Archive for July, 2008

31
Jul

waktu

Sekarang aku tahu betapa berarti setiap kesempatan yang Tuhan karuniakan untukku.
Andai semua ini hanya mimpi buruk.

29
Jul

pajadula (pada zaman dahulu kala)

Belakangan
ini, saya melahap berbagai cerita berlatar waktu zaman dulu. Red Cliff, salah
satunya. Selain itu, Narnia. Narnia memang memakai masih latar waktu dunia
zaman sekarang di Inggris, tetapi ketika para tokoh tersedot ke dunia lain,
dunia itu tidaklah modern seperti dunia sekarang.

Pada
latar waktu seperti itu, manusia-manusia masih hidup dengan cara yang sangat
sederhana. Mereka menggunakan peralatan hidup yang sederhana dan seadanya.
Tidak seperti kita yang telah serba canggih.
Hal-hal yang saat ini dapat kita
lakukan dengan cepat pun memakan waktu lama dan merepotkan di zaman itu.

Biarpun begitu, kehidupan mereka yang sederhana itu
sungguh membuat saya sangat iri. Saya sangat berharap saya dilahirkan pada
zaman itu. Meskipun saat itu hidup akan lebih keras, perempuan masih dianggap
sangat rendah derajatnya dibanding laki-laki, lingkup kehidupan masih sempit
dan monoton, tapi tetap tampak begitu nikmat.

Di saat-saat itu, setiap daerah mempunyai ciri khas
yang benar-benar signifikan. Baju-baju daerah, rumah-rumah adat, wajah-wajah
oriental. Berbeda dengan zaman sekarang di mana seluruh dunia bahkan mempunyai
kebakuan yang sama untuk kriteria kecantikan seorang wanita atau ketampanan
seorang pria. Sekarang, rumah-rumah di negara mana pun berbentuk sama,
orang-orang di negara mana pun mengikuti satu alur tren yang sama, pakaian
bermodel sama, model rambut sama, tata rias sama. Seluruh bagian dunia telah
tercampur aduk.

Sungguh, tidak ada yang salah dengan dunia masa
kini, tapi dunia masa lampau tetap membuat saya iri setengah mati. Saya ingin
berpakaian daerah sederhana. Kain-kain panjang dengan corak yang indah-indah.
Saya ingin rumah yang bentuknya unik dan khas. Saya ingin makanan dengan olahan
serba alami. Perawatan tubuh serba alami. Kelembutan sekaligus keteguhan wanita
zaman dulu. Kekakuan sopan santun masa lampau. Alat-alat sederhana yang agak
repot cara pemakaiannya. Semuanya itu.

Namun, bagaimanapun juga, saya baru terlahir
sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Saya hidup di zaman sekarang yang kita
sebut modern ini. Di latar waktu ini. Kenyataan yang hanya bisa saya terima dan
jalankan. Maka, saya akan tetap berusaha hidup sebaik mungkin di zaman sekarang
daripada memimpi-mimpikan masa lampau yang tak mungkin terulang dan membengkalaikan
kehidupan saya yang berlangsung di masa kini.

Lalu, saya membayangkan masa yang akan datang. Ketika
zaman telah berbeda jauh jika dibanding dengan saat ini. Saat saya sendiri
hanya tersisa sebagai seonggok fosil. Tentu ada generasi-generasi di bawah
generasi kita saat ini. Mereka manusia-manusia yang bahkan telah hidup dengan
cara yang lebih modern.
Di antara mereka, akan ada juga yang melihat dokumentasi
masa lampau dunianya. Mereka juga akan melihat masa-masa di mana seluruh dunia
masih begitu sederhana –bahkan bagi kita- dan belum tercampur aduk. Mereka juga
akan melihat masa kita –yang bagi mereka masih terlalu sederhana-. Di antara
mereka yang menyaksikan hal-hal tersebut, akan ada juga yang merasa iri dengan
dunia kita ini. Mereka yang berharap dilahirkan jauh lebih awal. Namun, apa
daya, mereka baru terlahir di zaman itu. Bagaimanapun juga, mereka tetap harus
hidup di zaman itu sebaik yang mereka bisa.

29
Jul

mini psikotes

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan sebuah tes
mini di sekolah. Tes tersebut berupa cerita super pendek dengan pilihan akhir
cerita di ujungnya.
Pilihan kita akan menentukan bagaimana karakter kita. Orang-orang
menyebutnya “psikotes”.

Ceritanya, suatu hari seekor
burung berwarna biru masuk ke kamar saya melalui jendela dan terjebak di dalam
kamar saya. Saya melihat burung itu begitu unik karena warnanya biru. Maka,
saya memutuskan untuk memelihara burung tersebut dalam sebuah kandang.

Keesokan harinya, saya terkejut
mendapati burung itu telah berubah warna menjadi kuning. Keesokan harinya lagi,
saya terkejut lagi karena ia telah berganti warna lagi menjadi merah. Hari
berikutnya, ia menjadi hitam. Esok harinya lagi, saya yang menentukan.

Awalnya, saya ingin burung itu
menjadi berwarna merah lagi karena menurut saya burung bewarna merah (marun)
sangat indah dan menarik. Apalagi jika bulu burung itu bergradasi halus ketika
tersorot cahaya lembut. Terbayang ia bertengger elok di dalam kandangnya.
Rupanya, keinginan saya tidak ada dalam pilihan jawaban yang disediakan.

Pilihannya ada empat. Pertama, burung tidak berubah warna alias tetap
hitam. Inilah pilihan saya karena bagi saya warna hitam adalah warna yang
elegan dan berwibawa (ini warna favorit saya). Bayangkan, burung dengan warna
dan karakter seperti itu pasti sangat anggun bertengger dalam kandangnya.
Apalagi ketika tertimpa cahaya lembut, bulunya berkilau pudar-pudar ungu di
beberapa tempat. Indahnya!
Pilihan kedua, burung kembali ke warna semula, biru. Pilihan
ketiga, burung berubah warna menjadi putih. Pilihan keempat, burung berubah
warna menjadi emas.

Rupanya, pilihan peratma sampai
terakhir merupakan gradasi dari karakter terburuk sampai terbaik. Sebagai
pemilih pilihan pertama, saya dicap sebagai orang yang berpandangan pesimis
yang terpuruk dan tertekan ketika ditimpa masalah. Pemilih pilihan kedua
ditunding sebagai orang-orang optimis yang ketika menghadapi masalah akan
berharap kehidupan akan kembali ke keadaan semula. Pemilih pilihan ketiga, orang-orang
optimis yang yakin keadaan akan menjadi lebih baik dari semula. Terakhir,
orang-orang yang tidak kenal tekanan, tahan banting, dan tetap bersemangat dan
berharapan tinggi ketika sedang mengahadapi masalah.

Entah karena saya mendapat
label ”kasta terendah” atau bukan, saya menganggap tes seperti ini payah karena
mengabaikan keunikan tiap individu. Terlalu menggeneralisasi. Selain itu, juga
mengabaikan beberapa faktor. Faktor pertama, ada kemungkinan responden memilih
berdasarkan warna kesukaannya dan karakter manusia tidak bisa begitu saja
ditentukan dari warna kesukaannya. Faktor kedua, responden bisa saja memilih
berdasarkan warna burung favoritnya (gagak-hitam, merpati-putih, dsb) dan
karakter seseorang tidak bisa begitu saja ditentukan dari burung kesukaannya.
Mungkin ada beberapa faktor lagi yang tak terpikirkan oleh saya.

Jadi, apakah tes semacam ini
berguna? Sedikit-sedikit berguna juga. Paling tidak bagi mereka yang masih
kebingungan menentukan jati dirinya atau mereka yang tidak mengenal karakternya
sendiri. Namun, jika sudah cukup mengenal diri sendiri, sebaiknya tidak perlu
mengacuhkan tes semacam ini karena ini justru berpotensi membuat Anda meragukan
diri sendiri atau keki karena tidak
menerima hasil tes tersebut (karena yakin betul hasil tes tersebut tidak sesuai
dengan diri Anda).

29
Jul

kelas baru

Tiap pertengahan tahun, agaknya
para pelajar Indonesia
mengalami alur hidup bertegangan tinggi. Ujian beruntun, kenaikan kelas,
liburan (yang awalnya menyenangkan, teapi kemudian membosankan), lalu masuk ke
lingkungan baru (kelas baru, jenjang pendidikan baru, dsb).

Sebagai salah satu peserta didik Indonesia,
saya menilai kelas baru adalah hal paling menegangkan dalam daftar di atas. Yang
mebuatnya begitu tegang adalah segala kekhawatiran yang berkecamuk di dalam
hati. Sekelas dengan siapa? Ada teman lama atau tidak? Ada musuh tidak? Banyak
teman atau jadi musuh publik?
Hal-hal yang tidak mungkin dikhawatirkan mereka yang berasal dari golongan
”merasa populer”.

Awalnya, saya menganggap ketiadaan teman lama dan keberadaan musuh dalam
kelas yang sama adalah penderitaan tiada tara. Namun, dalam kelas saya yang
baru ini, teori itu justru terpatahkan. Di kelas baru ini, saya bertemu dengan
beberapa teman lama, tetapi mereka justru tidak lagi bersikap sebagai teman
dekat. Saya malah bertemu teman-teman baru dan menjadi dekat dengan mereka.

Selain itu, saya juga tidak menemukan sedikit pun partikel musuh di kelas
baru ini. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, justru keberadaan musuh dapat
memacu semangat berkompetisi (secara sehat tentunya).

Bagaimanapun juga, ketakutan akan perubahan adalah sesuatu yang abnormal
karena Tuhan mengaruniakan pada setiap makhluk hidup: kemampuan beradaptasi.

14
Jul

peraturan

Sekolah adalah tempat di mana para pelajar dipersiapkan untuk menghadapi
masa depan. Dipersiapkan yaitu ditempa menjadi pribadi-pribadi bermutu tinggi
dan dibekali ilmu pengetahuan yang cukup -sebenarnya, ilmu pengetahuan tidak
pernah cukup bagi tiap orang, sehingga setiap orang harus terus-menerus belajar
sepanjang hidupnya.

Namun, tidak sedikit pelajar mengeluhkan betapa tidak bergunanya
beberapa hal yang diterapkan sekolah. Kurikulum, sistem, mata pelajaran, peraturan,
dan lain-lain. Ada saja yang dianggap "tidak akan terpakai di masa depan".
Benarkah itu? Tidak. Bagi saya, terlalu mustahil apabila sesuatu yang
diusahakan di suatu masa menjadi sia-sia di masa berikutnya. Memang, sia-sia
segala usaha dan repot-repot manusia karena segala yang ada pada manusia adalah
anugerah Tuhan, tetapi Tuhan memperhitungkan segala kerepotan dan usaha manusia.
Dalam paragraf-paragraf singkat ini, saya hendak membicarakan peraturan sekolah
sebagai salah satu alat penempa kepribadian pelajar yang seringkali dianggap
konyol dan tak berguna.

Peraturan-peraturan sekolah, merkipun terkadang terkesan menyulitkan
siswa, selalu mempunyai guna dan pertimbangan baik. Pengadaan peraturan-peraturan
ini menjadikan sekolah seperti miniatur kehidupan berbangsa dan bernegara yang
tertib hukum. Setiap sekolah mempunyai peraturan masing-masing yang harus
ditaati tiap warganya, konsekuensi atau hukuman bagi para pelanggar, dan
penghargaan bagi para teladan. Sama seperti tiap negara mempunyai peratruan
masing-masing, hukuman masing-masing, dan penghargaan masing-masing yang
berbeda dari negara-negara lain. Lingkup yang lebih kecil seperti daerah-daerah
dalam suatu negara, kota, desa, kecamatan, kelurahan, Rukun Warga, Rukun
Tetangga, bahkan keluarga selalu khas dalam membuat, menerapkan, dan menegakkan
peraturannya masing-masing.

Warga negara mematuhi peraturan negaranya paling tidak sebagai bagian
dari nasionalismenya. Maka, pelajar menaati peraturan-peraturan sekolahnya
paling tidak sebagi wujud dari rasa cinta kepada sekolahnya dan pengakuan
identitasnya sebagai warga sekolah tersebut, juga sebagai bukti bahwa pelajar
tersebut konsekuen terhadap pilihannya untuk menjadi pelajar (warga) di
sekolahnya.

Dalam hal ini, sekolah berperan untuk memberikan sebuah gambaran bagi
para pelajar tentang bagaimana salah satu sistem dalam kehidupan berjalan dan
melatih para pelajar agar terbiasa dengan sistem tersebut. Dengan ini, para
pelajar diharapkan untuk mengerti dan terbiasa dengan sistem tersebut. Tujuannya,
para pelajar mempunyai kepribadian bermutu tinggi yang dapat bersosialisasi
dengan baik dengan manusia-manusia lain (pelanggar peraturan merugikan orang
lain dan merusak hubungan dengan orang lain) dan mempunyai kehidupan berbangsa
dan bernegara yang baik.

Ini adalah salah satu bentuk bekal yang diberikan sekolah. Sesuatu yang
hanya diperoleh para peserta didikan formal.