Sebagai pelajar-pelajar SMAK 5 BPK Penabur, kita
tentu mengetahui bahwa sekolah kita adalah sebuah sekolah yang sangat ketat
peraturannya (bahkan, cenderung kejam bagi sebagian dari kita). Sekolah juga
menampakan ketegasan dalam menjalankan peraturan tersebut dalam hal kenaikan
kelas murid-murid. Sekolah seperti tidak mau berkompromi nilai barang sedikit
saja agar seorang siswa bisa naik kelas. Akibatnya, seperti yang kita ketahui,
setiap tahunnya ada sekitar dua puluh anak per angkatan yang tidak naik kelas.
Tentunya hal ini menjadi duka bagi murid yang tidak naik kelas dan orang tua
dari murid yang tidak naik kelas. Tidak hanya mengenai kenaikan kelas, dalam
banyak penerapan aturan lainnya, sekolah seolah-olah tidak mengenal toleransi.
Karena itu, sekolah, bagi kebanyakan dari kita,
seperti berusaha menyusahkan kita, para pelajar. Akan tetapi, apakah sekolah
benar-benar bermaksud mempersulit siswa? Ini memang pertanyaan yang konyol,
tapi banyak juga dari kita yang akan menjawab dengan konyol. Sebenarnya, kita
akan menjadi lebih konyol lagi apabila sekolah terlalu banyak berkompromi dan
bertoleransi kepada kita. Mari berpikir untuk jangka panjang agar dapat
mengerti hal ini. Sementara itu, beberapa pemikiran akan dijabarkan di bawah
ini.
Pertama, tugas sekolah sebagai sebuah lembaga
pendidikan adalah mencetak generasi penerus bangsa yang bermutu. Untuk dapat
menunaikan tugas tersebut dengan baik, tentu sekolah tidak bisa main-main.
Untuk menghasilkan manusia-manusia bermutu, sekolah sendiri juga harus bermutu.
Sekolah yang bermutu tidak akan berlembek-lembek. Jika sekolah terlalu lunak
terhadap murid-muridnya, yang terjadi adalah murid-murid tersebut tidak menjadi
pribadi yang tahan banting dan dapat bertahan dengan baik di masa depan nanti.
Dalam hal ini, sekolah juga mempersiapkan murid-murid untuk berkompetisi di
dunia kerja nantinya.
Kedua, masih sebagai pencetak generasi penerus
bangsa, sekolah harus dengan baik menyaring siswa-siswinya. Yang dimaksud
adalah, sekolah dapat mengidentifikasi mana murid yang telah memenuhi syarat,
mana yang belum. Ini berhubungan dengan pemberian nilai dan kenaikan kelas.
Jika dikongkretkan dengan contoh, misalnya saat ulangan harian. Murid-murid
yang memenuhi syarat sebagai murid-murid yang telah mengerti materi yang
diajarkan guru tentu akan mendapat nilai yang memenuhi standar. Sementara,
murid-murid yang mendapatkan nilai merah, tentu harus mengulang ulangan
hariannya dalam her atau remedial. Jika demikian, murid tersebut akan belajar
lagi agar sukses dalam ulangan ulangnya. Hal ini tentu membantu (meskipun agak
memaksa) agar murid dapat lebih mengerti materi yang diajarkan gurunya. Contoh lain,
kenaikan kelas. Siswa-siswi yang tidak memenuhi syarat kenaikan kelas tentunya
akan ditempa ulang di jenjang yang sama supaya nantinya ia menjadi siap untuk
mengikuti jenjang selanjutnya.
Ketiga, apabila sebuah sekolah tidak tegas terhadap
siswa-siswinya, kemungkinan besar siswa-siswi yang lulus dari sekolah itu tidak
akan menjadi pribadi-pribadi yang bermutu. Sementara, sebuah bangsa tentu
membutuhkan orang-orang bermutu untuk menjadi penerusnya. Sebuah negara
membutuhkan orang-orang bermutu untuk menjadi tulang punggungnya. Sementara
negara kita kaya akan sumber daya manusia, tetapi tanpa diimbangi mutu yang
berarti. Sedikit sekali sumber daya manusia yang baik di negara ini. Kebanyakan
orang harus hidup di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak mendapatkan
pendidikan. Sementara, banyak juga orang yang berpotensi dan berpendidikan
tinggi, tetapi memilih untuk meninggalkan Indonesia dan membangun negeri lain.
Maka, sebenarnya, kita semua adalah harapan bagi bangsa dan negara. Itulah
mengapa kita harus dididik dengan baik. Bukan dimanjakan.
Akhir kata, memandang dan berpikir lebih dalam dan
jauh lebih baik daripada memandang suatu masalah dengan "rabun jauh"
tanpa memikirkan ada apa di balik semua itu.