Suatu hari, saya
sedang mengerjakan tugas titipan dari guru bahasa Indonesia (beliau sedang
berhalangan untuk mengajar). Tugas ini seharusnya dikerjakan secara
berkelompok. Tiap kelompok diberi modal empat orang sumber daya manusia. Namun,
hanya dua sumber daya manusia yang mengerjakan tugas tersebut dengan antusias
dalam kelompok saya. Sisanya terpencar di berbagai penjuru kelas dengan
kesibukannya masing-masing.
Setelah mengotori
setengah halaman kertas dengan tulisan saya yang mirip jerami, kami pun
beranggapan bahwa kami telah menyelesaikan tugas tersebut. Hanya saja, saya
melihat banyak kekurangan dalam tugas tersebut. Bukannya cacat, tapi kurang
banyak isinya. Seharusnya kami dapat mengerjakan lebih dari itu. Maka, saya pun
protes. Sahutan yang saya dapatkan sebagai hasil dari protes itu adalah:
"yang lain juga pada gak bikin!". Tak perlu mengetahui sumber
celetukan tersebut. Mari bersama bahas celetukannya saja.
Kata "yang
lain" pada kalimat tersebut menunjuk pada orang-orang lain. Dalam konteks
ini, berarti murid-murid lain di kelas saat itu. "Juga pada gak
bikin" berarti mereka tidak mengerjakan tugas yang dititipkan oleh sang
guru.
Apakah ada sesuatu
yang menarik untuk dibahas dari kalimat itu? Tentu, jika Anda mau sedikit peka.
Mari kita mulai.
Kalimat tersebut
menjadi cermin dari penyakit kronis yang telah diderita masyarakat kita secara
mendarah daging dan turun-temurun. Jangan saling menghakimi atau saling
menyalahkan. Cukup bercermin, lalu mengeluarkan gajah yang tersangkut di
pelupuk mata masing-masing sebelum meributkan debu di pelupuk mata orang lain.
Penyakit kronis apa?
Entah bagaimana menyebutnya. Sebuah kecenderungan untuk meniru pihak mayoritas
meskipun pihak mayoritas itu salah. Sebuah kecenderungan untuk malu menjadi
diri sendiri meskipun apa yang kita kerjakan adalah benar, tetapi memilih untuk
mengikuti orang kebanyakan yang salah. Saya yakin Anda mengerti.
Sebuah kebodohan
masal, tampaknya. Lihatlah diri kita yang berusaha menyamakan diri dengan
kebanyakan orang yang kita tahu telah tersesat. Kesalahan besar beramai-ramai.
Kesalahan pertama,
kita tahu kesalahan mereka, tetapi kita memilih untuk tetap melakukannya karena
kebanyakan orang melakukannya. Untuk apa? Sebuah penerimaan? Atau sekedar takut
menjadi berbeda?
Kesalahan kedua,
menyangkal kebenaran dan membohongi diri sendiri.
Kesalahan ketiga,
kita mempunyai kesempatan untuk mengajak orang-orang tersesat tersebut kembali
ke jalan yang benar dengan mempelopori jalan menuju kebenaran itu, tetapi kita
memilih melenyapkan jalan itu dan mengikuti jalan yang sesat. Siapa yang tahu
apabila orang-orang tersesat itu memang tidak tahu jalan yang benar. Mereka
tidak menyesat-nyesatkan diri mereka sendiri. Mungkin mereka juga menunggu
seseorang untuk menunjukkan jalan yang benar untuk mereka. Kita tidak akan tahu
jika tidak mencoba. Seandainya keadaan tidak demikian pun, kita mempunyai
tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran apabila kita mengetahuinya.
Kesalahan keempat,
kita telah membuat sebuah kerusakan besar di masa depan. Jalan yang sesat
tentunya tidak akan menuju sesuatu yang baik, bukan? Sebuah kesesatan yang kita
lakukan secara berkesinambungan, bahkan dari generasi ke generasi tanpa ada
pertobatan berarti, tentu akan membawa kita kepada sebuah jurang kehancuran.
Sebutlah hal ini sebagai akibat jangka panjang. Sebenarnya, tanpa melihat
terlalu jauh ke depan pun, kita dapat menemukan berbagai akibat jangka pendek.
Terlalu abstrakkah
pembahasan ini? Atau terlalu rumit? Tidak. Cobalah melihatnya dengan lebih
sederhana. Jangan terkecoh oleh bahasa yang kaku ini. Baiklah, mari kita
konkretkan dengan beberapa contoh.
Contoh pertama,
Perbuatan sesat:
membuang sampah sembarangan.
Sebab: kemalasan dan
ketidakpedulian terhadap lingkungan.
Dalih: "yang
lain juga begitu".
Akibat jangka pendek:
lingkungan kotor, tidak sedap dipandang, menjadi sarang penyakit.
Akibat jangka
panjang: penyumbatan tempat penampungan air dan peresapan air tanah yang
menyebabkan banjir (bajir menyebabkan kehilangan harta, kesehatan, bahkan
nyawa).
Contoh kedua,
Perbuatan sesat:
tidak mengerjakan tugas sekolah dan mencontek saat ujian.
Sebab: kemalasan
belajar, ketidakpedulian terhadap pendidikan dan masa depan, kelemahan iman,
anggapan bahwa ilmu yang dipelajari tidak berguna (sesat banget neh!),
kebobrokan moral.
Dalih: "yang
lain juga begitu".
Akibat jangka pendek:
tidak mengerti apa yang telah diajarkan guru di sekolah, kehilangan kesempatan
untuk menimba ilmu.
Akibat jangka panjang:
kebodohan generasi penerus bangsa (hal ini mengakibatkan kebobrokan jangka
panjang sebuah bangsa).
Dengan contoh-contoh
di atas, tentunya Anda telah memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa
yang sedang kita bicarakan.
Lalu, apa yang harus
kita perbuat mengenai masalah ini? Tentu hal tersebut juga harus kita bahas.
Pembahasan sebuah masalah seharusnya juga memberikan solusi. Berhasil atau
tidak, akan kita ketahui setelah kita mencoba. Supaya dapat kita coba, solusi
tersebut harus disarankan dahulu.
Berikut ini adalah
saran-saran yang dapat saya ajukan:
Pertama, perubahan
besar dimulai dari perubahan-perubahan kecil. Hal-hal sepele, seperti membuang
sampah pada tempatnya dan menegur orang lain yang membuang sampah sembarangan
untuk membuang sampah pada tempatnya, memang akan menuai komentar tidak
menyenangkan dari orang lain. Kita akan dianggap sok dan sebagainya. Namun,
dengan perbuatan-perbuatan kecil tersebut, kita memberi sebuah teladan untuk
orang lain. Paling tidak, kita tidak turut berpartisipasi dalam pengerusakan
lingkungan. Setia dalam perkara kecil, kata Alkitab.
Kedua, jika kita mau
mengubah orang-orang di sekitar kita, kita harus terlebih dahulu mengubah diri
kita. Jadi, kita sendiri harus terlebih dahulu bertobat dari
perbuatan-perbuatan destruktif sebelum mengajak orang lain untuk ikut bertobat.
Ketiga, pergunakanlah
dengan baik akal budi yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, manusia. Jika
kita telah dapat membedakan kesalahan dan kebenaran, bukankah seharusnya kita
mengambil kebenaran untuk kita jalani? Pikirkanlah, apakah perbuatan kita dapat
dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Keempat, jika kita
memang seorang manusia yang bermoral, wujudkanlah nilai-nilai moral itu dalam
kelakuan kita sehari-hari.
Sekali lagi, jika
semua ini tampak begitu rumit, pandanglah dan pikirkanlah dengan lebih
sederhana. Hahaha!