Archive for September, 2008

29
Sep

bel

Teman-teman, saya menghimbau kalian semua, jika bertamu ke rumah orang, cari dahulu tombol bel sebelum keasikan mengetoki pagar.

Saya kesal sekali hari ini. Ada seseorang bertamu ke rumah saya. Begitu datang, dia langsung asik ketok-ketok pagar. Padahal, tepat di sebelah pagar, terdapat tombol bel, yang pasti dapat dicapai orang dengan tinggi minimal 120 cm. Karena orang itu ketok-ketok saya mengira orang itu sedang bertamu kepada tetangga saya, sebab tetangga saya tidak punya bel. Biasanya, jika ada yang ketok-ketok, berarti tamu untuk tetangga saya.

Maka, saya biarkan saja orang yang keasikan bermain ketok pagar di depan rumah saya itu. Tidak lama kemudian, Si Mama ngebut turun dari loteng. Agaknya si tamu istimewa itu telah mengontak ponsel Mama karena ketokannya tak kunjung mendapat respon. Alhasil, saya mendapat omelan macam ini: “Ada orang ketok-ketok di depan, kamu budek ya?”. Omelan itu mendapat jawaban: “Bukannya itu tamu buat sebelah? Kita ‘kan punya BEL!”.

Si Mama yang memang sedang tidak senang dengan saya langsung berlalu. Agaknya dia mau saya mendengarkannya, tetapi tidak mau mendengarkan saya. Si tamu primitif (tak kenal teknologi BEL) itu tidak bisa saya persalahkan sebab saya sudah mengerti sifat si Mama yang jika sedang tidak senang, semua menjadi masalah.

Maka, teman, sekali lagi saya menghimbau kalian untuk memanfaatkan teknologi hasil peradaban umat manusia yang disebut BEL itu.

29
Sep

bank

Pagi ini, saya pergi ke bank untuk menabung. Sebenarnya, saya hanya berkeperluan untuk mampir di Bank Danamon. Namun, karena saya pergi bersama Ayah, kami berkeliling dahulu ke beberapa bank sebelum akhirnya sampai di Bank Danamon.

Sesampai di Bank Danamon, si Papi menanyakan jumlah setoran saya dan karena itu, saya mendapatkan tambahan modal untuk usaha dari si Papa dengan alasan “nyetor kok cuman secuil? Bikin malu aja!”. Hehehe… Di Bank Danamon, ternyata antrean sangat panjang. Ketika tiba di sana, saya mendapatkan nomor antrean 147, sementara saat itu nomor yang terpampang di papan teller baru 110. Akhirnya, si Papa menyerah dan mentransfer sejumlah uang dengan mengandalkan ATM ke rekening saya. Sejumlah uang yang saya jepit di buku tabungan saya saat itu saya serahkan padanya.

Setelahnya, kami pergi ke salah satu cabang Bank Mandiri. Rupanya, di Bank Mandiri, antrean jauh lebih panjang dibanding Bank Danamon. Hanya saja, tidak pakai nomor antrean. Para nasabah harus mengantri dalam barisan panjang dan tau diri (tidak menyerobot). Barisan itu panjang dan berkelok-kelok. Dari tempat yang disediakan untuk berbaris, sampai ke dekat pintu masuk, berbelok ke arah toilet, dari toilet sampai pintu masuk lagi. Banyak orang yang langsung menyerah dan pulang begitu melihat antrean panjang tersebut.

Bagaimanapun juga, antrean tadi termasuk cukup rapi dan sopan. Tidak seperti antrean zakat.

24
Sep

doakan

Teman, saya sedang sedih dan ingin bercerita.

Dahulu kala, di masa kecil saya, saya menghabiskan banyak tahun dibesarkan orang tuanya salah satu orang tua saya. Kakek dan Nenek dari pihak ayah. Sekarang, meskipun sudah berpisah provinsi, saya di Jakarta dan mereka di Sumatera Utara, kami masih saling berhubungan. Minimal setiap Minggu malam jam 8, saya akan menelepon ke sana. Sekadar bertegur sapa sampai saling menceritakan berbagai berita dan masalah.

Dua minggu lalu, seperti biasa, saya menelepon ke sana. Sayangnya, ketika saya bertanya “Nai-nai hao ma?” (Apa kabar Nenek?), jawabnya adalah “Bu hao” (Tidak baik). Sebabnya, ia mengalami sakit perut berlebihan yang sakitnya juga menjalar ke punggung dan membuatnya merasa tidak enak badan.

Hari-hari setelahnya, beberapa kali saya menelepon untuk mengecek keadaannya. Hasilnya, saya mengetahui bahwa sakit itu kambuhan. Dalam satu hari ia bisa begitu menderita, keesokannya baik-baik saja, tapi kemudian sakit lagi, dan seterusnya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk ke dokter terdekat. Dokter itu memberinya obat. Ia meminum obat itu secara rutin sampai habis. Tidak ada kemajuan. Senin kemarin, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Penang, Malaysia, untuk berobat.

Dari sanalah diketahui bahwa Nenek saya tercinta terkena kanker usus. Bersyukur kepada Tuhan karena stadium rendah. Berserah kepada Tuhan karena hanya itu yang bisa dilakukan manusia. Nenek harus menjalani operasi. Menurut dokter, sebaiknya sebelum lewat dua minggu. Biaya yang dibutuhkan adalah sekian puluh juta rupiah (harus menggunakan kata “sekian” supaya tidak dikira meminta sumbangan).

Rupanya, Nenek jauh lebih kuat dari saya. Usianya benar-benar telah menempa dia menjadi begitu luar biasa. Nenek sama sekali tidak terdengar khawatir maupun sedih di telepon. Sangat berbeda dengan saya. Malah, ia terdengar senang ketika saya meneleponnya. Ia memang selalu senang mendengar suara saya. Cucu kesayangan yang selalu ia rindukan.

Teman, saya akhirnya harus meminta sumbangan juga. Sumbangkan doamu. Terima kasih.

18
Sep

si penting

Selasa ini, upacara bendera. Panas dan capek, tapi simbol penghormatan untuk negara saya. Saya berhasil berdiri dengan rapi sampai suatu saat di ujung acara, lalat-lalat menggelitiki kaki-kaki saya. Ya sudahlah, bukan masalah besar.

Sepulang dari lapangan, langsung menuju ke kelas, saya sempat sejenak berjalan bersebelahan dengan seorang classmate (entah apakah kata ”teman sekelas” setara karena tidak semua anak di kelas adalah teman), yang tergolong manusia ”penting” yang cukup merasa dirinya ”penting”. Ketahuilah, bukan sengaja saya berjalan bersebelahan dengannya karena saya kurang senang dengan orang-orang yang merasa dirinya bernilai guna tinggi. Ketika sedang mengalami momen berjalan bersebelahan itu, sesuatu yang ajaib terjadi.

Saat itu, seorang murid lain mendapati si ”penting” masih berada di lantai dasar, sementara kelas kami berada dua lantai di atas kepala kami. Temannya bingung, ”eh, masih di sini? Gue kira lo udah naik!”. Jawabnya adalah ”ngapain buru-buru naik? Konci kelas kan ada sama gue!”. Lalu, dengan bangga dia mengeluarkan sepaket kunci kelas dari kantongnya untuk dipamerkan kepada temannya, disertai dengan efek suara buatannya sendiri ”tereeengngng…” yang serasi dengan gemerincing kunci.

Ajaib, ’kan? Si ”penting” ini, selaku pemegang kunci kelas, adalah orang yang ditunggu-tunggu warga kelas lainnya yang telah lelah dan kepanasan akibat upacara bendera, kebelet ngadem, dan kehausan. Sepenting itulah dia. Maka, seharusnya ia bersikap sebagaimana pentingnya dirinya, menjadi orang pertama yang tiba di depan pintu kelas dan membukakannya untuk teman-temannya yang sedang sengsara menanti nikmat. Bukannya berlama-lama, membiarkan orang-orang menunggu dan menahan rasa rindu pada sejukanya ruangan kelas ber-AC ganda, sambil menikmati nikmatnya menjadi ”orang yang ditunggu-tunggu”. Terkesan gila hormat seperti para pejabat, mentang-mentang penting, tak datang-datang.