Archive for October, 2008

25
Oct

binatang

Teman-teman, saya ingin menceritakan sesuatu. Hal ini terjadi beberapa hari yang lalu. Kebanyakan perempuan mungkin akan menyimpan “aib” semacam ini seumur hidupnya. Tidak dengan saya, sebab saya bahkan tidak malu karenanya. Saya diajarkan untuk malu HANYA jika saya berbuat dosa. Kejadian ini bukan salah saya dan dalam kasus ini, saya yakin saya tidak berbuat dosa. Jadi, saya tidak punya alasan untuk malu.

Begini, teman-teman. Beberapa hari yang lalu, saya mengalami pelecehan seksual tingkat sedang. Saya tidak akan menceritakan detailnya. Mengingatnya saja ogah! Hal itu terjadi ketika saya sedang antri ala zakat di kantin pada jam istirahat di sekolah. Saat itu, saya sangat lapar dan kantin sangat ramai. Benar-benar “zakat”. Di tengah keramaian yang mendesak-desak dan menggencet-gencet itu, ada “manusia” (nanti kau akan tahu mengapa ia diberi tanda kutip) yang memanfaatkan situasi tersebut untuk hal yang rendah dan kurang ajar.

Ya sudahlah. Membicarakannya pun tidak akan mengubah masa lalu. Mengutuknya pun tidak membuat saya merasa lebih baik. Marah-marah pun tak bernilai guna. Jadi, teman-teman, saya mohon doa kalian untuk saya agar dapat memaafkan orang tersebut dan agar saya cepat pulih dari perasaan tidak menyenangkan ini. Juga berdoalah untuk si bocah (SMP) cabul itu agar bertobat.

Teman-teman, dalam tulisan saya kali ini, saya ingin lebih membahas sesuatu yang lebih bernilai guna dan berbobot ketimbang perasaan saya terhadap si pelaku percabulan itu atau terhadap kejadian itu.

Saya ingin menyerukan bahwa PELECEHAN SEKSUAL ADALAH PERBUATAN YANG MERENDAHKAN HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA SEBAGAI MANUSIA! Duh, jangan ribet-ribet dong bahasanya! Oke deh, saya jelaskan.

Teman-teman, manusia tercipta sepaket dengan akal budi dan nurani. Akal budi dan nurani ini jugalah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk mamalia lain (yang kita sebut sebagai binatang). Ketika manusia melakukan pelecehan seksual, bukankah ia telah menyalahi akal budi dan nuraninya? Atau, lebih buruk lagi, akal budi dan nuraninya telah mati! Jika demikian, apa lagi yang membedakan manusia dari binatang selain bentuk fisik dan volum otaknya?

Dalam keadaan seperti itu, orang cabul (seperti binatang) bermodal naluri alami makhluk-makhluk mamalia, yaitu naluri seksual. Pada dasarnya, naluri yang haus kenikmatan ini ada demi mempertahankan suatu jenis makhluk hidup agar tidak punah. Binatang mempunyai libido hanya untuk itu dan mereka tidak dapat mengendalikannya. Maka, lihatlah manusia ketika ia tidak bisa mengendalikan libidonya. Lihatlah manusia ketika ia tidak bisa mengatur nalurinya (yang hanya boleh dipakai ketika ia telah berada di bawah pernikahan dan hanya boleh dipakai dengan pasangan nikahnya). Lihatlah, bukankah ia jadi begitu mirip dengan binatang?

Ya, itulah mengapa mereka dikutuki sebagai “binatang!” (dengan nada marah dan kasar) oleh sebagian kita yang marah.

Dengan mengingat sepotong khotbah oleh seorang penginjil yang saya kenal, saya menyampaikan kepada teman-teman pembaca bahwa manusia seperti itu adalah manusia yang membunuh kemanusiaan dalam dirinya dan membinatangkan dirinya. Manusia yang membinatangkan manusia.

Demikianlah, teman. Janganlah kita menjadi manusia semacam itu.

Lalu, setelah saya pikir-pikir, apakah patut saya marah kepada anjing jika anjing itu menggigit saya? Bukankah ia hanya binatang yang tak berakal tak berbudi tak bernurani? Bukankah ia tidak akan mengerti kemarahan saya?

Ah, sudahlah.

20
Oct

si penting lagi

Teman-teman, saya sedang kesal karena Si Penting yang beberapa waktu lalu juga pernah saya “gosip”kan di sini. Kali ini, ia melakukan sesuatu (atau justru tidak melakukan sesuatu), sehingga menyulitkan seorang teman dekat saya.

Ceritanya, Ibu Guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas praktek untuk pengambilan nilai psikomotorik. Sebagian anak harus mempresentasikan sebuah produk (termasuk saya), sebagian berpidato, sebagian menanggapi berita, dan sebagian lagi membacakan cerita pendek.

Teman dekat saya ini adalah salah satu yang kebagian membacakan cerpen. Ibu Guru menyerahkan sebundel naskah cerpen untuk kelas kami. Si Penting ini berinisiatif menerima budelan itu untuk diperbanyak dan dibagikan kepada anak-anak yang kebagian tugas membacakan cerpen.

Sayangnya, teman saya ini (entah bagaimana) tidak kebagian fotokopian naskah tersebut (padahal seharusnya naskah diperbanyak sesuai jumlah anak yang mendapatkan tugas ini). Ia telah bertanya dan meminta ke sana kemari, hasilnya nihil. Si Penting (si pihak bertanggung jawab) malah mengambinghitamkan anak lain (perbuatan tanpa nilai guna).

Teman, kita tidak bisa menghakimi siapapun karena kita pun bukan manusia sempurna. Kita pun tidak tahu apa yang Si Penting bersikap demikian. Saya pun berusaha tidak membencinya.

Lantas, apa kegunaan posting “gosip” ini? Nyaris tidak ada. Untungnya, saya selalu siap memberikan “pesan moral” dalam setiap tulisan saya.

Pertama, jika kita telah dipercayakan untuk suatu tugas atau memberikan diri menjalankan suatu tugas, kerjakanlah sepenuh kapasitas diri. (berkaca lebih baik daripada menunding)

Lalu, ketika -sengaja/tidak- kita melakukan kesalahan, janganlah kesalahan itu terlempar dari tangan kita ke orang lain.

Terakhir, jika kita memang salah, meminta maaflah. Demi kesopansantunan, paling tidak.

Teman-teman, maafkan saya telah menyeret kalian ke dalam dosa bergosip ini.

Teman dekatku yang sejak tadi kusebut-sebut, bersukacitalah senantiasa (1 Tesalonika 5: 16).

19
Oct

terjadi

Segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Saya setuju. Pikirkanlah segala hal buruk –terburuk- yang terjadi di dunia. Terburuk yang pernah kau ketahui. Terimalah dan katakanlah, semua itu juga terjadi atas kehendak Tuhan. Katakanlah dalam hatimu dan percayailah itu.

Mengapa Tuhan memberi semua itu terjadi? Ketika kita mengajukan pertanyaan ini, kita harus berhati-hati. Apakah kita sedang mempertanyakan perbuatan Tuhan atau mempertanyakan Sang Tuhan? Jika kita mempertanyakan Sang Tuhan, kita terancam untuk menjadi orang yang berusaha menghilangkan eksistensinya dari pikiran kita. Tuhan tidak dapat dipertanyakan. Lebih tepatnya, kita tidak pantas mempertanyakan Tuhan. Logika Tuhan tak terjangkau logika manusia –yang otaknya bahkan tak sebesar kepalanya, sementara Tuhan adalah Maha Besar.

Ingatlah, tidak ada yang terjadi (kejadian bukan hanya momen, tetapi juga segala proses dan hasil) tanpa tujuan. Selalu ada suatu tujuan di balik segala kejadian (juga bisa disebut “penciptaan” atau “ciptaan”, tidak lupa “peristiwa”). Apakah tujuan itu? Sebagian jawaban dapat kita cari dan dapat saat ini, atau kelak. Sebagian menjadi teka-teki (bahkan misteri) sampai kita mati.

Namun, semua itu tak pernah memberi kita alasan untuk memprotes Tuhan. Ingat, kita manusia. Suatu kebodohan bila bermegah sebagai manusia. Homo Sapiens. Makhluk Pemikir. Makhluk pemikir yang logikanya mentok se-otaknya dan otaknya, yaitu alat pikirnya, bahkan tak sebesar kepalanya.

Saya tidak sedang merendahkan manusia. Saya tahu benar manusia adalah ciptaan Tuhan (yang bahkan tak cukup terdeskripsikan dari segala pujian dan pujaan manusia kepada-Nya). Saya hanya mengingatkan kita, manusia-manusia, untuk tahu diri.

Manusia harus tahu diri sekaligus tahu bersyukur. Tahu bersyukur dengan memanfaatkan dengan sebaik mungkin otak yang telah Tuhan karuniakan. Dengan iman memimpin rasio, membuka mata lebar-lebar melihat hal-hal yang Tuhan perlihatkan (dalam hal ini) melalui segala kejadian (yang tidak pernah di luar kehendak-Nya). Tahu diri dengan tidak menuntut (lagipula kita tidak berhak untuk menuntut) ketika otak kecil kita tidak sanggup mencapai pesan Tuhan.

Memang susah, tapi lebih susah bertumbuh tanpa kesusahan?

19
Oct

bilangan fu

Saya baru selesai membaca karya terbaru Ayu Utami, Bilangan Fu. Mbak Ayu berhasil mengaduk-aduk perasaan saya sampai kacau balau luar biasa. Untuk itu, saya memberi apresiasi lebih untuknya dengan menulis sedikit refleksi dari buku itu di sini. Biasanya saya hanya akan menulis review di kandang Friendster saya yang lain.

Dalam buku ini, saya menemukan betapa segala manusia telah Tuhan ciptakan dengan kapasitas yang berbeda dan daya dukung yang berbeda. Di sini, saya tekankan terutama hal kapasitas dan pengasahan otak.

Sebagian manusia tercipta dengan kapasitas otak lebih dan dikaruniai fasilitas yang cukup untuk mendukung kemampuan otaknya. Sebagian manusia dikaruniai otak bekapasitas tinggi tanpa daya dukung yang cukup (seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi yang gigih luar biasa memperjuangkan fasilitas untuk otaknya). Sebagian manusia lahir dalam lingkungan yang memberinya daya dukung cukup tanpa kapasitas yang cukup untuk memanfaatkan fasilitas tersebut (atau ia hanya malas seperti anak-anak kota besar yang otaknya disuplai gizi berlebih, tapi jarang digunakan). Sebagian lagi justru mempunyai kapasitas di bawah rata-rata dan tidak mendapat fasilitas apa-apa. (Secara kasat, begitu. Namun, saya tetap yakin setiap orang diberi satu bagian otak yang berkapasitas tinggi, yang berbeda dengan orang lain, sehingga setiap orang akan mempunyai keahlian yang berbeda-beda)

Dalam Bilangan Fu, perselisihan yang benar-benar tegang terjadi antara dua saudara kandung, Parang Jati dan Kupukupu, yang keduanya mempunyai kapasitas sangat baik. Hanya saja, Jati berkesempatan memperoleh fasilitas serba cukup, sementara Kupukupu hidup dalam fasilitas serba kurang. Mereka berdua mempunyai kemampuan untuk berpikir secara luar biasa dan memimpin orang-orang untuk mengikuti pemikiran mereka.

Kemudian, saya menyadari lagi, bahwa ketika seseorang dengan kemampuan (kapasitas dan fasilitas maksimal) menemukan kebenaran, ia akan kesulitan membagikan (lebih tepat “meng-copy-paste”) kepada orang-orang lain sebab orang-orang itu tidak berkemampuan cukup untuk menampung kebenaran itu (Mbak Ayu membahasakannya “memikul”. “Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.” Tidak semua orang punya daya pikul yang sama).

Ketika orang berkemampuan di bawah si “paling mampu” keluberan kebenaran, ia hanya sanggup menampung sebagian kebenaran, kebenaran itu menjadi terpotong. Kebenaran harus utuh. Ketika ia terpotong, ia tidak lagi benar. Kebenaran yang cacat tidaklah benar. Ketika seseorang menerapkan kebenaran cacat, segalanya menjadi salah, menyedihkan dan menyakitkan.

Si Parang Jati ini sungguh pintar. Kepada yang tidak berkemampuan se-dirinya, ia menyediakan bentuk kebenaran yang lebih sederhana. Namun, ia terhalang si Kupukupu yang menampung “kebenaran terpotong” sebab “kebenaran terpotong” itu bertentangan dengan “kebenaran yang berbentuk lebih sederhana”. Maka, berselisihlah mereka sampai akhirnya Jati harus bertemu ajal karenanya. Ah, buah khayal Mbak Ayu yang satu ini sungguh menyayat-nyayat hati saya.

Saya kira cukup. Semoga Mbak Ayu oke-oke saja jika kelak ia tahu saya menyapanya demikian dan semoga ia tidak menganggap saya “melenceng” dari apa yang hendak ia sampaikan (sebab semua orang akan mempunyai hasil renung yang berbeda dari satu kisah yang sama). Bagaimanapun, saya tetap penggemar Mbak Ayu.

03
Oct

belajar berdoa

Saya baru pulang dari Bogor (pergi gak bilang, pulang norak). Tanggal satu bulan ini, saya dan teman-teman seiman segereja berangkat ke sana, ke tempat bertitel Wisma Abdi untuk mengikuti Praying Course. Terjemahannya “Kursus Berdoa”. Seperti namanya, kita mengikuti acara itu untuk belajar berdoa.

Ternyata, berdoa itu tidak sesederhana yang saya kira. Banyak syarat, banyak cara, banyak yang saya tidak mengerti. Dari tiga sesi yang tidak singkat, padat, tidak jelas (karena saya ngantuk) selama di sana, saya mendapat secuil pengetahuan tentang berdoa yang sedang saya usahakan agar terterapkan dalam keseharian saya. Saya akan mencoba berbagi secuil (dari secuil yang saya dapat) saja dengan teman-teman pembaca.

Pertama, saya baru mengerti bahwa setiap waktu dalam hidup adalah perjalanan doa. Cukup sulit untuk dijelaskan (apalagi saya sendiri tidak tahu jelas karena sedang mengantuk selama sesi). Kurang lebih, setiap saat dalam hidup kita adalah komunikasi antara kita dengan Tuhan. Ketika kita menginginkan sesuatu, ketika Tuhan merancangkan sesuatu, ketika kehendak kita dan Tuhan tersamakan.

Lalu, saya jadi tahu bahwa cara berdoa saya selama ini yang tanpa memejam mata itu tidak salah. Saya sendiri tidak suka memejam mata karena membuat mengantuk. Jika mengantuk, jadi tidak sopan dan tidak konsentrasi. Rupanya, doa bukanlah tentang pose, ritual, atau simbol, tetapi tentang hati. Pasti semua mengerti.

Selain itu, saya belajar berdoa cara baru: solitude. Mirip meditasi. Kebanyakan orang menyalahartikan solitude sebagai doa dengan mengosongkan pikiran. Tentu saja salah. Bagaimana bisa berdoa jika pikiran kosong? Solitude adalah doa dengan mengheningkan pikiran. Pikiran yang hening, tenang, dan jernih akan membuat kita melihat banyak hal, yang sebelumnya keruh, saat berdoa.

Terakhir, meskipun tidak disebut-sebut oleh sang penginjil, saya menyadari bahwa doa adalah kebutuhan manusia. Itulah mengapa manusia HARUS selalu berdoa. Bukan karena Tuhan butuh laporan kegiatan dan keinginan kita, bukan karena Tuhan ngambek jika tidak dihubungi, tapi karena manusia sendiri yang butuh berhubungan dengan Tuhan. Seperti yang kita tahu, Tuhan mencukupkan diri-Nya sendiri. Ia tidak butuh apa-apa. Selalu manusia yang membutuhkan Dia. Manusia melayani-Nya karena manusia sendiri yang butuh pelayanan, juga manusia berdoa kepada-Nya karena manusia sendiri yang membutuhkan doa.

Pindah topik, begitu pulang dari Bogor, saya dan Ibunda tercinta langsung baikan. Hehehe… Happy ending.