Saya baru pulang dari Bogor (pergi gak bilang, pulang norak). Tanggal satu bulan ini, saya dan teman-teman seiman segereja berangkat ke sana, ke tempat bertitel Wisma Abdi untuk mengikuti Praying Course. Terjemahannya “Kursus Berdoa”. Seperti namanya, kita mengikuti acara itu untuk belajar berdoa.
Ternyata, berdoa itu tidak sesederhana yang saya kira. Banyak syarat, banyak cara, banyak yang saya tidak mengerti. Dari tiga sesi yang tidak singkat, padat, tidak jelas (karena saya ngantuk) selama di sana, saya mendapat secuil pengetahuan tentang berdoa yang sedang saya usahakan agar terterapkan dalam keseharian saya. Saya akan mencoba berbagi secuil (dari secuil yang saya dapat) saja dengan teman-teman pembaca.
Pertama, saya baru mengerti bahwa setiap waktu dalam hidup adalah perjalanan doa. Cukup sulit untuk dijelaskan (apalagi saya sendiri tidak tahu jelas karena sedang mengantuk selama sesi). Kurang lebih, setiap saat dalam hidup kita adalah komunikasi antara kita dengan Tuhan. Ketika kita menginginkan sesuatu, ketika Tuhan merancangkan sesuatu, ketika kehendak kita dan Tuhan tersamakan.
Lalu, saya jadi tahu bahwa cara berdoa saya selama ini yang tanpa memejam mata itu tidak salah. Saya sendiri tidak suka memejam mata karena membuat mengantuk. Jika mengantuk, jadi tidak sopan dan tidak konsentrasi. Rupanya, doa bukanlah tentang pose, ritual, atau simbol, tetapi tentang hati. Pasti semua mengerti.
Selain itu, saya belajar berdoa cara baru: solitude. Mirip meditasi. Kebanyakan orang menyalahartikan solitude sebagai doa dengan mengosongkan pikiran. Tentu saja salah. Bagaimana bisa berdoa jika pikiran kosong? Solitude adalah doa dengan mengheningkan pikiran. Pikiran yang hening, tenang, dan jernih akan membuat kita melihat banyak hal, yang sebelumnya keruh, saat berdoa.
Terakhir, meskipun tidak disebut-sebut oleh sang penginjil, saya menyadari bahwa doa adalah kebutuhan manusia. Itulah mengapa manusia HARUS selalu berdoa. Bukan karena Tuhan butuh laporan kegiatan dan keinginan kita, bukan karena Tuhan ngambek jika tidak dihubungi, tapi karena manusia sendiri yang butuh berhubungan dengan Tuhan. Seperti yang kita tahu, Tuhan mencukupkan diri-Nya sendiri. Ia tidak butuh apa-apa. Selalu manusia yang membutuhkan Dia. Manusia melayani-Nya karena manusia sendiri yang butuh pelayanan, juga manusia berdoa kepada-Nya karena manusia sendiri yang membutuhkan doa.
Pindah topik, begitu pulang dari Bogor, saya dan Ibunda tercinta langsung baikan. Hehehe… Happy ending.