Teman-teman, saya menghimbau kalian semua, jika bertamu ke rumah orang, cari dahulu tombol bel sebelum keasikan mengetoki pagar.
Saya kesal sekali hari ini. Ada seseorang bertamu ke rumah saya. Begitu datang, dia langsung asik ketok-ketok pagar. Padahal, tepat di sebelah pagar, terdapat tombol bel, yang pasti dapat dicapai orang dengan tinggi minimal 120 cm. Karena orang itu ketok-ketok saya mengira orang itu sedang bertamu kepada tetangga saya, sebab tetangga saya tidak punya bel. Biasanya, jika ada yang ketok-ketok, berarti tamu untuk tetangga saya.
Maka, saya biarkan saja orang yang keasikan bermain ketok pagar di depan rumah saya itu. Tidak lama kemudian, Si Mama ngebut turun dari loteng. Agaknya si tamu istimewa itu telah mengontak ponsel Mama karena ketokannya tak kunjung mendapat respon. Alhasil, saya mendapat omelan macam ini: “Ada orang ketok-ketok di depan, kamu budek ya?”. Omelan itu mendapat jawaban: “Bukannya itu tamu buat sebelah? Kita ‘kan punya BEL!”.
Si Mama yang memang sedang tidak senang dengan saya langsung berlalu. Agaknya dia mau saya mendengarkannya, tetapi tidak mau mendengarkan saya. Si tamu primitif (tak kenal teknologi BEL) itu tidak bisa saya persalahkan sebab saya sudah mengerti sifat si Mama yang jika sedang tidak senang, semua menjadi masalah.
Maka, teman, sekali lagi saya menghimbau kalian untuk memanfaatkan teknologi hasil peradaban umat manusia yang disebut BEL itu.