Teman, akhir-akhir ini, dikarenakan sebuah diskusi kecil via SMS dengan seorang teman, saya merenung-renungkan sesuatu.
Saat itu, saya mengirimkan kepadanya ucapan selamat Natal. Sebenarnya, saya mengirimkannya kepada semua kontak saya. Kristen maupun non-Kristen. Sebab, yang ada dalam pikiran saya adalah imej Natal sebagai hari raya yang universal. Orang Kristen merayakannya sebagai peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, sementara yang non-Kristen merayakannya sebagai hari libur, hari berbelanja (karena SALE di mana-mana), dan hari tukar kado.
Dikarenakan pikiran saya yang begitu rupa, saya mengucapkan selamat Natal kepada semua orang yang saya kenal. Rupanya, di antara mereka semua, salah satu mendamprat saya dengan kalimat “emangnya gue orang Kristiani?!”. Awalnya, otak tulalit saya tersasar ke bayangan wajah seorang teman saya yang bernama Christiani, tetapi ia cepat sadar bahwa yang dimaksud orang itu adalah bahwa dirinya bukan orang beragama Kristen.
Dengan congkak, saya membela diri bahwa orang-orang berpola pikir modern mengerti tenggang rasa dan ikut berselamat-selamatan di segala hari raya. Bahwa hari raya tertentu tidak menjadi HANYA milik golongan tertentu (ini pandangan yang sangat basi). Bahwa orang Kristen boleh mengucapkan selamat Lebaran kepada Muslim dan turut merayakannya dengan makan ketupat bersama teman-teman Muslimnya (saya benar-benar melakukannya), sebaliknya Muslim boleh menyampaikan selamat Natal bagi orang Kristen meskipun masih haram bagi mereka untuk turut merayakannya. Sampai di situ, kontak kita putus karena ia tidak pernah membalas argumen saya.
Esok harinya, saya ber-SMS ria dengan seorang teman Muslim. Saya dengan penuh kesadaran menanyakan “lu natalan gak?”. Jawabnya “gak. Gue kan muslim”. Setelahnya, kami jadi berdiskusi kecil tentang tenggang rasa. Di tengah diskusi, ia menyatakan bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan karena kita sama saja. Jelas, pernyataan ini saya tentang sepenuh hati.
Ingatan saya kemudian terlempar ke tahun lalu, ketika sekolah saya memberi tugas kepada murid-muridnya untuk membentuk kelompok dan kemudian menulis sebuah buku biografi tentang seseorang dari golongan marjinal. Sebelum mendapatkan Mbak Laela, seorang cleaner di Mal Artha Gading, kami sempat mencoba dengan Pak Ujang, seorang pengamen yang sering mangkal di tugu timur Kelapa Gading.
Ketika itu, Pak Ujang agak bingung dengan kedatangan dan keramahan kami, sementara kami pun canggung menghadapinya. Saat itu, salah seorang teman kami yang duduk tepat di sebelah Pak Ujang ditanyai oleh Pak Ujang “kalian Cina ya?”. Dengan gaya santai yang dibuat-buat, teman saya menyatakan jawaban yang tidak relevan, “Ah, nggak. Kita semua sama aja kok. Sama-sama makan nasi.” Saya harus sekuat tenaga menahan tawa ketika diceritakan hal tersebut (sebab saat hal tersebut sedang berlangsung, saya tidak mendengarnya).
Teman, Tuhan menciptakan kita semua berbeda adanya. Ia Maha Kreatif. Jika memang Ia menciptakan kita semua unik dan berbeda, mengapa kita saling membandingkan dan mempersamakan diri?
Teman, Bhineka Tunggal Ika berarti BERBEDA-BEDA tetapi satu.
Apa artinya? Artinya, tidak ada alasan bagi kita untuk menyangkal perbedaan untuk dapat bersatu. Tanpa menyangkal perbedaan, kita dapat bersatu. Dengan menghargai perbedaan, menghormati yang berbeda, bertenggang rasa, kita bersatu tanpa menyangkal perbedaan.
Persatuan dengan menyangkal perbedaan itu salah adanya dan tidak awet, sebab jika begitu yang kira praktikkan, maka kita sedang menyangkal kebenaran, membohongi diri sendiri. Kenyataannya, kita semua memang berbeda adanya. Ketika akal kita telah bosan dibohongi, bukankah kita akan kembali memusuhi yang berbeda?
Maka, haruslah perbedaan itu kita terima dan kita cintai. Paling tidak, agar kita dapat jujur terhadap diri sendiri. Jujur bahwa kita semua berbeda adanya, bahwa perbedaan itu kita terima dan kita cintai, bahwa perbedaan itu membuat kita saling membutuhkan dan saling melengkapi, bahwa perbedaan itu mendukung kita untuk bersatu.
Indonesia bersatu!
0 Responses to “berbeda tidak sama”
Leave a Reply