebagian lagi panik dan berusaha menyembunyikan barang ilegal yang
ada pada mereka. Suasana kelas pun menjadi ricuh.

Tanpa basa-basi, guru-guru itu langsung menghampiri
kediaman kami dan menggeledah tas kami, meja kami, dan baju kami (sampai meraba-raba
daerah-daerah terlarang). Banyak dari kami yang kedapatan membawa benda-benda
terlarang: telepon genggam, mp3 player, dan sebagainya.

Saya pun tidak luput. Meskipun salah satu ponsel
saya selamat dalam persembunyiannya di dalam tas saya, kawan semajikannya harus
disita oleh sang guru. Ponsel malang yang disita itu kedapatan sedang
bersembunyi di balik kotak sterofom yang berisi nasi, bakwan jagung, dan tempe
orek (makan siang saya).

Karena kejadian itu, saya menjadi sedih dan tidak
dapat berkonsentrasi pada jam-jam pelajaran setelahnya. Meskipun begitu, saya
tetap mencoba agar tidak tertinggal. Apa lacur, saya tetap tertinggal sepotong-potong
pelajaran yang disampaikan guru karena saya memikirkan ponsel saya (yang pasti
paling tidak canggih di antara ponsel teman-teman seperjuangan saya). Saya
membayangkan bagaimana rasanya seminggu tanpa ponsel itu. Bagaimana rasanya
seminggu tanpa memainkan jari-jari jempol saya di atas tombol-tombol ponsel dan
saling berkirim pesan pendek dengan teman saya. Oh, nasib!

Seminggu. Waktu yang harus saya tempuh sambil
menunggu masa penyitaan jatuh tempo. Setelah itu, saya harus berjuang untuk
mendapatkan kembali ponsel saya. Guru-guru selalu menyatakan bahwa barang-barang
sitaan itu harus diambil oleh orang tua, sementara saya tidak suka merepotkan
orang tua saya hanya untuk hal sepele seperti ini. Mereka bukan pengangguran
yang punya banyak waktu untuk mengurusi setiap detil hidup saya dan saya bukan
anak manja. Maka, saya harus menuntut ponsel itu sendiri. Ponselku, tunggulah
aku, sayang!

Paling tidak, saya boleh mengambil kartu UIM saya. Itulah
yang saya pikirkan hari ini dan akan saya usahakan besok. Saya akan menghampiri
guru yang menimbun barang-barang sitaan itu untuk memperebutkan hak asuh kartu
UIM saya. Tak apalah sedikit merepotkan guru itu. Toh dia sendiri yang mau
repot.

Pembaca, doakanlah saya. Semoga besok saya dapat
menghadap guru itu dengan baik dan mendapatkan kembali kartu UIM saya. Terima
kasih.

14
Jan

orang gila

Pada suatu hari Minggu, dalam perjalanan naik mobil
ke gereja, saya melihat seorang gila (dalam bidang psikologi, tidak ada istilah
“gila”) menjadi korban mainan anak-anak. Anak-anak itu mengerumuni orang gila
yang sedang duduk di pinggir jalan itu. Anak-anak itu meneriakinya, sesekali
melempari orang itu dengan batu-batu kecil, dan salah satu dari mereka
mencolekinya dengan sebatang ranting yang agak tebal.

“Ngapain sih gangguin orang gila?” ayah saya yang
sedang mengemudikan mobil pun menyeletuk.

Emang kurang
kerjaan sih
, pikir saya. Lalu saya
bertanya, “emang mereka gak takut orang gilanya ngamuk ya?”

“Orang gila gak bisa ngamuk,” ayah menjelaskan, “kalo
dia masih bisa ngamuk, berarti dia belum gila. Cuman setres”.

Jawab saya, “oh”.

Lalu, dalam perjalanan setelahnya, saya
merenung-renung lagi. Kalo gw udah punya
anak nanti, gw harus ajarin anak gw biar gak deket-deket sama orang gila di
jalanan. Kan bisa aja orang gila itu penyakitan. Hiiiih!
Lalu, anak-anak itu ngapain main sama orang gila?
Apa enaknya main sama orang gila? Apa yang menarik dari orang gila itu?
Kemudian,
kok mereka gak dilarang sih ama orang tua
mereka?
Berlanjut dengan emangnya
mereka mau jadi orang gila juga? Ih, kalo mereka kualat gimana ya? Kalo mereka
jadi gila, terus diarak-arak keliling RW sambil ditimpukin batu sama anak-anak,
gimana?

Kalau ternyata Anda adalah salah satu pengganggu
pasien-pasien penyakit jiwa itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan bercetak miring
di atas!

14
Jan

rasisme pembodohan

Dalam
pelajaran Sejarah pagi ini, Bu Guru menerangkan tentang imperialisme. Imperialisme
adalah paham atau sistem kekuasaan yang bertujuan menjajah atau menguasai
daerah atau negeri lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih
besar.

Salah
satu faktor penyebab imperialisme adalah racial
superiority
atau perasaan suatu bangsa bahwa mereka adalah bangsa yang
istimewa di dunia dan mereka berhak menguasai bangsa-bangsa lain. Tentunya,
pandangan seperti ini telah menciptakan stratifikasi dalam pikiran mereka
sendiri.

Stratifikasi
atau pengelompokkan ke dalam kelas-kelas secara hierarki juga menjadi akibat
dari imperialisme. Gara-gara penyebab di paragraf sebelumnya, bangsa-bangsa
yang merasa superior itu menjajah bangsa-bangsa lain. Mereka, para penjajah,
merasa berhak mengatur dan menindas bangsa yang mereka jajah. Mereka pun
berusaha menanamkan kebodohan, sehingga bangsa yang dijajah menjadi lumpuh
untuk melawan. Bangsa yang dijajah menjadi terpuruk dan minder. Cepat atau
lambat (saya tidak tahu), terjadilah stratifikasi.

Pada
zaman penjajahan Belanda di Indonesia, bangsa Belanda menjadi penduduk tingkat
teratas dalam tangga stratifikasi. Bangsa asing lain di Indonesia mendapat
tempat di tengah dalam kelas-kelas tersebut. Sementara, pribumi atau orang asli
Indonesia terpuruk pada tempat terbawah dalam piramida stratifikasi.

Berbeda
dengan zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, kelas tertinggi
tentunya ditempati oleh bangsa Jepang. Tingkat kedua pun ditempati bumiputra
atau pribumi. Sedangkan, tingkat terendah ditempati oleh bangsa asing lain di
Indonesia (terutama Belanda dan Cina). Mungkin, Jepang hendak mencari simpati
para pribumi, tapi pribumi-pribumi itu tetap dijajah ‘kan?

Pikirkan,
apakah rasisme adalah pola pembodohan yang ditanamkan para penjajah zaman dulu
kala?

Pikirkan,
apakah rasisme dapat membangun suatu negara atau justru memecah belah dan
menghancurkannya?

Pikirkan,
apakah kita tetap mau mempertahankan kebodohan itu?

07
Jan

perdana

Mungkin
ini udah basi, tapi gimana lagi? Baru sekarang sempet nulis…

Gw
mau cerita tentang pengalaman tahun baru gw kali ini. Persis kayak anak esde
yang baru belajar mengarang, tapi ini bukan karangan.

Gw
ini anak rumahan banget. Jadi, dari tahun ke tahun, gw selalu tahun baruan di
rumah sendiri. Rumah bonyok di Jakarta atau rumah oma opa di Medan, pokoknya di
rumah. Beda dengan tahun ini, gw dapet izin nginep di rumah seorang temen
dengan syarat tetep ikut kebaktian tutup tahun (31 Desember 2007 malem) dan
kebaktian tahun baru (1 Januari 2008 pagi). Gw berhasil ikut kebaktian tanggal
31, tapi gw gak ikut kebaktian besoknya karena ketiduran. Hehehe… maaf, Ma…

Tanggal
30, gw udah beres-beres barang untuk keperluan nginep, tapi gw belum minta izin
karena ragu bakal dikasih izin. Gw malah berpikir bahwa gw bakal dimarahin. Jadi,
esok harinya, gw ambil jalan aman, minta izin ke bokap. Ternyata, bokap nyuruh
tanya nyokap dulu. Tentunya, gw gak berani.

Meskipun
gak berani, gw tetep mandi pagi sebagai acara yang berlanjut dari bangun pagi.
Ternyata, ketika gw mandi, bokap gw ngomongin masalah itu ke nyokap. Ternyata,
nyokap ngasih izin nginep dengan syarat-syarat di atas itu.

Jadilah
siang-siang gw ke rumah temen gw itu dan ketika sampai di sana, dia baru aja bangun
tidur. Selanjutnya, kita ke Mal Artha Gading buat mengunjungi sale-sale tahun
baru. Gak lupa makan di A&W, lalu ke Mangga Dua. Ehm, hari itu adalah
pertama kalinya buat gw nginep di rumah temen dan ke Mangga Dua.

Itu
sorenya. Sore menjelang petang, kelar dari Mangga Dua, kita mampir dulu ke
rumah omanya temen gw. Lalu, jam 6 lewat, nyokap temen gw dan temen gw anter gw
ke gereja.

Malemnya,
pulang dari gereja, kita pun ke LaPiazza untuk beli eskrim, pulang ke rumah
temen untuk makan malem. Setelah itu, niatnya, kita mau ke Monas untuk liat
pesta kembang api. Rupanya, semua jalan ke sana udah forbiden. Gak jadi deh.
Kita ganti haluan ke Ancol, tapi juga gak berhasil. Akhirnya, kita berhenti di
jalan tol bersama mobil-mobil lain yang juga nangkring di jalan tol untuk liat
kembang api.

Dari
atas jalan layang itu, segala kembang api dari segala penjuru mata angin
kliatan (meskipun ada yang keliatan kecil karena jauh). Rame banget! Bayangin
deh, lo berada di jalan tol yang basah karena hujan gerimis bersama entah berapa
orang dan mobil-mobil lain yang membeku sebentar di sana untuk liat kembang api
yang muncrat dari segala arah sambil rame-ramean terompet dan klakson bersama
orang-orang yang datang bersama lo maupun yang lo gak kenal. Itu pertama
kalinya buat gw.

So,
mai pren, makasi banget yah!

Happy
new year buat semua!