Archive for May, 2008

27
May

selebaran

Hari ini saya menemukan sebuah selebaran di atas meja ruang keluarga saya. Selebaran
itu dibawa pulang ibu saya tempo hari. Saat itu, dalam perjalanannya pulang
dari Cileduk ke Kelapa Gading, ia menemukan sejumlah mahasiswa sedang
mengadakan demonstrasi karena kenaikan harga BBM. Ibu saya mengambil selebaran
itu karena penasaran apa yang ditulis oleh para mahasiswa itu dan bagaimana
penggunaan Bahasa Indonesia mereka.

Hasilnya, saya sendiri pun terkejut ketika membaca selebaran itu. Penggunaan
Bahasa Indonesia mereka sangat buruk. Penggunaan huruf kapital yang berantakan,
tidak ada tanda baca, banyak kata mubajir, kalimat-kalimat ambigu,
ketidakkohesian. dan ketidakkoherenan. Itu dari segi bahasa. Sementara, gagasan
yang mereka sampaikan pun tidak baik, tidak logis, dan berargumentasi lemah
(fakta-fakta yang diungkapkan tidak relevan dengan argumentasi yang
disampaikan). Jangan lupa, selebaran itu dibuat oleh MAHASISWA.

Jika para mahasiswa, pelajar tingkat tinggi, mempunyai kemampuan bahasa dan
itelejensi sedemikian buruk, terbayangkah apa jadinya bangsa ini? Para
mahasiswa itu nantinya akan menjadi bagian dari penerus bangsa kita. Apakah
mereka pantas untuk itu?

Untungnya, saya mendapatkan secercah harapan ketika saya mendengar sebuah
pendapat bahwa mereka hanyalah segelintir kecil mungil dari jumlah besar
pelajar dan mahasiswa. Itu berarti, masih begitu besar harapan untuk kemajuan
bangsa di masa mendatang. Kita doakan saja.

Lalu, bagaimana lanjutan kisah selebaran itu? Yah, saya sedang berusaha
menemukan alamat atau kontak universitas tersebut agar saya dapat mengirim
kembali selebaran itu beserta koreksinya dan saran-saran penting untuk mereka. Semoga
saja, apa yang saya lakukan dapat berguna, paling tidak bagi ”segelintir”
mahasiswa yang dikhawatirkan akan menjadi perusak bangsa.Slbrn_2

12
May

dunia panas

Belakangan ini masalah pemanasan global (yang
dirasa orang-orang lebih gaul bila disebut global warming -padahal cuman
beda bahasa) telah menjadi obrolan hangat di mana-mana. Entah karena pemanasan
global adalah masalah dunia yang sangat serius, entah sekedar tren belaka.

Namun, tak banyak orang yang tidak mengerti apa
sesungguhnya pemanasan global itu. Kebanyakan orang tahu bahwa pemakaian
kantong plastik harus dikurangi, penghematan energi harus dilakukan, pemakaian
barang-barang yang menghasilkan karbon dan CFC (Chloroe Fluor Carbon, bukan
California Fried Chicken) harus dikurangi, dan mereka tahu bahwa kiat-kiat
tersebut dilakukan untuk menghadapi pemanasan global, tapi kebanyakan orang
tidak tahu apa hubungan plastik, karbon, CFC, maupun pemborosan energi dengan
pemanasan global. Semua itu hanya dilakukan karena gembar-gembor media di sana-sini
tentang pemanasan global. Entah ini kesalahan masyarakat yang kurang mengikuti
perkembangan zaman, atau salah pihak-pihak yang seharusnya
mensosialisasikan perihal pemanasan global dengan baik.

Bagaimana pun juga, masalah di atas akan kita bahas
lain kali ketika saya telah cukup bekal untuk menulis sebuah pos tentang itu. Saya
sendiri baru mulai mempelajari pemanasan global. Itu pun demi mengerjakan
sebuah karya ilmiah. Jadi, lebih baik kita membahas sebuah ide yang terdengar
agak gila, tapi sebenarnya logis bila dipikirkan.

Pemikiran ini sudah tercetus oleh beberapa ilmuwan,
tetapi tidak terlalu bergaung. Pemikiran ini tidak jauh dari teori evolusi
Charles Darwin. Yang mampu beradaptasi yang mampu bertahan. Makhluk
hidup dari zaman ke zaman terus-menerus mengikuti segala proses dan perubahan
pada lingkungan hidup mereka dengan terus beradaptasi untuk bertahan hidup. Adaptasi
itu dapat berupa perubahan prilaku maupun adaptasi morfologis (perubahan bentuk
tubuh). Itulah mengapa bentuk dan prilaku makhluk hidup zaman sekarang berbeda
dengan makhluk hidup zaman dulu. Tentu saja pemikiran ini ada hubungannya
dengan pemanasan global.

Telah terlihat selama ini bagaimana pemanasan
global mengakibatkan perubahan ekstrim pada banyak hal di dunia. Yang paling
tampak adalah perubahan iklim dan cuaca secara ekstrim dan pasangnya air laut
yang menyebabkan beberapa daerah dekat pantai menjadi terendam banjir (paling
tidak fenomena ini sudah sangat nyata di Indonesia). Selain itu, berbagai media
memaparkan bahwa pemanasan global mencairkan es di kutub bumi dan itulah yang
membuat lautan menjadi lebih "berisi" (meluap dan mengancam
menenggelamkan daratan).

Demi menghadapi segala hal mengerikan itu, berbagai
media juga menyarankan berbagai hal untuk dilakukan masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat
sering kali salah paham. Kesalahpahaman masyarakat terletak pada pemikiran
masyarakat bahwa pemanasan global dapat dihentikan. "STOP
GLOBAL WARMING"
adalah slogan yang sering tergaung dan paling tepat
untuk membuktikan kesalahpahaman itu. Meskipun saya hanya seorang pelajar SMA
berjurusan IPS, saya telah memelajari masalah pemanasan global (demi pembuatan
karya ilmiah) dan dari berbagai referensi yang saya terima, saya mendapati bahwa
pemanasan global bukanlah sesuatu yang bisa dihentikan.

Hal-hal yang selama ini disarankan kepada kita
untuk kita lakukan menyangkut masalah pemanasan global adalah demi memperlambat
proses pemanasan global. Sebab jika segala penyebab pemanasan global dihentikan,
maka manusia akan mundur ke peradaban purba dalam waktu yang singkat dan
terlalu mendadak. Mustahil.

Selain itu, beberapa geolog juga menyatakan bahwa
pemanasan global adalah proses alam yang memang seharusnya terjadi (bagian dari
siklus alam). Namun, proses pemanasan global itu rupanya terjadi terlalu cepat
akibat "bantuan" manusia yang berlebihan. Jadi, sebenarnya tanpa kita
memanas-manasi bumi, bumi ini memang akan berubah menjadi panas dengan
sendirinya.

Lalu, mengapa kita harus melakukan banyak hal untuk
mengahadapi pemanasan global? Seperti yang telah dijelaskan di atas, pemanasan
global terjadi terlalu cepat akibat campur tangan berlebihan dari manusia yang
sebenarnya tidak diperlukan. Kiat-kiat yang kita lakukan itu adalah demi memperlambat
kembali proses pemanasan global.

Di sinilah teori evolusi akan berperan. Kita tahu
bahwa setiap makhluk hidup diberikan kemampuan untuk beradaptasi terhadap
perubahan-perubahan di sekitarnya. Pemanasan global adalah salah satu perubahan
yang harus dihadapi makhluk hidup dengan beradaptasi (ini berarti manusia juga
pasti dapat menyesuaikan diri dengan pemanasan global). Namun, pemanasan global
terjadi terlalu cepat, sehingga kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi
dituntut terlalu keras. Kenyataannya, kebanyakan makhluk hidup tidak cukup kuat
beradaptasi dan bertahan. Mereka punah.

Itulah mengapa kita berusaha memperlambat pemanasan
global. Kita berusaha memberikan kesempatan pada makhluk hidup (termasuk
manusia) untuk beradaptasi dengan lingkungannya daripada punah.

Perubahan lingkungan yang terjadi terlalu
cepat dan ekstrim akan menyebabkan kegagalan adaptasi dan kepunahan makhluk
hidup.

01
May

hari buruh dunia

Hari ini adalah Hari Buruh Sedunia. Berkelompok-kelompok buruh Indonesia
mengadakan demonstrasi atau unjuk rasa, konvoi atau long march, sampai
kerusuhan, untuk memperingati hari raya para buruh ini. Tentunya, aksi-aksi
buruh (yang mengakibatkan kemacetan) dimaksudkan untuk menuntut hak-hak buruh. Baik
hak-hak mereka yang memang belum mereka dapatkan, hak-hak yang sudah mereka
dapatkan tapi mereka rasakan kurang, maupun hak-hak yang sesungguhnya bukan
milik mereka.

Bukannya saya tidak memihak para buruh, tetapi memang kenyataan bahwa
kebiasaan (sebagian dari) mereka untuk menuntut hal-hal yang tidak menjadi hak
mereka agaknya memuakkan. Tidak hanya menyumbat jalan-jalan yang biasa banyak
dilalui kendaraan (hal ini juga menyebabkan terganggunya aktivitas banyak orang),
mereka juga membuat repot para majikan meskipun tampaknya para majikan tidak
banyak ambil pusing karena hal ini memang tidak pantas dipusingkan. Akan tetapi,
ketika para buruh tukang tuntut telah sampai ke tahap penuntutan yang ekstrim
seperti mogok kerja, ada produktivitas yang terhambat.

Selain itu, ketika mereka menuntut banyak hal yang mereka pikir adalah
hak mereka, agaknya mereka kurang mempertimbangkan apakah diri mereka memang
benar-benar berhak atas hal yang mereka tuntut. Misalnya, masalah kenaikan gaji.
Apakah mereka memang pantas untuk mendapatkan kenaikan gaji apabila cara
bekerja mereka sendiri kurang maksimal (cenderung menganggur terselubung) dan
tidak memuaskan? Mereka akan memakai alasan kenaikan harga-harga barang. Para
majikan bukannya tidak mempertimbangkan hal kenaikan harga-harga barang. Para
majikan sudah memikirkan hal tersebut dan menaikan gaji. Namun, para buruh
kebanyakan tidak puas dengan kenaikan yang ada. Padahal, majikan sendiri juga
mengalami kesulitan finansial ketika harga-harga barang dinaikkan.

Saya tidak bermaksud menghakimi para buruh. Saya hanya memaparkan apa
yang saya lihat. Ini juga bukan generalisasi karena saya sadar betul bahwa
tidak semua buruh mempunyai perilaku yang buruk. Dengan tulisan ini, saya pun
tidak ingin pembaca menjadi bersikap anti-buruh. Bagaimanapun, buruh-buruh
jugalah manusia yang harus dihargai dan kita sebagai masyarakat dan konsumen
akan selalu membutuhkan jasa para buruh. Harapan yang saya selipkan dalam
tulisan ini adalah harapan bagi kemajuan para buruh.

Saya berharap, para buruh tidak hanya terus-menerus menuntut hak, tetapi
dapat menjadi lebih kreatif dan produktif. Dengan demikian, taraf hidup mereka
akan menjadi lebih baik dan (semoga) masyarakat yang puas terhadap hasil
pekerjaan mereka akan memberikan lebih banyak apresiasi. Namun, sangat saya
sayangkan bahwa para buruh kemungkinan besar tidak akan membaca tulisan ini.