Hari ini adalah hari pertama saya masuk sekolah setelah berjuang dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja tingkat DKI Jakarta di Bogor. Rupanya, hari ini cukup membingungkan. Setiap saya bertemu teman atau guru yang tahu mengenai lomba tersebut, saya akan mendapatkan pertanyaan “gimana lombanya?”. Bagi saya, jawaban yang tepat bagi pertanyaan tersebut adalah “lombanya baik-baik saja” dan itulah jawaban saya atau saya malah bertanya kembali “gimana gimana?”. Karena “gimana” yang dimaksud orang-orang adalah menang atau tidak, mereka bertanya lagi, “menang gak?”. Jawabanya adalah “gak”. Bagi yang bertanya “menang atau kalah?”, saya menjawab “gak menang” sebab “tidak menang” tidak selalu berarti “kalah” bagi saya. Yah, memang tampak wajar.
Yang membingungkan adalah pertanyaan “kenapa” setelahnya. Maksud saya, setelah saya menjawab “gak” bagi pertanyaan “menang gak?” atau setelah saya mengeluarkan pernyataan “gak menang”, saya akan mendapatkan pertanyaan “kenapa?”. Sungguh, sulit dijawab. Jawaban spontan dan asal saya bervariasi dari “yah, karena gak menang”, “karena orang lain yang menang”, “karena jurinya memutuskan begitu”, sampai pertanyaan balik “menurut lo?”. “menurut lo?” di sini bukan idiom yang berarti “harusnya lo udah tau” atau “lo tau sendiri lah!”, melainkan benar-benar pertanyaan saya yang kebingungan “menurut kamu, mengapa saya tidak menang?”.
Jadi, begitulah teman-teman. Jika saya berkata “saya menang”, saya dapat “selamat”, tetapi jika saya berkata “saya kalah”, saya dapat “kenapa?”. Padahal, lebih menyenangkan menjawab “saya menang karena…” karena pernyataan yang akan keluar adalah hal-hal positif dibanding “saya kalah karena…”. Ya, ‘kan?
0 Responses to “tidak menang”
Leave a Reply