Archive for October 19th, 2008

19
Oct

terjadi

Segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Saya setuju. Pikirkanlah segala hal buruk –terburuk- yang terjadi di dunia. Terburuk yang pernah kau ketahui. Terimalah dan katakanlah, semua itu juga terjadi atas kehendak Tuhan. Katakanlah dalam hatimu dan percayailah itu.

Mengapa Tuhan memberi semua itu terjadi? Ketika kita mengajukan pertanyaan ini, kita harus berhati-hati. Apakah kita sedang mempertanyakan perbuatan Tuhan atau mempertanyakan Sang Tuhan? Jika kita mempertanyakan Sang Tuhan, kita terancam untuk menjadi orang yang berusaha menghilangkan eksistensinya dari pikiran kita. Tuhan tidak dapat dipertanyakan. Lebih tepatnya, kita tidak pantas mempertanyakan Tuhan. Logika Tuhan tak terjangkau logika manusia –yang otaknya bahkan tak sebesar kepalanya, sementara Tuhan adalah Maha Besar.

Ingatlah, tidak ada yang terjadi (kejadian bukan hanya momen, tetapi juga segala proses dan hasil) tanpa tujuan. Selalu ada suatu tujuan di balik segala kejadian (juga bisa disebut “penciptaan” atau “ciptaan”, tidak lupa “peristiwa”). Apakah tujuan itu? Sebagian jawaban dapat kita cari dan dapat saat ini, atau kelak. Sebagian menjadi teka-teki (bahkan misteri) sampai kita mati.

Namun, semua itu tak pernah memberi kita alasan untuk memprotes Tuhan. Ingat, kita manusia. Suatu kebodohan bila bermegah sebagai manusia. Homo Sapiens. Makhluk Pemikir. Makhluk pemikir yang logikanya mentok se-otaknya dan otaknya, yaitu alat pikirnya, bahkan tak sebesar kepalanya.

Saya tidak sedang merendahkan manusia. Saya tahu benar manusia adalah ciptaan Tuhan (yang bahkan tak cukup terdeskripsikan dari segala pujian dan pujaan manusia kepada-Nya). Saya hanya mengingatkan kita, manusia-manusia, untuk tahu diri.

Manusia harus tahu diri sekaligus tahu bersyukur. Tahu bersyukur dengan memanfaatkan dengan sebaik mungkin otak yang telah Tuhan karuniakan. Dengan iman memimpin rasio, membuka mata lebar-lebar melihat hal-hal yang Tuhan perlihatkan (dalam hal ini) melalui segala kejadian (yang tidak pernah di luar kehendak-Nya). Tahu diri dengan tidak menuntut (lagipula kita tidak berhak untuk menuntut) ketika otak kecil kita tidak sanggup mencapai pesan Tuhan.

Memang susah, tapi lebih susah bertumbuh tanpa kesusahan?

19
Oct

bilangan fu

Saya baru selesai membaca karya terbaru Ayu Utami, Bilangan Fu. Mbak Ayu berhasil mengaduk-aduk perasaan saya sampai kacau balau luar biasa. Untuk itu, saya memberi apresiasi lebih untuknya dengan menulis sedikit refleksi dari buku itu di sini. Biasanya saya hanya akan menulis review di kandang Friendster saya yang lain.

Dalam buku ini, saya menemukan betapa segala manusia telah Tuhan ciptakan dengan kapasitas yang berbeda dan daya dukung yang berbeda. Di sini, saya tekankan terutama hal kapasitas dan pengasahan otak.

Sebagian manusia tercipta dengan kapasitas otak lebih dan dikaruniai fasilitas yang cukup untuk mendukung kemampuan otaknya. Sebagian manusia dikaruniai otak bekapasitas tinggi tanpa daya dukung yang cukup (seperti tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi yang gigih luar biasa memperjuangkan fasilitas untuk otaknya). Sebagian manusia lahir dalam lingkungan yang memberinya daya dukung cukup tanpa kapasitas yang cukup untuk memanfaatkan fasilitas tersebut (atau ia hanya malas seperti anak-anak kota besar yang otaknya disuplai gizi berlebih, tapi jarang digunakan). Sebagian lagi justru mempunyai kapasitas di bawah rata-rata dan tidak mendapat fasilitas apa-apa. (Secara kasat, begitu. Namun, saya tetap yakin setiap orang diberi satu bagian otak yang berkapasitas tinggi, yang berbeda dengan orang lain, sehingga setiap orang akan mempunyai keahlian yang berbeda-beda)

Dalam Bilangan Fu, perselisihan yang benar-benar tegang terjadi antara dua saudara kandung, Parang Jati dan Kupukupu, yang keduanya mempunyai kapasitas sangat baik. Hanya saja, Jati berkesempatan memperoleh fasilitas serba cukup, sementara Kupukupu hidup dalam fasilitas serba kurang. Mereka berdua mempunyai kemampuan untuk berpikir secara luar biasa dan memimpin orang-orang untuk mengikuti pemikiran mereka.

Kemudian, saya menyadari lagi, bahwa ketika seseorang dengan kemampuan (kapasitas dan fasilitas maksimal) menemukan kebenaran, ia akan kesulitan membagikan (lebih tepat “meng-copy-paste”) kepada orang-orang lain sebab orang-orang itu tidak berkemampuan cukup untuk menampung kebenaran itu (Mbak Ayu membahasakannya “memikul”. “Hanya kebaikan yang boleh mewujud hari ini. Kebenaran harus kau pikul agar jangan jatuh ke tanah dan menyentuh bumi, menjelma, hari ini. Sebab, jika kebenaran menjelma hari ini, ia menjelma kekuasaan.” Tidak semua orang punya daya pikul yang sama).

Ketika orang berkemampuan di bawah si “paling mampu” keluberan kebenaran, ia hanya sanggup menampung sebagian kebenaran, kebenaran itu menjadi terpotong. Kebenaran harus utuh. Ketika ia terpotong, ia tidak lagi benar. Kebenaran yang cacat tidaklah benar. Ketika seseorang menerapkan kebenaran cacat, segalanya menjadi salah, menyedihkan dan menyakitkan.

Si Parang Jati ini sungguh pintar. Kepada yang tidak berkemampuan se-dirinya, ia menyediakan bentuk kebenaran yang lebih sederhana. Namun, ia terhalang si Kupukupu yang menampung “kebenaran terpotong” sebab “kebenaran terpotong” itu bertentangan dengan “kebenaran yang berbentuk lebih sederhana”. Maka, berselisihlah mereka sampai akhirnya Jati harus bertemu ajal karenanya. Ah, buah khayal Mbak Ayu yang satu ini sungguh menyayat-nyayat hati saya.

Saya kira cukup. Semoga Mbak Ayu oke-oke saja jika kelak ia tahu saya menyapanya demikian dan semoga ia tidak menganggap saya “melenceng” dari apa yang hendak ia sampaikan (sebab semua orang akan mempunyai hasil renung yang berbeda dari satu kisah yang sama). Bagaimanapun, saya tetap penggemar Mbak Ayu.