Para pengguna internet senusantara pasti sudah
mengetahui bahwa beberapa situs yang sangat penting bagi kita telah diblokir
oleh pemerintah. Sejauh ini, yang saya ketahui telah diblokir adalah situs YouTube,
MySpace, dan RapidShare. Konon, Multiply, Blogspot,
dan banyak lagi, juga akan diblokir. Memang tidak masuk akal. Hanya karena film Fitna yang beredar di internet, situs-situs yang
menjadi andalan musisi-musisi dan blogger-blogger Indonesia untuk menampung
kreativitas menjadi tidak dapat diakses. Mungkinkah pemerintah kita hendak
memulai politik isolasi untuk Indonesia? Roy
Suryo memang Fitnaphobic!
Dengan sedikit berpikir logis saja, kita tahu bahwa
pemblokiran semacam ini tidak akan berguna. Pertama, rakyat jauh lebih
pandai daripada pemerintah dalam urusan teknologi. Kedua, sekalipun
situs-situs itu diblokir, masih banyak situs lain yang dapat menyuguhkan film
Fitna dan masih dapat diakses masyarakat secara bebas. Ketiga, arus
informasi melalu media maya sangat mustahil untuk dibendung (ini sudah
dibuktikan oleh pemerintah-pemerintah dari negara-negara lain yang sudah jauh
lebih maju dibanding Indonesia). Keempat, yang paling penting, inti
permasalahannya terletak pada moral masyarakat itu sendiri. Bukan pada
keberadaan film Fitna.
Poin keempat itu akan saya tekankan secara mendalam.
Jika memang masyarakat kita adalah masyarakat yang bermoral, film Fitna tidak
akan berpengaruh banyak. Namun, dari kepanikan pemerintah, kita dapat melihat
bahwa masyarakat kita mungkin saja masih kurang bermoral. Kebijakan impulsif
pemerintah memblokir situs-situs tertentu mengesankan kita bahwa sebenarnya
pemerintah tidak percaya diri. Lebih tepatnya, mereka tidak yakin apakah rakyat
yang mereka pimpin benar-benar bermoral. Entah karena mereka tahu diri mereka
sendiri masih krisis moral atau karena mereka kurang memperhatikan keadaan
rakyatnya, sehingga mudah saja muncul kekhawatiran yang tidak wajar terhadap
rakyat.
Bagaimana pun juga, kita tahu bahwa pemerintah kita
telah lupa akan prinsip demokrasi: dari, oleh, dan
untuk rakyat. Karena itu, menjadi pemerintah, bagi mereka, adalah
menjadi egois. Kebijakan yang mereka buat lebih berorientasi kepada kepentingan
individu atau kelompok mereka sendiri daripada untuk rakyat. Dari situ, kita
akan tahu bahwa segala protes akan sulit
membuahkan hasil (tetapi tetap harus diupayakan).
Sementara, demonstrasi pun tidak akan berguna karena di pihak lain, ada
masyarakat yang malah menuntut dibuatnya kebijakan pemblokiran.
Maka, kita harus banyak berdoa. Seperti yang telah
saya ungkapkan di paragraf sebelumnya, bahwa dalam bidang teknologi rakyat kita
lebih unggul daripada pemerintah. Itu berarti, hacker-hacker
kita mempunyai peluang sangat besar untuk membobol blokir yang
dibuat pemerintah. Hacker-hacker itu patut kita dukung dengan doa. Selain
itu, kita pun harus berdoa agar mata hati dan pikiran pemerintah kita dibukakan.
Agar mereka segera menyadari kekhilafan mereka dan bertobat.
Freedooooooommm!!