Archive for March, 2008

27
Mar

cengeng

Melupakan. Aku mendengar gadis cengeng merengek. Ingin melupakan mantan
kekasih. Memang aneh. Apakah mungkin dia melupakan seseorang yang telah mengisi
sebagian waktu hidupnya, jika bukan karena suatu kesalahan terjadi kepada
otaknya? Mungkin itulah yang ia minta. Amnesia, gegar otak, kerontokan sel-sel
otak, atau apa?

Dasar gadis cengeng. Menangis untuk seseorang yang telah menyakitinya. Untuk
apa? Padahal ia bisa saja mengenggelamkan pengalaman-pengalaman pahit (yang
sebenarnya tidak seberapa) ke dalam kenangan-kenangan indahnya bersama orang
yang sama. Hanya saja, ia terlalu emosional untuk dapat memikirkan itu. Bahkan
terlalu emosional untuk menyadari banyaknya gadis lain yang mengalami hal-hal
yang jauh lebih buruk. Luka, pengkhianatan, kekejian, apa lagi yang bisa kau
sebut?

Gadis cengeng. Bukankah pengalaman buruk bisa dijadikannya pelajaran? Sayang,
ia membuang semua pelajaran itu. Ia tidak ingin mengingatnya.

Sungguh cengeng gadis macam dia itu. Dia bahkan tidak menyadari bahwa
ditinggalkan tanpa pengkhianatan atau penganiayaan justru lebih menyedihkan. Setiap
sudut memorimu akan dipatri dengan kenangan-kenangan terindah yang hanya akan
melukaimu saat kau mengingatnya. Kau akan selalu ingat bahwa kau telah
kehilangan insan yang membahagiakanmu. Tundinglah sang maut.

Hai, gadis cengeng! Berhentilah menangis! Gunakan otakmu sejenak! Apakah
masalahmu itu memang sudah cukup berat untuk menenggelamkan bola matamu dengan
air mata? Hentikan tangismu! Aku bosan mendengarnya!

Benar-benar gadis cengeng. Karena dimanja selalu, tercolek sedikit saja
langsung koyak. Seperti kembang tahu. Tidak tahukah ia bahwa banyak sekali
manusia yang bermasalah jauh lebih berat daripada dirinya? Bahkan manusia-manusia
itu begitu tegar, ceria, dan selalu bersyukur.

Cukup panjang sudah tulisan ini. Kuharap kau bukanlah gadis yang cengeng.
Juga bukan laki-laki yang membuat seorang gadis menangis.

20
Mar

tidak muat

Sudah kedua kalinya cerpen saya tidak dimuat di tabloid sekolah saya. Jangan
salah, saya tidak menulis cerpen untuk mendapatkan uang. Saya sendiri adalah
anggota redaksi, sehingga saya tidak akan mendapatkan honor penulisan. Jadi, ini
bukan masalah uang. Saya juga tidak merasa tulisan saya menjadi mubazir. Saya
mempunyai sebuah blog untuk menampung cerpen-cerpen saya. Jadi, bukan itu juga
masalahnya.

Masalahnya adalah keinginan saya untuk menjaring pembaca lain. Di blog-blog
saya, tulisan-tulisan saya dibaca hanya oleh pembuka blog. Kali ini, saya ingin
tulisan saya dibaca oleh murid-murid sekolah saya. Rasanya pasti beda. Dengan
begitu juga, mereka bisa menyampaikan langsung komentar mereka tanpa repot-repot
mengeklik tombol reply, mengetik, lalu mempublikasikan reply. Tinggal
asal ceploskan saja apa yang ingin mereka katakan kepada saya. Lebih seru lagi,
jika ada yang membaca cerpen itu di sebelah saya tanpa mengetahui bahwa
penulisnya adalah saya, lalu orang itu menyeploskan berbagai komentar. Itu akan
jauh lebih objektif.

Tentunya, pembaca-pembaca cerpen itu -sebelum akhirnya si cerpen divonis
tak layak muat- telah memberi komentar kepada saya. Pada cerpen saya yang
pertama, pemred (pemimpin redaksi) menyampaikan bahwa cerpen saya terlalu
abstrak dan berat. Sungguh membingungkan saya sebab cerpen itu telah saya buat
sebiasa dan seringan mungkin (jika dibanding dengan cerpen-cerpen saya yang
lain) karena saya tahu kriteria tulisan untuk tabloid sekolah saya. Kemudian, untuk
cerpen yang kedua, guru bahasa Indonesia -selaku guru pendamping dalam
ekstrakurikuler jurnalistik- memberitahu saya bahwa cerpen saya dikhawatirkan
akan menimbulkan ketegangan dalam sekolah apabila dimuat. Padahal, cerpen yang
satu ini telah sangat biasa, tidak abstrak, dan tidak berat, tetapi ceritanya
tentang razia di sekolah itulah yang mengkhawatirkan. Sementara, penanggung
jawab bagian cerpen selalu mengatakan bahwa tulisan saya bagus dan unik.

Jika demikian, mungkin karakter tabloid itu memang tidak cocok dengan
karakter tulisan saya. Mungkin ada media lain yang bersedia memuatnya? Wah, itu
bukan sekali saja saya coba. Sudah puluhan kali saya kirimkan cerpen-cerpen
saya kepada majalah-majalah lokal, tapi tak sekali pun dimuat. Akhirnya, cerpen-cerpen
itu lagi-lagi berakhir di blog saya atau, lebih buruk, di recycle bin. Mungkinkah
kualitas tulisan saya yang patut dipertanyakan. Entahlah. Bacalah dan nilailah
sendiri.

Akhirnya, saya hanya dapat mengandalkan blog-blog asuhan saya sebab
merekalah media yang akan menampung tulisan-tulisan saya tanpa memberi syarat
apapun. Semua terserah saya. Siapa yang membaca dan apa tanggapannya juga bebas.
Terserah pembaca. Bisa me-reply, bisa langsung meninggalkan blog saya ke
alamat lain, bisa juga langsung menutup jendela pencari. Semua terserah.

16
Mar

Kacamata Minus (tajuk)

Sebagai pelajar-pelajar SMAK 5 BPK Penabur, kita
tentu mengetahui bahwa sekolah kita adalah sebuah sekolah yang
sangat ketat
peraturannya (bahkan, cenderung kejam bagi sebagian dari kita). Sekolah juga
menampakan ketegasan dalam menjalankan peraturan tersebut dalam hal kenaikan
kelas murid-murid. Sekolah seperti tidak mau berkompromi nilai barang sedikit
saja agar seorang siswa bisa naik kelas. Akibatnya, seperti yang kita ketahui,
setiap tahunnya ada sekitar dua puluh anak per angkatan yang tidak naik kelas.
Tentunya hal ini menjadi duka bagi murid yang tidak naik kelas dan orang tua
dari murid yang tidak naik kelas. Tidak hanya mengenai kenaikan kelas, dalam
banyak penerapan aturan lainnya, sekolah seolah-olah tidak mengenal toleransi.

Karena itu, sekolah, bagi kebanyakan dari kita,
seperti berusaha menyusahkan kita, para pelajar. Akan tetapi, apakah sekolah
benar-benar bermaksud mempersulit siswa? Ini memang pertanyaan yang konyol,
tapi banyak juga dari kita yang akan menjawab dengan konyol. Sebenarnya, kita
akan menjadi lebih konyol lagi apabila sekolah terlalu banyak berkompromi dan
bertoleransi kepada kita. Mari berpikir untuk jangka panjang agar dapat
mengerti hal ini. Sementara itu, beberapa pemikiran akan dijabarkan di bawah
ini.

Pertama, tugas sekolah sebagai sebuah lembaga
pendidikan adalah mencetak generasi penerus bangsa yang bermutu. Untuk dapat
menunaikan tugas tersebut dengan baik, tentu sekolah tidak bisa main-main.
Untuk menghasilkan manusia-manusia bermutu, sekolah sendiri juga harus bermutu.
Sekolah yang bermutu tidak akan berlembek-lembek. Jika sekolah terlalu lunak
terhadap murid-muridnya, yang terjadi adalah murid-murid tersebut tidak menjadi
pribadi yang tahan banting dan dapat bertahan dengan baik di masa depan nanti.
Dalam hal ini, sekolah juga mempersiapkan murid-murid untuk berkompetisi di
dunia kerja nantinya.

Kedua, masih sebagai pencetak generasi penerus
bangsa, sekolah harus dengan baik menyaring siswa-siswinya. Yang dimaksud
adalah, sekolah dapat mengidentifikasi mana murid yang telah memenuhi syarat,
mana yang belum. Ini berhubungan dengan pemberian nilai dan kenaikan kelas.
Jika dikongkretkan dengan contoh, misalnya saat ulangan harian. Murid-murid
yang memenuhi syarat sebagai murid-murid yang telah mengerti materi yang
diajarkan guru tentu akan mendapat nilai yang memenuhi standar. Sementara,
murid-murid yang mendapatkan nilai merah, tentu harus mengulang ulangan
hariannya dalam her atau remedial. Jika demikian, murid tersebut akan belajar
lagi agar sukses dalam ulangan ulangnya. Hal ini tentu membantu (meskipun agak
memaksa) agar murid dapat lebih mengerti materi yang diajarkan gurunya. Contoh lain,
kenaikan kelas. Siswa-siswi yang tidak memenuhi syarat kenaikan kelas tentunya
akan ditempa ulang di jenjang yang sama supaya nantinya ia menjadi siap untuk
mengikuti jenjang selanjutnya.

Ketiga, apabila sebuah sekolah tidak tegas terhadap
siswa-siswinya, kemungkinan besar siswa-siswi yang lulus dari sekolah itu tidak
akan menjadi pribadi-pribadi yang bermutu. Sementara, sebuah bangsa tentu
membutuhkan orang-orang bermutu untuk menjadi penerusnya. Sebuah negara
membutuhkan orang-orang bermutu untuk menjadi tulang punggungnya. Sementara
negara kita kaya akan sumber daya manusia, tetapi tanpa diimbangi mutu yang
berarti. Sedikit sekali sumber daya manusia yang baik di negara ini. Kebanyakan
orang harus hidup di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak mendapatkan
pendidikan. Sementara, banyak juga orang yang berpotensi dan berpendidikan
tinggi, tetapi memilih untuk meninggalkan Indonesia dan membangun negeri lain.
Maka, sebenarnya, kita semua adalah harapan bagi bangsa dan negara. Itulah
mengapa kita harus dididik dengan baik. Bukan dimanjakan.

Akhir kata, memandang dan berpikir lebih dalam dan
jauh lebih baik daripada memandang suatu masalah dengan "rabun jauh"
tanpa memikirkan ada apa di balik semua itu.

16
Mar

kording

Setelah tugas-tugas seru yang dahulu pernah diberikan guru bahasa
Indonesia, kali ini guru bahasa Indonesia memberikan tugas untuk membuat koran
dinding. Sebenarnya, dari delapan kelompok di kelas, hanya empat kelompok yang
harus membuat koran dinding. Sisanya, harus membuat drama. Yang mana lebih
susah? Kedua-duanya sama-sama susah dan
merepotkan, tetapi saya lebih memilih koran dinding daripada drama sebab saya
lebih senang menulis ketimbang berakting. Untungnya, setelah undian dibagikan, kelompok
saya mendapatkan tugas koran dinding.

Sayangnya, setelah dikerjakan, secara keseluruhan koran dinding kami
tidak memuaskan. Penyebab utamanya adalah pemanfaatan tenaga kerja yang kurang
efektif. Setengah dari anggota kelompok lebih memilih memubazirkan diri dengan
menganggur. Faktor kedua adalah keterlambatan memulai pekerjaan. Meskipun demikian, saya telah puas dengan
hasil pekerjaan saya sendiri. Bukan menyombong, tapi memang benar bahwa
sebagian besar koran dinding itu berisi pekerjaan tangan saya. Semua itu memang
tidak mungkin tanpa campur tangan Tuhan. Hahaha!

Lantas, ke manakah arah tulisan ini? Tulisan saya kali ini tidak berarah.
Saya hanya sedang ingin bercerita. Mungkin juga ingin berbagi. Maka, setelah
mengerpos tulisan ini, saya akan mengepos tajuk rencana yang saya tulis untuk
koran dinding kami yang bernama KLORIDA dan bermoto "Koran Sekolah
Inspiratif dan Aktual". Selamat membaca!

03
Mar

jingle

Rotijepit
Pada jam pelajaran bahasa Indonesia hari ini, kami -siswa-siswi-
diwajibkan untuk menciptakan sebuah jingle. Jingle yang dimaksud adalah iklan
yang berbentuk lagu. Bisa juga lagu yang diperuntukkan untuk iklan. Seperti
yang sering kita dengan di radio atau di televisi. Sebagai contoh: "Indomie,
Indomie seleraku. Indomie dari dan bagi Indonesia
" (kutipan jingle
iklan Indomie). Kira-kira, seperti itulah tugas kami.

Kami terbagi menjadi delapan kelompok dengan empat sampai lima orang
dalam sebuah kelompok. Setiap kelompok harus membuat satu jingle dan
menampilkannya di depan kelas. Sebenarnya, kata-kata dan nada jingle-lah yang
dinilai oleh sang guru. Namun, tidak sedikit kelompok yang mendramakan
keseluruhan iklan. Ada pula yang membuat koreografi. Benar-benar memeriahkan
suasana kelas.

Mau tidak mau tahu, saya ingin menceritakan penampilan saya sekelompok.
Kami mengarang sebuah produk dengan nama Roti Jepit. Roti Jepit adalah produk
burger yang sehat. Seperti yang selama ini kita ketahui, burger adalah makanan
asal bumi bagian barat yang biasa disebut "junk food" atau
"makanan sampah". Burger mempunyai konotasi makanan sampah yang
mengandung lemak jenuh dan berbagai zat yang tidak baik bagi kesehatan. Itulah
mengapa kita membuat Roti Jepit: burger yang sehat dan bergizi. Terdiri dari
bahan-bahan alami yang menyehatkan: roti, daging sapi, keju, telur, selada,
tomat, ketimun. Tanpa bahan pengawet, atau bahan kimian apapun yang berbahaya.

Kalau saja ada produk sungguhan seperti itu, saya pasti tidak ragu-ragu
menjadi kosumennya.