06
Mar
09

esaiku

Inilah esai yang saya tulis berdasarkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dalam rangka memenuhi salah satu nilai pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Pemerataan Pendidikan Ditinjau dari Sarana-Prasarana Pendidikan dan Mutu Pengajar

Beberapa tahun terakhir, terjadi femomena tidak-lulus-massal dalam dunia pendidikan. Setiap tahunnya, ratusan ribu anak di tanah air tidak lulus Ujian Nasional. Setiap tahun, beberapa sekolah, bahkan beberapa daerah, mengalami tingkat kelulusan nol persen.

Menurut Media Indonesia, Senin, 9 Juni 2008, “Angka ketidaklulusan ujian nasional (UN) pada jenjang sekolah lanjutan atas (SMA, MA, SMK) pada tahun ini mencapai sekitar 11% -12% atau sekitar 250 ribu siswa dari 2.260.148 peserta Persentase ketidaklulusan tersebut lebih tinggi daripada tahun lalu yang mencapai sekitar 10%.”

Hal ini, di setiap pergantian tahun ajaran, dapat kita temukan di media-media massa, terutama televisi. Dalam satu hari, sebuah stasiun televisi bisa berkali-kali menayangkan berita serupa: ketidaklulusan para pelajar dari Ujian Nasional. Dalam berita-berita tersebut, dapat kita lihat bahwa masalah ketidaklulusan tersebut terjadi di banyak tempat, di banyak sekolah. Sebab, di setiap berita serupa, sekolah dan daerah yang diberitakan berbeda-beda. Berarti, stasiun televisi tidak mengulang apa yang telah diberitakan sebelumnya, tetapi melengkapi pemberitaan sebuah fenomena dalam dunia pendidikan dengan meliput dan memberitakan selengkap-lengkapnya kejadian tersebut.

Kendati demikian, ketika kita melirik ke kota-kota besar dan, terutama, ke sekolah-sekolah elit, tingkat kelulusan selalu berada di atas sembilan puluh persen. Bahkan, kelulusan dengan nilai tinggi pun sudah menjadi hal lumrah. Bahkan, tingkat kelulusan seratus persen dengan nilai mendekati sempurna selalu menjadi target di setiap tahun pelajaran. Justru, ketika didapati satu atau dua anak yang tidak lulus, hal ini menjadi masalah yang heboh dan besar. Sangat tidak lumrah.

Mengapakah kesenjangan yang demikian kentara bisa terjadi di Indonesia? Tidak lain karena pemerataan pendidikan di Indonesia masih belum berhasil. Memang, pemerintah telah mencanangkan berbagai cara, seperti transmigrasi (dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia di pelosok-pelosok tanah air), perbaikan sarana dan prasarana transportasi dan distribusi, dan guru perintis. Namun, kesadaran masyarakat dalam mendukung program pemerintah masih sangat memrihatinkan. Ini pula salah satu halangan bagi pemerintah untuk menyukseskan suatu kebijakan.

Tidak ratanya pendidikan di Indonesia terjadi dalam beberapa aspek. Pertama, mutu pengajar dan mutu pendidikan. Mutu pengajar dan mutu pendidikan ini saling berkaitan. Masalah ini bisa terjadi karena langkanya guru yang bersedia atau mampu mengajar di daerah-daerah terpencil di tanah air. Dari sedikit guru yang bersedia dan mampu mengajar di daerah-daerah terpencil tersebut, hanya sebagian kecil dari mereka yang memenuhi standar mutu pengajar yang cukup. Sebabnya, guru-guru yang bermutu lebih memilih untuk mengajar di kota karena gaji yang lebih besar dan tingkat kesulitan yang lebih kecil. Sementara, guru-guru yang mengajar di pelosok-pelosok kebanyakan adalah sukarelawan yang mayoritas tidak berpendidikan tinggi, sehingga yang materi-materi yang mereka sampaikan kepada murid-murid mereka pun hanya sedikit dan kurang mendalam.

Tidak itu saja, rendahnya mutu pendidikan di beberapa daerah juga terjadi karena pengangguran-pengangguran terselubung terselip di antara para pengajar. Artinya, banyak pengajar yang mengajar tidak sesuai dengan bidang yang dikuasainya. Misalnya, seorang Sarjana Ekonomi terpaksa mengajar Olahraga karena hanya itu lapangan kerja yang tersedia baginya. Misalnya juga, seorang Sarjana Hukum harus mengajar Matematika karena tidak ada tenaga pengajar untuk pelajaran Matematika di lembaga pendidikan tersebut. Hal ini juga menyebabkan minimnya materi yang dapat disampaikan para pengajar kepada anak-anak didiknya.

Selain itu, ada pula masalah kekurangan tenaga pengajar menjadi penyebab tidak ratanya mutu pendidikan di Indonesia. Di beberapa daerah, terutama yang terpencil, lembaga pendidikan selalu kesulitan mencari pengajar. Selain karena tidak banyak guru yang bersedia tinggal dan mengajar di daerah terpencil, juga karena masyarakat sekitar pun tidak bisa membantu mengajar karena mereka sendiri minim pendidikan. Hal yang sama juga terjadi di Belitong, pulau yang menjadi latar tempat kisah Laskar Pelangi. Dalam cerita Laskar Pelangi, sebuah sekolah kampung, Muhammadiyah, hanya mempunyai dua orang pengajar yang salah satunya merangkap kepala sekolah.

Bahkan, di daerah seperti pelosok Pulau Kalimantan, terdapat Sekolah Dasar yang hanya memiliki satu tenaga pengajar yang mengajar kelas satu sampai enam Sekolah Dasar dan merangkap pula sebagai kepala sekolah. Kendati demikian, semangat mengajar guru tersebut, sama halnya dengan semangat mengajar Bu Mus dalam Laskar Pelangi, sungguh luar biasa. Dengan semangatnya itulah, sekolah yang begitu serba kekurangan pun bisa terus berjalan.

Selain mutu pendidikan dan mutu pengajar, tidak ratanya pendidikan di Indonesia juga terjadi pada sarana dan prasarana pendidikan. Dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, terdapat beberapa bab yang menjabarkan kesenjangan antara sekolah elit atau sekolah Gedong dan sekolah Muhammadiyah, sekolah kampung yang miskin, di Pulau Belitong. Padahal, kedua sekolah tersebut terdapat di daerah yang sama, tetapi kesenjangan di antara dua sekolah tersebut sungguh kentara.

Dalam novel Laskar Pelangi, dijelaskan secara khusus kesenjangan yang terjadi di Bab 8 Center of Excellence (halaman 55-58).

Hal serupa juga terjadi di beberapa daerah pelosok tanah air. Sekolah doyong yang atapnya berlubang, sekolah yang sudah miring dan sewaktu-waktu bisa ambruk, bahkan sekolah yang benar-benar ambruk dan menewaskan banyak siswa (beberapa kali, berita seperti ini muncul di televisi).

Tidak jarang, terdapat sekolah-sekolah di daerah terpencil yang gedungnya merupakan gedung bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Adapula sekolah-sekolah “liar” yang bahkan tidak punya gedung ataupun tempat khusus untuk melangsungkan kegiatan belajar-mengajar. Sekolah-sekolah seperti ini tidak diakui untuk mengikuti ujian-ujian formal yang diadakan pemerintah.

Umumnya, sekolah-sekolah di desa-desa mengalami kekurangan fasilitas seperti ini karena kesulitan ekonomi. Padahal, sarana-prasarana pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar dan penting untuk menjadi wadah untuk menampung daya kreativitas pelajar.

Dengan kekurangan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah-sekolah yang kurang mampu, kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah tersebut menjadi terhambat atau sulit dilangsungkan dengan maksimal. Hal ini menyebabkan pelajar-pelajar di sekolah-sekolah tersebut sulit melaksanakan kegiatan belajar yang kondusif, tidak tertampung daya kreativitasnya, dan terbatas dalam mengembangkan diri. Karena itulah, sekolah-sekolah yang kesulitan ekonomi tidak mampu menyeratakan diri, apalagi bersaing, dengan sekolah-sekolah elit, terutama yang berada di kota-kota besar.

Di sisi lain, di belahan tanah air di mana kita berpijak, kita dapat dengan jelas melihat sekolah-sekolah besar, elit, penuh fasilitas, dan didukung pengajar-pengajar profesional. Di sekolah-sekolah seperti ini, para pelajar diberi kesempatan untuk berkembang dalam berbagai bidang yang diminatinya. Para pelajar diberi kesempatan untuk mengembangkan ide, kreativitas, dan segala potensi diri yang dimilikinya. Juga, diberi kesempatan untuk memelajari berbagai bidang ilmu secara meluas dan mendalam dari pengajar-pengajar yang benar-benar ahli di bidangnya. Sungguh perbedaan yang sangat kentara jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang kekurangan biaya.

Padahal, dengan ketidakrataan mutu pendidikan di Indonesia, daerah-daerah tertentu menjadi lebih terbelakang dibanding daerah lain yang sudah modern. Selain menimbulkan kesenjangan dalam berbagai aspek, hal tersebut juga menyebabkan sulitnya pembangunan di daerah-daerah tertentu. Ini adalah salah satu alasan perlunya dilakukan pemerataan mutu pendidikan di Indonesia.

Jika hal seperti ini terus berlanjut, kelak pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang terbelakang akan sulit sekali bersaing maupun bekerja bersama dengan pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang mampu dan elit. Selain karena kapasitas keahlian, keterampilan, kepandaian, dan bekal pendidikan yang berbeda, juga karena pelajar-pelajar dari sekolah-sekolah yang tidak terkenal dan terpencil akan mendapatkan perlakuan berbeda dari lembaga-lembaga yang menampung tenaga kerja karena lembaga-lembaga tersebut juga menilai kemampuan kerja seseorang berdasarkan mutu lembaga pendidikan yang pernah dimasukinya.

Dampak negatif permasalahan ini sesungguhnya sangat besar jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu, lagi-lagi, pembangunan Indonesia. Ketika sumber daya manusia-sumber daya manusia yang ada tidak dapat saling bekerja sama, berarti pembangunan yang tengah berjalan tidak akan mencapai titik maksimalnya. Maka, selain pembangunan menjadi lambat, juga hasilnya tidak mencukupi kebutuhan masyarakat.

Hal ini tentunya dapat menghambat Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara lain di dunia, serta membuat Indonesia semakin terbelakang jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Padahal, Indonesia, yang saat ini masih tergolong negara berkembang, juga sedang berusaha untuk mencapai tahap negara maju. Jika berbagai masalah pendidikan di Indonesia tidak segera diselesaikan, tentu menjadi negara maju masih akan tetap menjadi cita-cita muluk untuk jangka waktu yang sangat panjang ke depan.

Lalu, adakah yang dapat masyarakat lakukan dalam menghadapi masalah ini? Tentu ada. Cara yang paling mudah adalah dengan taat membayar pajak. Dengan demikian, masyarakat telah membantu meningkatkan pendapatan pemerintah, yang kemudian jug digunakan untuk menunjang pembangungan subsidi pemerintah. Selain itu, partisipasi aktif dalam beramal dan menyediakan diri sebagai sukarelawan juga akan sangat membantu.

Di SMAK 5 BPK Penabur, telah tersedia wadah untuk menampung bantuan bagi mereka yang membutuhkan biaya lebih untuk menunjang pendidikannya, yaitu program Sahabat Masa Depan. Secara rutin, pelajar SMAK 5 BPK Penabur bisa menyisihkan sebagian kecil uang jajannya untuk disumbangkan melalui Sahabat Masa Depan agar kemudian uang itu disumbangkan bagi sekolah yang membutuhkan biaya untuk menunjang kelangsungan kegiatan pendidikannya. Program ini, meskipun kelihatan kecil sekali partisipasinya jika dilihat dengan skala nasional, tetap telah turut membantu meratakan tingkat pendidikan di Indonesia.

Jadi, pemerataan pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih diperjuangkan. Keberhasilan usaha ini sangat tergantung pada kesadaran dan partisipasi masyarakat Indonesia. Jika usaha ini membuahkan hasil yang baik, niscaya pembangunan Indonesia di masa depan akan lebih tertunjang. Maka, sebagai warga negara yang baik, tentu kita harus turut membantu pemerintah menyukseskan pemerataan pendidikan di Indonesia, bahkan dengan partisipasi terkecil sekalipun.




0 Responses to “esaiku”


  1. No Comments

Leave a Reply