Archive for February, 2009

26
Feb

benci guru?

Guru, bukan pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka mendapat gaji sebagai bayaran dari jasa mereka dan beberapa dari mereka menerima penghargaan karena keteladanan mereka. Cukup untuk membuat mereka tidak lagi disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun, sesungguhnya, memang ada guru-guru yang sungguh-sungguh pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka adalah para sukarelawan yang mengajar tanpa mengharapkan upah. Jika Anda pernah membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Anda tentu tahu Ibu Muslimah. Ia adalah salah satu contoh yang tepat.

Akan tetapi, dalam tulisan ini, hal tersebut tidak menjadi topik. Bahkan, paragraf di atas adalah paragraf pembuka yang melenceng dari topik. Hampir tidak relevan. Mohon maaf atas kesalahan ini.

Saat ini, saya hendak membahas sebagian kecil sikap tidak hormat para pelajar kepada guru-gurunya. Hal ini lebih banyak terjadi di kota-kota besar. Entah karena para pelajar kurang menghargai kesempatan pendidikan atau karena pola asuh orang kota yang terlalu membebaskan anak.

Hal ini baru belakangan ini saya sadari terjadi di sekitar saya. Mungkin karena dulu saya sendiri adalah siswa yang tiada menaruh hormat kepada guru-gurunya. Setelah saya lebih mengenal mereka dan setelah bertobat dari kejahiliyahan, barulah saya sadar betapa mereka baik dan memang pantas dihormati (mohon maaf, bapak/ibu guruku). Setelah melepas peran pelaku antagonis, kini saya menjadi seorang pengamat. Sang pihak ketiga maha tahu.

Kalau kamu perhatikan, (mengutip kata-kata khas seorang guru Kimia) para pelajar biasa melancarkan kata-kata yang penuh kebencian kepada gurunya (dilakukan tanpa sepengetahuan sang guru) ketika sang guru memberi tugas, menghukum si pelajar, atau bahkan sekadar menasihati si pelajar. Bagi sang guru, hal tersebut tentu dilakukannya demi kebaikan si pelajar sendiri. Namun, bagi si pelajar, apa yang dilakukan guru tersebut adalah sesuatu yang menyebalkan dan menyusahkan. Beberapa guru yang tegas bahkan akan menjadi “musuh” murid-muridnya.

Sementara, beberapa guru (biasanya guru-guru muda) yang memberi toleransi tinggi, berbiacara dengan manis dan baik, serta akrab dengan siswa-siswi (mungkin karena jarak usia yang tidak jauh), akan menjadi guru kesayangan siswa-siswinya.

Masalah seperti ini, entah karena ketidaksadaran pelajar akan maksud sang guru atau karena kemampuan guru untuk berkomunikasi dengan murid-muridnya yang terbatas. Entahlah.

Dalam kasus-kasus tertentu, ada pula pelajar yang membenci semua guru. Kemungkinan karena cap negatif terhadap guru-guru yang telah tertanam pada dirinya sejak lama. Misalnya, jika seorang anak dicap “nakal” oleh gurunya sejak kecil dan sering mendapat hukuman, maka anak tersebut akan mengecap guru sebagai sosok “algojo”, sehingga anak tersebut menjadi sangat tidak menyukai figur guru.

Ada pula kasus-kasus tertentu di mana guru, secara berlebihan, menunjukkan sikap anti terhadap siswa-siswinya. Entah marah karena hal-hal kecil, selalu ketus tanpa alasan yang jelas, dan sebagainya. Hal ini membuat sang guru semakin dibenci murid-muridnya dan semakin diberontaki. Sungguh hubungan timbal-balik yang negatif.

Masalah ini dapat diselesaikan apabila murid dan guru bersama memperbaiki pola komunikasi mereka. Apabila sejak dini guru-guru mau memakai cara kendali sosial yang bisa diterima dengan baik oleh murid-muridnya, maka murid-murid tidak akan membenci guru-gurunya. Juga, apabila murid-murid mau mendengarkan (benar-benar mendengarkan) guru-gurunya, murid-murid akan menyadari betapa guru-guru mempunyai maksud yang sangat baik bagi mereka (bukan sekadar cerewet).

Jadi, begitulah.