Archive for February, 2008

29
Feb

banyak salah

Suatu hari, saya
sedang mengerjakan tugas titipan dari guru bahasa Indonesia (beliau sedang
berhalangan untuk mengajar). Tugas ini seharusnya dikerjakan secara
berkelompok. Tiap kelompok diberi modal empat orang sumber daya manusia. Namun,
hanya dua sumber daya manusia yang mengerjakan tugas tersebut dengan antusias
dalam kelompok saya. Sisanya terpencar di berbagai penjuru kelas dengan
kesibukannya masing-masing.

Setelah mengotori
setengah halaman kertas dengan tulisan saya yang mirip jerami, kami pun
beranggapan bahwa kami telah menyelesaikan tugas tersebut. Hanya saja, saya
melihat banyak kekurangan dalam tugas tersebut. Bukannya cacat, tapi kurang
banyak isinya. Seharusnya kami dapat mengerjakan lebih dari itu. Maka, saya pun
protes. Sahutan yang saya dapatkan sebagai hasil dari protes itu adalah:
"yang lain juga pada gak bikin!". Tak perlu mengetahui sumber
celetukan tersebut. Mari bersama bahas celetukannya saja.

Kata "yang
lain" pada kalimat tersebut menunjuk pada orang-orang lain. Dalam konteks
ini, berarti murid-murid lain di kelas saat itu. "Juga pada gak
bikin" berarti mereka tidak mengerjakan tugas yang dititipkan oleh sang
guru.

Apakah ada sesuatu
yang menarik untuk dibahas dari kalimat itu? Tentu, jika Anda mau sedikit peka.

Mari kita mulai.

Kalimat tersebut
menjadi cermin dari penyakit kronis yang telah diderita masyarakat kita secara
mendarah daging dan turun-temurun. Jangan saling menghakimi atau saling
menyalahkan. Cukup bercermin, lalu mengeluarkan gajah yang tersangkut di
pelupuk mata masing-masing sebelum meributkan debu di pelupuk mata orang lain.

Penyakit kronis apa?
Entah bagaimana menyebutnya. Sebuah kecenderungan untuk meniru pihak mayoritas
meskipun pihak mayoritas itu salah. Sebuah kecenderungan untuk malu menjadi
diri sendiri meskipun apa yang kita kerjakan adalah benar, tetapi memilih untuk
mengikuti orang kebanyakan yang salah. Saya yakin Anda mengerti.

Sebuah kebodohan
masal, tampaknya. Lihatlah diri kita yang berusaha menyamakan diri dengan
kebanyakan orang yang kita tahu telah tersesat. Kesalahan besar beramai-ramai.

Kesalahan pertama,
kita tahu kesalahan mereka, tetapi kita memilih untuk tetap melakukannya karena
kebanyakan orang melakukannya. Untuk apa? Sebuah penerimaan? Atau sekedar takut
menjadi berbeda?

Kesalahan kedua,
menyangkal kebenaran dan membohongi diri sendiri.

Kesalahan ketiga,
kita mempunyai kesempatan untuk mengajak orang-orang tersesat tersebut kembali
ke jalan yang benar dengan mempelopori jalan menuju kebenaran itu, tetapi kita
memilih melenyapkan jalan itu dan mengikuti jalan yang sesat. Siapa yang tahu
apabila orang-orang tersesat itu memang tidak tahu jalan yang benar. Mereka
tidak menyesat-nyesatkan diri mereka sendiri. Mungkin mereka juga menunggu
seseorang untuk menunjukkan jalan yang benar untuk mereka. Kita tidak akan tahu
jika tidak mencoba. Seandainya keadaan tidak demikian pun, kita mempunyai
tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran apabila kita mengetahuinya.

Kesalahan keempat,
kita telah membuat sebuah kerusakan besar di masa depan. Jalan yang sesat
tentunya tidak akan menuju sesuatu yang baik, bukan? Sebuah kesesatan yang kita
lakukan secara berkesinambungan, bahkan dari generasi ke generasi tanpa ada
pertobatan berarti, tentu akan membawa kita kepada sebuah jurang kehancuran.
Sebutlah hal ini sebagai akibat jangka panjang. Sebenarnya, tanpa melihat
terlalu jauh ke depan pun, kita dapat menemukan berbagai akibat jangka pendek.

Terlalu abstrakkah
pembahasan ini? Atau terlalu rumit? Tidak. Cobalah melihatnya dengan lebih
sederhana. Jangan terkecoh oleh bahasa yang kaku ini. Baiklah, mari kita
konkretkan dengan beberapa contoh.

Contoh pertama,

Perbuatan sesat:
membuang sampah sembarangan.

Sebab: kemalasan dan
ketidakpedulian terhadap lingkungan.

Dalih: "yang
lain juga begitu".

Akibat jangka pendek:
lingkungan kotor, tidak sedap dipandang, menjadi sarang penyakit.

Akibat jangka
panjang: penyumbatan tempat penampungan air dan peresapan air tanah yang
menyebabkan banjir (bajir menyebabkan kehilangan harta, kesehatan, bahkan
nyawa).

Contoh kedua,

Perbuatan sesat:
tidak mengerjakan tugas sekolah dan mencontek saat ujian.

Sebab: kemalasan
belajar, ketidakpedulian terhadap pendidikan dan masa depan, kelemahan iman,
anggapan bahwa ilmu yang dipelajari tidak berguna (sesat banget neh!),
kebobrokan moral.

Dalih: "yang
lain juga begitu".

Akibat jangka pendek:
tidak mengerti apa yang telah diajarkan guru di sekolah, kehilangan kesempatan
untuk menimba ilmu.

Akibat jangka panjang:
kebodohan generasi penerus bangsa (hal ini mengakibatkan kebobrokan jangka
panjang sebuah bangsa).

Dengan contoh-contoh
di atas, tentunya Anda telah memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa
yang sedang kita bicarakan.

Lalu, apa yang harus
kita perbuat mengenai masalah ini? Tentu hal tersebut juga harus kita bahas.
Pembahasan sebuah masalah seharusnya juga memberikan solusi. Berhasil atau
tidak, akan kita ketahui setelah kita mencoba. Supaya dapat kita coba, solusi
tersebut harus disarankan dahulu.

Berikut ini adalah
saran-saran yang dapat saya ajukan:

Pertama, perubahan
besar dimulai dari perubahan-perubahan kecil. Hal-hal sepele, seperti membuang
sampah pada tempatnya dan menegur orang lain yang membuang sampah sembarangan
untuk membuang sampah pada tempatnya, memang akan menuai komentar tidak
menyenangkan dari orang lain. Kita akan dianggap sok dan sebagainya. Namun,
dengan perbuatan-perbuatan kecil tersebut, kita memberi sebuah teladan untuk
orang lain. Paling tidak, kita tidak turut berpartisipasi dalam pengerusakan
lingkungan. Setia dalam perkara kecil, kata Alkitab.

Kedua, jika kita mau
mengubah orang-orang di sekitar kita, kita harus terlebih dahulu mengubah diri
kita. Jadi, kita sendiri harus terlebih dahulu bertobat dari
perbuatan-perbuatan destruktif sebelum mengajak orang lain untuk ikut bertobat.

Ketiga, pergunakanlah
dengan baik akal budi yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, manusia. Jika
kita telah dapat membedakan kesalahan dan kebenaran, bukankah seharusnya kita
mengambil kebenaran untuk kita jalani? Pikirkanlah, apakah perbuatan kita dapat
dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Keempat, jika kita
memang seorang manusia yang bermoral, wujudkanlah nilai-nilai moral itu dalam
kelakuan kita sehari-hari.

Sekali lagi, jika
semua ini tampak begitu rumit, pandanglah dan pikirkanlah dengan lebih
sederhana. Hahaha!

24
Feb

the missing USB

Senin, 18 Februari 2008 malam. Saya telah selesai
dengan urusan majalah komisi remaja gereja, karya ilmiah remaja sekolah, cerita
pendek untuk dipublikasikan di dunia maya, dan segala pekerjaan yang harus
dikerjakan di komputer. Semua data itu saya gandakan ke dalam USB (flasdisk, or
whatever you call it. Benda mungil buat nyimpen data yang biasanya dicolok ke
lobangnya di CPU komputer itu loh… pasti tau yah…) karena saya harus oper-operan
data dengan teman-teman saya.

Selasa, 19 Februari 2008 pagi. Di sekolah, saya
menyadari bahwa saya telah lupa membawa USB saya. Padahal, saya memerlukannya
untuk oper-operan data.

Malam harinya, ketika merapikan buku-buku untuk
dibawa ke sekolah esok harinya, saya mendapati bahwa USB saya tidak ada di meja
belajar saya maupun di segala sudut di kamar saya. Bodohnya, bukan hanya USB
saya yang hilang, USB Mama, yang saat itu juga terlibat dengan segala urusan
komputer itu, juga turut raib. Tentunya, saya panik. Saya pun mengobrak-abrik
kamar saya semalaman demi menemukan sepasang USB itu. Kebetulan, adik saya
sedang mengikuti retreat sekolah di Bogor, sehingga saya tidak mengganggu siapa
pun. Akhirnya, saya lelah dan memutuskan untuk tidur.

Rabu, 20 Februari 2008 sore. Sepulang sekolah, saya
kalang-kabut mencari pasangan USB yang hilang. Saya menelusuri jejak saya
sendiri yang saya lalui Senin malam.

Pertama, ruang komputer. Saya mencari di setiap rak
dan laci di sana. Tidak lupa, kolong-kolong: kolong meja, kolong printer, kolong
CPU, kolong kalender meja.

Kedua, ruang keluarga. Setelah menunaikan tugas-tugas
saya malam itu, saya sempat mampir ke ruang keluarga sebelum akhirnya
meletakkan barang-barang saya ke kamar (buku-buku, map-map, kertas-kertas, dan
USB -seingat saya). Lemari-lemari, laci-laci, sudut-sudut, kolong-kolong. Nihil.

Terakhir, kamar tidur. Sudah dibongkar semalaman.

Saya pun mulain panik dengan cara yang senorak
konser dangdut (no offence bagi para dangduters). Pertama, saya mengumumkan
kehilangan ini kepada setiap orang yang ada di rumah pada saat itu dengan cara
yang sangat sinetron. Kemudian, saya pun menelepon orang-orang rumah yang
sedang tidak ada di rumah saat itu, masih perihal USB hilang, dengan sangat
hiperbola.

Tak lama kemudian, adik saya pun sampai di rumah.

Tak lama kemudian lagi, seisi rumah telah sibuk
dengan pencarian USB.

"Mana mungkin hilang di dalem rumah?!" pekik
Mama.

"Nyatanya ilang di rumah, ‘kan?!" balasku.

Setelah perdebatan panjang dan panas, Mama pun
memanggil seorang tersangka: pembantu satu-satunya di rumah ini. Si pembantu
yang ditanya-tanyai secara tak wajar pun menjadi sewot. Ujung-ujungnya, si
pembantu itu berdebat (lebih cocok disebut adu mulut -bukan ciuman- atau ribut)
dengan saya. Akhirnya, Mama menegur pembantu itu supaya selalu melapor setiap
kali membawa tamu ke rumah. Meskipun begitu, pembantu yang MERASA saya tuduh
nyolong itu masih tersinggung dan kesal pada saya. Sebenarnya, saya juga
menyesal telah membuat pernyataan yang sangat melecehkan hanya karena menuruti
emosi: "susah yah ngomong sama orang gak sekolah!". Anak-anak, jangan
ditiru ya! Dosanya gede banget!

Setelah ribut-ribut mereda (karena si pembantu
memilih pergi jalan-jalan, adik saya memilih merapikan barang-barangnya di
kamar, dan saya memilih tidur), Mama pun berinisiatif berburu USB ke segala
penjuru rumah (sekalian rapi-rapi dan bersih-bersih). Selayaknya sebuah cerita
ber-happy ending, beginilah lanjutannya:

"Aaaaiiii! Sini!" teriak Mama dari ruang
komputer kepada saya yang telah setengah terlelap. Tentunya, saya langsung
bangkit karena teriakan oktaf ketujuh itu.

"Ini apa?" tanya Mama -tanpa butuh
jawaban- sambil menunjuk sepasang benda, setelah saya muncul di ruang komputer.

Saya pun cengengesan sambil menyampaikan terima
kasih kepada Mama, entah sudah berapa kali.

Ketemu di mana? Di kolong keyboard komputer (inget,
saya mencari di kolong mana saja?) dengan selembar kertas menutupi mereka di
atasnya. Mungkinkah USB-USB itu sengaja bersembunyi dari saya? Mungkinkah
mereka selimutan di bawah selembar kertas karena sedang membuat anak? Wah, berarti
saya akan segera mendapatkan USB baru! Mungkin saat masih bayi, memorinya hanya
1KB dan lama-lama berkembang menjadi 1GB saat remaja, dan seterusnya. Ngaco ah!

Saya pun teringat, malam Senin itu, banyak sekali
barang yang harus saya bawa dari ruang komputer ke kamar, sehingga saya
memutuskan untuk menyicil. Benda-benda rentan (baca: rusak kalau jatuh) pun
saya putuskan untuk masuk ke ronde kedua. Benda-benda tersebut adalah sepasang
USB dan sepasang handphone. Ketika mengangkut barang-barang pada ronde pertama,
sebelum keluar dari ruangan itu, saya telah mematikan lampunya. Pada ronde
kedua, ketika saya kembali lagi ke ruangan yang telah gelap itu, saya hanya
ingat menjemput handphone (kebetulan, saat itu ada SMS masuk, sehingga saya
dapat melihat ponsel-ponsel saya karena ada penerangan dari handphone yang
mendadak nyala itu. Lalu, saya langsung sibuk dengan SMS).

Kamis, 21 Februari 2008. Saatnya untuk meminta maaf.

01
Feb

banjir

Hari
ini, saya ke sekolah seperti biasa dengan sedikit perbedaan. Bedanya, saya yang
hari biasa sampai di sekolah sebelum jam 6:30 pagi untuk apel, hari ini harus
telat apel, sehingga bertambahlah utang apel saya. Bukan karena saya bangun
terlambat dan sebagainya, tetapi karena sopir saya terlambat masuk. Dia yang
naik sepeda motor dari Depok (rumhanya di sana) sampai Kelapa Gading (daerah
rumah saya) harus mengalami kebocoran pada ban motornya.

Oh,
tidak. Saya tidak menunggu ia sampai ke rumah saya untuk mengantar saya ke
sekolah. Kalau itu saya lakukan, mungkin saya akan ketinggalan beberapa jam
pelajaran pertama di sekolah. Maka, saya membangunkan Babe saya supaya ia
mengantarkan saya ke sekolah. Apa yang terjadi? Ia buang air besar dahulu dan
hal tersebut memakan waktu terlalu lama. Jadilah saya terlambat.

Di
sekolah, saya dan teman-teman tidak belajar terlalu lama. Demikian juga dengan
adik saya dan teman-temannya di sekolahnya. Pasti demikian juga dengan
sekolah-sekolah lainnya. Ada apa? Bajir.

Sejak
beberapa hari yang lalu, hujan telah secara rutin turun di malam hari sampai
pagi dini hari. Hari ini, hujan tidak menyerah di pagi hari. Ia terus turun
sampai siang. Sementara, kita sama-sama tahu masalah kurangnya penyerapan air
tanah, perubahan iklim akibat pemanasan global, dan lain-lain. “Fenomena alam”
kalau menurut Sutiyoso.

Maka,
belum sampai tengah hari, murid-murid sudah dipulangkan. Apalagi, listrik di
sekolah dipadamkan demi keamanan. Kondisi tidak memungkinkan berlangsungnya kegiatan
belajar mengajar.

Sampai
tengah hari pun, saya masih bertengger di sekolah saya yang sudah sepi (karena
murid-murid dan guru-guru telah pulang). Saya ditemani adik saya yang nekat
berjalan kaki sambil hujan-hujanan dari sekolahnya ke sekolah saya.

Akhir-akhirnya,
kami sampai di rumah. Kami mengisi baterai telepon genggam kami sepenuh
mungkin, menyiapkan senter dan lampu teplok, dan saya juga meng-update
blog-blog saya. Semua adalah langkah antisipasi jikalau nanti listrik
se-Jakarta dipadamkan lagi karena banjir. Apalagi, kami mendapat kabar bahwa
tengah malam nanti, kami akan kedatangan kiriman banjir dari Bogor.

Saya
jadi teringat banjir pada awal tahun 2007. Hal yang sama terjadi. Kami dikirimi
air dari langit (hujan) dan dari daerah lain (banjir kiriman). Saat itu, banjir
kiriman itu juga sampai tengah malam. Malam hari ketika kami (saya sekeluarga) beranjak
tidur, lantai rumah kami masih kering. Pagi hari ketika saya bangun, hal
pertama yang saya lihat adalah bantal dan kertas-kertas soal matematika saya yang
mengapung pada air kecoklatan.

Ya
sudah, daripada membuat pembaca bosan dengan bacaan yang terlalu panjang, saya
sudahi saja ini. Saya masih harus mengevakuasi barang-barang saya yang terletak
di dekat lantai ke tempat yang lebih tinggi. Antisipasi apabila banjir yang
dikirim ternyata banyak.