Teman-teman, saya sedang kesal karena Si Penting yang beberapa waktu lalu juga pernah saya “gosip”kan di sini. Kali ini, ia melakukan sesuatu (atau justru tidak melakukan sesuatu), sehingga menyulitkan seorang teman dekat saya.
Ceritanya, Ibu Guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas praktek untuk pengambilan nilai psikomotorik. Sebagian anak harus mempresentasikan sebuah produk (termasuk saya), sebagian berpidato, sebagian menanggapi berita, dan sebagian lagi membacakan cerita pendek.
Teman dekat saya ini adalah salah satu yang kebagian membacakan cerpen. Ibu Guru menyerahkan sebundel naskah cerpen untuk kelas kami. Si Penting ini berinisiatif menerima budelan itu untuk diperbanyak dan dibagikan kepada anak-anak yang kebagian tugas membacakan cerpen.
Sayangnya, teman saya ini (entah bagaimana) tidak kebagian fotokopian naskah tersebut (padahal seharusnya naskah diperbanyak sesuai jumlah anak yang mendapatkan tugas ini). Ia telah bertanya dan meminta ke sana kemari, hasilnya nihil. Si Penting (si pihak bertanggung jawab) malah mengambinghitamkan anak lain (perbuatan tanpa nilai guna).
Teman, kita tidak bisa menghakimi siapapun karena kita pun bukan manusia sempurna. Kita pun tidak tahu apa yang Si Penting bersikap demikian. Saya pun berusaha tidak membencinya.
Lantas, apa kegunaan posting “gosip” ini? Nyaris tidak ada. Untungnya, saya selalu siap memberikan “pesan moral” dalam setiap tulisan saya.
Pertama, jika kita telah dipercayakan untuk suatu tugas atau memberikan diri menjalankan suatu tugas, kerjakanlah sepenuh kapasitas diri. (berkaca lebih baik daripada menunding)
Lalu, ketika -sengaja/tidak- kita melakukan kesalahan, janganlah kesalahan itu terlempar dari tangan kita ke orang lain.
Terakhir, jika kita memang salah, meminta maaflah. Demi kesopansantunan, paling tidak.
Teman-teman, maafkan saya telah menyeret kalian ke dalam dosa bergosip ini.
Teman dekatku yang sejak tadi kusebut-sebut, bersukacitalah senantiasa (1 Tesalonika 5: 16).