Pagi ini, pagi yang cerah, segar, dan bahagia. Pagi pertama saya memulai aktivitas di Jakarta setelah seminggu berkeliaran di sekitar Semarang dan Jogjakarta. Kembali ke aktivitas rutin saya, saya bangun pagi-pagi, mandi, lalu buru-buru ke sekolah. Rupanya, hari ini hari terakhir untuk hukuman apel saya. Ah, senang!
45 menit pertama, jam kosong. Saya mendengarkan keluh kesah teman sebangku saya. Rupanya, ada seorang teman lain yang tidak menyukainya dan terkesan berusaha membangun citra buruk teman saya di publik.
Setelah jam kosong, jam olahraga. Tema-teman sebangku saya hendak jajan karena jam olahraga tidak dipakai untuk belajar. Maka, dengan senang hati, saya menemani mereka.
Rupanya, di tengah perjalanan saya ke tempat perjajanan, saya berpapasan dengan seorang guru, Ibu Budi. Ibu Budi ini, ketika saya senyumi, bukannya melihat ke wajah saya yang sumringah, malah ke sepatu saya yang cantik mencolok.
“Tali sepatu kamu kok warna merah?” tanyanya.
“Saya ganti, Bu.”
“Kenapa diganti?”
“Biar bagus.”
Alhasil, saya diajak ikut ke ruang guru. Sayangnya, jawaban yang dengan cepat meluncur dari mulut saya adalah “nggak mau.” Yah, saya memang tidak mau ke ruang guru karena saya mau menemani teman-teman saya jajan makanan. Jawaban jujur gamblang itu membuat Ibu Budi menghentikan langkahnya, membalik badannya, dan melototi saya.
“Siapa nama kamu?” tanyanya dengan nada dasar ditransmus naik tiga not.
“Areta,” jawab saya dengan nada dasar tidak beranjak dan senyum semi permanen di wajah.
“Ikut saya ke ruang guru!” ketusnya.
Dengan berat hati, saya pun ikut ke ruang guru. Tentunya, setelah berlambai-lambai tangan ria dengan teman-teman.
Sampai di ruang guru, Ibu Budi mengadu kepada beberapa rekan guru lain, Ibu Sherly dan Ibu Dwi. Saya jadi merasa dikeroyok. Untungnya, hari itu, hati saya sedang bernuansa bahagia. Jadi, saya bisa tertawa cerita menanggapi semua omelan ketimbang menangis sakit hati.
Kira-kira begini ringkasannya.
Pertama, guru-guru berusaha menjelaskan kepada saya bahwa peraturan sekolah mewajibkan murid-murid mengenakan sepatu hitam polos penuh. Agaknya, tali sepatu yang saya anggap aksesori sepatu itu dianggap bagian penting dari sepatu yang membuat sepatu tidak bisa dibilang sepatu jika tidak ada talinya.
Kedua, pengadilan.
Awalnya, hukuman yang diputuskan bagi saya adalah melepaskan tali sepatu saya. Bagi saya, ini sangat merepotkan. Pertama, sepanjang hari saya harus menyeret-nyeret sepatu saya ketika berjalan karena sepatu tanpa tali tentu tidak memungkinkan kaki saya mengangkat tinggi-tinggi ketika berjalan. Atau, saya punya pilihan lain: mencari tali rafia (ini sempat terlintas di kepala saya). Kedua, sepulang sekolah, saya harus mendaki gunung lewati lembah dari Kelapa Gading ke Rawamangun. Sesuatu yang tidak mungkin terlaksana tanpa tali sepatu terpasang di sepatu saya. Resikonya fatal. Misalnya, jika saya harus menyeberang jalan, saya harus berjalan pelan-pelan sambil menyeret-nyeret sepatu, lalu tiba-tiba sebuah truk besar berkecepatan tinggi melaju menabrak saya sampai tak berbentuk. Rugi nyawa.
Karena itu, hukuman penggantinya adalah memberikan sepatu saya sebagai barang sitaan. Ini juga tidak mungkin. Apa mungkin saya ke Rawamangun tanpa sepatu? Selain itu, saya sedang tidak ingin berkotor-kotor.
“Gak mau. Ntar kaki saya kotor,” saya jujur kepada guru-guru.
“Ya udah, kaos kakinya gak usah dilepas,” kata salah satu guru.
“Gak mau. Ntar kaos kaki saya yang kotor.” Bayangkan jika saya harus memakai kaos kaki yang bagian bawahnya telah ternodai air entah apa yang tumpah di lantai, lalu tertempel kotoran-kotoran kering yang kemudian bercampur dengan air yang telah terserap kaos kaki. Lalu, ketika sepatu saya telah kembali, semua kejijikan itu harus saya jejalkan ke dalam sepatu saya. Kemungkinan besar, kaki saya akan busuk.
Hukuman pengganti terakhir adalah saya dipulangkan. Baiklah, saya pulang. Ini adalah hukuman yang paling mudah dan menguntungkan.
Pertama, saya untung waktu. Hari ini, dikarenakan banyak guru dan murid yang tidak masuk, saya akan banyak menganggur di sekolah karena terlalu banyak jam kosong. Bukankah lebih baik waktu menganggur itu saya gunakan untuk hal lain? Selain itu, saya bisa pergi ke Rawamangun lebih awal, sehingga sore harinya saya bisa belajar lebih awal untuk ujian di hari esok. Ketiga, saya tidak perlu menyumbangkan tali sepatu maupun sepatu saya untuk menjadi barang sitaan.
Maka, itulah pilihan saya.
Kejadian setelahnya tidak terlalu penting.
Beberapa jam kemudian, saya kembali ke sekolah dengan tali sepatu baru yang berwarna hitam yang saya beli di Mal Arion. Saya memamerkan tali sepatu baru saya kepada guru-guru yang tadi pagi memprotes si merah.
Oh ya, hukuman saya berlanjut. Besok, saya akan mengikuti ujian di ruang isolasi alias saya diskors saat ujian try out. Jadi, ujian yang membosankan itu tidak lagi membosankan karena saya diberikan kesempatan untuk mengikutinya dengan suasana berbeda.
*Tulisan ini netral dan moderat. Tidak mengantagoniskan atau memprotagoniskan pihak manapun.